Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

MENTORING KEPADA ANAK-ANAK SEKOLAH MINGGU DAN KATEKUMEN HKBP SOLAGRATIA BINJAI Simanjuntak, Joksan; Doloksaribu, Morhan; Tambun, Roy Haries Ifraldo; Sagala, Evans
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 5 (2024): Vol. 5 No. 5 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i5.35086

Abstract

Pembahasan ini menyoroti upaya gereja dalam memperdalam pemahaman agama dan iman pada generasi muda serta kepada anak-anak Sekolah Minggu. HKBP Solagratia Binjai menghadapi tantangan dalam memastikan bahwa anak-anak Sekolah Minggu dan katekumen memahami dan menginternalisasi nilai-nilai keagamaan yang mendasar, yakni melalui bimbingan dan dukungan Gereja kepada mereka. Sebagai generasi yang akan menghadapi tantangan zaman selanjutnya, perlu adanya persiapan iman sejak dini. Dalam menghadapi masalah yang demikian, maka program mentoring dipilih sebagai pendekatan yang efektif untuk memberikan bimbingan secara kolektif agar para katekumen dan anak Sekolah Minggu dapat memahami ajaran agama mereka dan dapat mendalami hubungan mereka dengan Tuhan. Tujuan utama dari program mentoring ini adalah untuk membantu anak-anak Sekolah Minggu dan katekumen memperdalam pemahaman mereka tentang iman Kristen, meningkatkan hubungan pribadi mereka dengan Tuhan, dan mengembangkan sikap yang menghormati dan tunduk kepada-Nya. Sikap seperti itu akan tumbuh dengan mudah jika diawali sejak dini. Dengan demikian, akan terciptanya generasi muda yang kokoh dalam iman mereka dan siap menghadapi kehidupan sehari-hari dengan dasar iman yang kuat.
PEMBINAAN KARAKTER REMAJA HKBP SIBORONG-BORONG MELALUI PEMAHAMAN TENTANG FIRMAN TUHAN Simanjuntak, Joksan; Simanjuntak, Pahala Jannen; Tambun, Roy Haries Ifraldo; Simatupang, Eriko
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 5 (2024): Vol. 5 No. 5 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i5.35087

Abstract

Perkembangan teknologi dan globalisasi yang pesat telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan remaja di HKBP Siborong-Borong, memunculkan krisis identitas, penurunan moral, serta kurangnya pemahaman spiritual. Meskipun tumbuh di lingkungan gereja, banyak remaja yang belum memiliki pemahaman kuat tentang Firman Tuhan dan sering terpengaruh oleh media sosial yang bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani. Kesenjangan generasi antara remaja, orang tua, dan pemimpin gereja serta kurangnya keterlibatan dalam kegiatan gereja semakin memperparah situasi ini. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dirancang untuk membina karakter remaja melalui pendalaman pemahaman Firman Tuhan, pengembangan karakter berdasarkan nilai Kristiani, serta peningkatan keterlibatan dalam gereja dan masyarakat. Pembinaan karakter yang berlandaskan pada pemahaman Firman Tuhan ini diharapkan dapat menjadi solusi efektif dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan spiritual yang kokoh. Dengan pendekatan interaktif dan kontekstual, program ini bertujuan membentuk remaja yang berkarakter kuat, memiliki integritas moral dan spiritual, serta mampu memberikan dampak positif bagi lingkungannya.
PEMBINAAN KARAKTER REMAJA PERSISTEN (PERSEKUTUAN SISWA/I KRISTEN) SMA NEGRI 4 PEMATANGSIANTAR Raulina, Raulina; Sianipar, Efran Mangatas; Tambun, Roy Haries Ifraldo
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 5 (2024): Vol. 5 No. 5 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i5.35745

