Tahesa, Idola Zulfi
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Formulasi dan Evaluasi Sediaan Face Wash Gel Ekstrak Kulit Buah Naga Rahmasari, Dyah; Nursolich, Della Oktani’matun; Avescina, Rafli Izzudin; Hidayati, Melinia Nur; Tahesa, Idola Zulfi; Nugraheni, Raditya Weka
Farmasains : Jurnal Ilmiah Ilmu Kefarmasian Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/farmasains.v10i2.11297

Abstract

Pembersih wajah merupakan salah satu sediaan yang digunakan untuk membersihkan sel kulit mati, kotoran, minyak, dan sisa kosmetik. Kulit buah naga (Hylocereus polyrhizus) mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan dan antibakteri. Bahan ini dapat digunakan sebagai bahan aktif untuk pembersih wajah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi ekstrak buah naga yang diformulasikan dalam gel pembersih wajah terhadap karakteristik, aktivitas antioksidan, dan efektivitas antibakteri pembersih wajah ekstrak kulit buah naga. Gel pembersih wajah ekstrak kulit buah naga diformulasikan dengan tiga konsentrasi ekstrak etanol yang berbeda (1%, 3%, dan 5%), dikarakterisasi sifat fisikokimianya (organoleptik, viskositas, nilai pH, daya sebar, homogenitas, daya berbusa), diukur aktivitas antioksidannya (menggunakan metode DPPH) dan efektivitas antibakterinya (menggunakan metode difusi sumuran), kemudian diamati daya iritasinya (menggunakan metode HET-CAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga formula memiliki karakteristik yang baik. Formula 3 (ekstrak kulit buah naga 5%) merupakan formula terbaik karena memiliki zona diameter hambat terhadap Propionibacterium acnes (3,80 ± 0,07 mm) dan persentase hambatnya terhadap DPPH (72,83 ± 0,36 %). Ketiga formula tersebut juga tidak memiliki efek iritasi pada Chorioallantoic Membrane (CAM) (skor iritasi 0). Ekstrak kulit buah naga dapat dikembangkan menjadi sediaan gel pembersih wajah dengan efektifitas yang baik terutama pada konsentrasi 5%.
PENGARUH WAKTU DAN TEKNIK PENGGERUSAN TERHADAP SIFAT FISIKA SERBUK PUYER CAMPURAN AMBROXOL HCl, PSEUDOEFEDRIN HCl, DAN TRIPROLIDIN HCl Tahesa, Idola Zulfi; Yuliani, Sri Hartati
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 9, No 2 (2025): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/cjp.v9i2.368

Abstract

Penggunaan obat racikan dalam bentuk puyer semakin meluas di kalangan praktisi kesehatan, terutama dalam penanganan pasien pediatrik yang mengalami kesulitan dalam mengonsumsi sediaan padat. Fenomena ini muncul sebagai solusi atas kendala keterbatasan dosis pediatrik yang beredar di pasaran. Kombinasi bahan aktif Ambroxol HCl dan Trifed (Pseudoefedrin HCl dan Triprolidin HCl) merupakan salah satu resep yang umum diresepkan untuk mengatasi gangguan saluran pernapasan pada anak-anak. Penelitian ini mengkaji perbandingan metode penggerusan menggunakan dua alat yang berbeda, yaitu mortir-stamper konvensional dan blender, dengan variasi waktu penggerusan 1 menit, 3 menit, dan 5 menit. Evaluasi dilakukan melalui serangkaian pengujian komprehensif meliputi uji organoleptis, uji kelembaban, dan analisis karakteristik partikel menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) untuk menilai kualitas sediaan yang dihasilkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua metode penggerusan menghasilkan serbuk dengan karakteristik organoleptis yang serupa, yakni berwarna putih, tidak berbau tengik, dan memiliki tekstur yang halus. Namun, terdapat perbedaan signifikan dalam ukuran partikel yang dihasilkan. Penggerusan menggunakan blender menghasilkan ukuran partikel yang lebih kecil, pada durasi 1 menit, 3 menit dan 5 menit secara berurutan mendapati ukuran partikel terkecil 48,7 µm, 45,8 µm, dan 35,6 µm. Sedangkan, penggerusan dengan mortir-stamper selama 1 menit, 3 menit, dan 5 menit adalah 67 µm, 56,8 µm, dan 38 µm. Penelitian ini mengungkapkan bahwa durasi penggerusan berbanding terbalik dengan ukuran partikel yang dihasilkan. Semakin lama waktu penggerusan, semakin kecil ukuran partikel yang terbentuk. Namun, perlu diperhatikan bahwa pengurangan ukuran partikel mengakibatkan peningkatan luas permukaan spesifik, yang berkorelasi dengan peningkatan nilai kelembaban sediaan. Temuan ini memiliki implikasi penting dalam formulasi dan penyimpanan sediaan puyer, mengingat kelembaban dapat mempengaruhi stabilitas dan masa simpan produk.