Abstract

Penelitian ini membahas pentingnya tanggung jawab pribadi dalam mencapai kesuksesan individu dan kemajuan sosial. Tanggung jawab didefinisikan sebagai kesediaan untuk mengakui konsekuensi dari tindakan dan komitmen untuk melaksanakan kewajiban secara optimal. Penelitian ini mengadopsi pendekatan mixed-method, menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif, untuk mengeksplorasi dimensi tanggung jawab serta dampaknya terhadap kesuksesan. Hasil menunjukkan bahwa individu dengan tingkat tanggung jawab yang tinggi cenderung lebih gigih, inovatif, dan memiliki hubungan yang lebih baik di tempat kerja. Selain itu, tanggung jawab sosial berkontribusi pada kohesi komunitas dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini juga mengidentifikasi tantangan dalam mengembangkan rasa tanggung jawab, termasuk budaya instan dan pengaruh media sosial. Kesimpulan menekankan bahwa meningkatkan rasa tanggung jawab tidak hanya bermanfaat bagi individu tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan, sehingga mendorong pembentukan lingkungan yang lebih bertanggung jawab dan sukses.
PEMBINAAN KARAKTER REMAJA PERSISTEN (PERSEKUTUAN SISWA/I KRISTEN) SMA NEGRI 4 PEMATANGSIANTAR Raulina, Raulina; Sianipar, Efran Mangatas; Tambun, Roy Haries Ifraldo
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 5 (2024): Vol. 5 No. 5 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i5.35745

Abstract

Penelitian ini membahas pentingnya tanggung jawab pribadi dalam mencapai kesuksesan individu dan kemajuan sosial. Tanggung jawab didefinisikan sebagai kesediaan untuk mengakui konsekuensi dari tindakan dan komitmen untuk melaksanakan kewajiban secara optimal. Penelitian ini mengadopsi pendekatan mixed-method, menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif, untuk mengeksplorasi dimensi tanggung jawab serta dampaknya terhadap kesuksesan. Hasil menunjukkan bahwa individu dengan tingkat tanggung jawab yang tinggi cenderung lebih gigih, inovatif, dan memiliki hubungan yang lebih baik di tempat kerja. Selain itu, tanggung jawab sosial berkontribusi pada kohesi komunitas dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini juga mengidentifikasi tantangan dalam mengembangkan rasa tanggung jawab, termasuk budaya instan dan pengaruh media sosial. Kesimpulan menekankan bahwa meningkatkan rasa tanggung jawab tidak hanya bermanfaat bagi individu tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan, sehingga mendorong pembentukan lingkungan yang lebih bertanggung jawab dan sukses.
Menciptakan Equilibrium: Harmonisasi Kekuasaan Konstruktif Vs Otoritarianisme Politik dalam Etika Kristen Tambun, Roy Haries Ifraldo
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan Vol. 17 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : STT BNKP Sundermann

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36588/sundermann.v17i2.173

Abstract

Kekuasaan Konstruktif dan otoritarianisme politik di Indonesia memiliki hubungan yang erat dan signifikan, menciptakan fenomena yang meresahkan dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor penyebab dan dampak penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi dalam konteks politik Indonesia. Melalui metodologi penelitian kualitatif, berbagai sumber literatur dianalisis untuk memahami dampak negatif dari kekuasaan yang tidak terkendali, termasuk munculnya praktik korupsi, kolusi, serta lemahnya penegakan hukum. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi kuat antara penyalahgunaan kekuasaan dengan ketidakadilan sosial dan erosi kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan. Penelitian ini merekomendasikan perlunya reformulasi kebijakan yang lebih efektif dan penerapan etika Kristen dalam praktik politik. Dengan mengedepankan prinsip-prinsip etika, diharapkan kekuasaan dapat digunakan untuk melayani masyarakat secara adil, menciptakan lingkungan kondusif bagi pembangunan berkelanjutan, serta memberikan wawasan baru bagi pembuat kebijakan dalam menangani masalah otoritarianisme dan penyalahgunaan kekuasaan di Indonesia.
The Holistic Clinical Pastoral Education (CPE) Approach as a Strategy for Addressing Minority Complex Among Single Mothers Tambun, Roy Haries Ifraldo
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini mengeksplorasi penggunaan pendekatan holistik melalui Pendidikan Pastoral Klinis (PPK) sebagai strategi pemulihan dari kompleks minoritas di kalangan ibu tunggal di Indonesia kontemporer. Kompleks minoritas pada ibu tunggal dicirikan oleh stigma sosial, diskriminasi, harga diri rendah, dan krisis identitas yang berdampak pada kesejahteraan psikologis dan spiritual mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka dan analisis tematik literatur terkait PPK, psikologi sosial, dan isu-isu seputar ibu tunggal. Temuan menunjukkan bahwa PPK, dengan metode refleksi-tindakannya, secara efektif mengintegrasikan dimensi spiritual, psikologis, sosial, dan eksistensial dalam proses pemulihan. Mekanisme transformasi dalam PPK meliputi eksplorasi luka emosional, rekonstruksi identitas positif, penemuan makna hidup baru, dan pembangunan ketahanan psikologis-spiritual. Pendekatan ini tidak hanya mengatasi gejala psikologis tetapi juga memberdayakan ibu tunggal melalui pendampingan spiritual dan komunitas yang suportif. Implikasi studi ini menunjukkan bahwa model intervensi berbasis PPK dapat diterapkan oleh lembaga pastoral, konseling, dan sosial untuk mendukung pemberdayaan holistik ibu tunggal, sekaligus mendorong perubahan sosial yang lebih inklusif.
Holistic Recovery: Integration of Emotional, Social, and Spiritual Support Extended Family for Parentless Children at HKBP Pardamean Tambun, Roy Haries Ifraldo
Jurnal Koinonia: Fakultas Filsafat Universitas Advent Indonesia Vol 17 No 2 (2025): July-December
Publisher : Fakultas Filsafat Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35974/an38re83

Abstract

Parentless is a condition of parental absence that significantly impacts children's emotional, social, and spiritual development. Data shows 20.9% of children in Indonesia live without father presence, with 408,347 divorce cases in 2024. This study aims to describe the impact of parentless conditions and explore the role of extended family as a holistic recovery strategy for parentless children at HKBP Pardamean. A qualitative method with descriptive approach was employed through literature study and interviews with 6 parentless children. Research findings indicate that parentless conditions cause prolonged trauma, emotional regulation difficulties, excessive anxiety, social interaction problems, societal stigma, and spiritual identity crisis. Extended family proved to provide support in four dimensions: emotional-psychological, parental figure substitution, financial-material, and social status recovery. All respondents confirmed receiving comprehensive support from their extended family. Extended family plays a vital role as an effective alternative support system addressing parentless impacts. This integration model successfully helps children recover from trauma and remain connected to social-spiritual values, providing practical contributions to alternative parenting strategies within Indonesian cultural context.
Dibenarkan oleh Iman, Bukan Perbuatan: Refleksi Pembenaran Menurut Roma 3:21-31 Tambun, Roy Haries Ifraldo
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/7mj5e053

Abstract

In theological studies of Christianity, the doctrine of justification is a fundamental topic that requires comprehensive discussion. Thoroughly, Romans 3:21-31 explains that justification originates from the righteousness of God, not from human works. In the contemporary era, issues regarding truth claims have become increasingly prevalent, leading to attitudes of superiority between individuals. Therefore, this study aims to analyze Romans 3:21-31 to explain that human justification is derived from the righteousness of God, not from human deeds, thus eliminating any basis for humans to elevate their own sense of superiority. The method used in this research is biblical exegesis, involving an in-depth analysis of both the textual and historical contexts of Romans 3:21-31. The study’s findings show that justification is an act of God who justifies humans through faith in Jesus Christ, not through works of the law. Faith is understood as both an existential response and a gift from God that enables humans to receive justification. In conclusion, salvation is solely the initiative and work of God, received with humility through faith as His gift.     Dalam kajian teologis kekristenan, doktrin pembenaran menjadi sebuah bagian yang fundamental untuk dibahas secara komprehensif. Secara komprehensif, Roma 3:21-31  menjelaskan pembenaran bersumber dari kebenaran Allah bukan perbuatan manusia. Dalam era kontemporer isu truth claim semakin banyak terjadi yang menimbulkan paham superior antara dirinya dengan orang lain. Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Roma 3:21-31 untuk menjelaskan bahwa pembenaran manusia bersumber dari kebenaran Allah, bukan dari perbuatan manusia sehingga tidak ada alasan untuk manusia dapat meninggikan superioritas dirinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tafsir Biblis dengan menganalisis konteks teks maupun konteks historis Roma 3:21-31. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembenaran adalah tindakan Allah yang membenarkan manusia melalui iman dalam Yesus Kristus, bukan melalui perbuatan hukum Taurat. Iman dipahami sebagai respons eksistensial dan anugerah Allah, yang memampukan manusia untuk menerima pembenaran. Kesimpulannya, keselamatan adalah inisiatif dan karya Allah semata, yang diterima dengan kerendahan hati melalui iman sebagai anugerah-Nya.
Maria Pasca Kematian Yusuf dan Tanggung Jawab Filial Yesus: Analisis Naratif Yohanes 19:25-27 Roy Haries Ifraldo Tambun
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/agy9gt67

Abstract

This study examines John 19:25–27 as a manifestation of Jesus' filial responsibility toward Mary who was a widow after Joseph's death. Through a narrative analysis of the four Gospels, this study shows that Mary was most likely a widow before Jesus began His public ministry. This conclusion is supported by six cumulative biblical indicators: the disappearance of the figure of Joseph from the Gospel narrative after Luke 2, the mention of Jesus as the "son of Mary" in Mark 6:3 which is unusual in Jewish patriarchal culture, the beginning of Jesus' ministry at the age of about thirty, Joseph's absence from the Canaanite wedding and throughout Jesus' ministry, Joseph's absence in the trial and crucifixion narratives,  and Jesus' actions on the cross entrusting Mary to her beloved disciples. The expressions "Mother, this is your son" and "This is your mother" are understood not to be mere practical arrangements, but to relational declarations that form new filial bonds and affirm the concept of the spiritual family. This research enriches the biblical understanding of widowhood in the context of first-century Judaism and provides a theological basis for the development of a sensitive, inclusive, and communal-oriented pastoral ministry of the church toward widows. Keywords: churches and widows; Joseph's death; Mary as widow; Jesus and Mary; John 19:25-27 Abstrak Penelitian ini mengkaji Yohanes 19:25–27 sebagai manifestasi tanggung jawab filial Yesus terhadap Maria yang berstatus janda setelah kematian Yusuf. Melalui analisis naratif terhadap keempat Injil, studi ini menunjukkan bahwa Maria kemungkinan besar telah menjadi janda sebelum Yesus memulai pelayanan publik-Nya. Kesimpulan ini didukung oleh enam indikator alkitabiah yang bersifat kumulatif: hilangnya figur Yusuf dari narasi Injil setelah Lukas 2, penyebutan Yesus sebagai “anak Maria” dalam Markus 6:3 yang tidak lazim dalam budaya patriarkal Yahudi, dimulainya pelayanan Yesus pada usia sekitar tiga puluh tahun, ketidakhadiran Yusuf dalam peristiwa pernikahan Kana dan sepanjang pelayanan Yesus, ketiadaan Yusuf dalam narasi pengadilan dan penyaliban, serta tindakan Yesus di kayu salib yang mempercayakan Maria kepada murid yang dikasihi. Ungkapan “Ibu, inilah anakmu” dan “Inilah ibumu” dipahami bukan sekadar pengaturan praktis, melainkan deklarasi relasional yang membentuk ikatan filial baru dan menegaskan konsep keluarga rohani. Penelitian ini memperkaya pemahaman biblika mengenai status janda dalam konteks Yahudi abad pertama dan menyediakan dasar teologis bagi pengembangan pelayanan pastoral gereja yang sensitif, inklusif, dan berorientasi pada tanggung jawab komunal terhadap para janda. Kata Kunci: gereja dan janda; kematian Yusuf; Maria sebagai janda; Yesus dan Maria; Yohanes 19:25-27