Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

The Harmony of Culture and Religion in the Mithonian Tradition: A Study of the Perspective of Nahdlatul Ulama' Bangil, Pasuruan Baroroh, Nurdhin; Sabila, Ahmad Ahda
Media Syari'ah : Wahana Kajian Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Sharia and Law Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jms.v26i1.19729

Abstract

Mitoni merupakan satu tradisi yang sudah berjalan turun temurun sehingga menjadi sebuah adat istiadat yang dilakukan ketika kehamilan mencapai usia ketujuh. Kata mitoni tidak saja berarti pitu yang berarti tujuh akan tetapi juga bisa bermakna pitulungan atau pertolongan, maksudnya adalah tradisi ini tidak hanya sebagai tradisi ketika usia kehamilan mencapai tujuh bulan, akan tetapi juga suatu wujud permohonan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar bayi yang dikandung beserta ibunya senantiasa sehat sampai dengan kelahiran. Mengingat keberadaan mitoni sebagai sebuah budaya yang berada dalam tatanan masyarakat, para tokoh Nahdlatul Ulama’ di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan memiliki cara pandang tersendiri ketika menyikapi adat istiadat ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan dialektika Qur’an dengan budaya lokal dan metode ijtihad ‘Urf. Digunakannya pendekatan dialektika Qur’an dengan budaya dikarekan fokus penelitian ini adalah budaya dalam sebuah masyarakat beragama, yaitu Islam. Sedangkan digunakannya ‘Urf adalah untuk memetakan hukum pelaksanaan tradisi tersebut. Dari serangkaian pendapat para tokoh dan pendekatan yang digunakan memiliki kesimpulan bahwasanya tradisi ini meskipun tidak tertera dalam teks suci agama, akan tetapi memiliki nilai kearifan lokal dan nilai keagamaan yang kemudian bisa dilestarikan, seperti permohonan pertolongan, do’a, silaturrahmi dan sedekah.
Hermeneutika Hadis Sebagai Solusi Penyelesaian Hadis Mukhtalif tentang Larangan Wanita Ziarah Kubur: 1. Introduction, 2. Literature Review, 3. Research Methods, 4. Results and Discussion of the Application of Hadith Hermeneutics to the Mukhtalif Hadith concerning Grave Pilgrimages for Women, 5. Conclusions and Suggestions Sabila, Ahmad Ahda; Saputra, Gusti Rian
MAQASID Vol 13 No 1 (2024): Dinamika Hukum Keluarga
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/mqs.v13i1.22687

Abstract

Abstract: Textual interpretation of hadith still dominates. As time progresses, interpretation uses patterns of contextualization of hadith as a response to the lack of hadith texts and limited textual meaning of hadith. So it is considered no longer relevant to the times. According to commentators, contextualization of hadith using a hermeneutical approach can be an alternative to enrich the interpretation of hadith, especially the mukhtalif hadith regarding the prohibition of women visiting graves. This research uses library research methods, with primary data sources from books and journals on the topic of hermeneutics. Meanwhile, secondary data comes from books and journals with the theme of the hadith prohibiting women from visiting graves. The data was analyzed using descriptive analytical methods to find the concept of hermeneutics in understanding the hadith which were considered contradictory. The research results show that the core message (significance/magzā) underlying the basic hadith text is that it is sunnah to visit graves for men or women because it reminds them of death and can always be developed in practice so that it can give rise to other problems for human life. Meanwhile, the core message (significance/magzā) that is not true, such as the prohibition on grave pilgrimages for both men and women because it causes mafsadah/'illat law (forgetting obligations as a husband/father, or as a wife/mother) when done frequently, should be done as much as possible. not practiced in order to prevent humans from things that can cause mafsadah and imbalance in their lives. Keywords: Hermeneutic, Mukhtalif Hadith, and Women Pilgrimage to the Grave.
The Harmony of Culture and Religion in the Mithonian Tradition: A Study of the Perspective of Nahdlatul Ulama' Bangil, Pasuruan Baroroh, Nurdhin; Sabila, Ahmad Ahda
Media Syari'ah Vol 26 No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jms.v26i1.19729

Abstract

Mitoni merupakan satu tradisi yang sudah berjalan turun temurun sehingga menjadi sebuah adat istiadat yang dilakukan ketika kehamilan mencapai usia ketujuh. Kata mitoni tidak saja berarti pitu yang berarti tujuh akan tetapi juga bisa bermakna pitulungan atau pertolongan, maksudnya adalah tradisi ini tidak hanya sebagai tradisi ketika usia kehamilan mencapai tujuh bulan, akan tetapi juga suatu wujud permohonan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar bayi yang dikandung beserta ibunya senantiasa sehat sampai dengan kelahiran. Mengingat keberadaan mitoni sebagai sebuah budaya yang berada dalam tatanan masyarakat, para tokoh Nahdlatul Ulama’ di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan memiliki cara pandang tersendiri ketika menyikapi adat istiadat ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan dialektika Qur’an dengan budaya lokal dan metode ijtihad ‘Urf. Digunakannya pendekatan dialektika Qur’an dengan budaya dikarekan fokus penelitian ini adalah budaya dalam sebuah masyarakat beragama, yaitu Islam. Sedangkan digunakannya ‘Urf adalah untuk memetakan hukum pelaksanaan tradisi tersebut. Dari serangkaian pendapat para tokoh dan pendekatan yang digunakan memiliki kesimpulan bahwasanya tradisi ini meskipun tidak tertera dalam teks suci agama, akan tetapi memiliki nilai kearifan lokal dan nilai keagamaan yang kemudian bisa dilestarikan, seperti permohonan pertolongan, do’a, silaturrahmi dan sedekah.
Hermeneutika Hadis Sebagai Solusi Penyelesaian Hadis Mukhtalif tentang Larangan Wanita Ziarah Kubur: 1. Introduction, 2. Literature Review, 3. Research Methods, 4. Results and Discussion of the Application of Hadith Hermeneutics to the Mukhtalif Hadith concerning Grave Pilgrimages for Women, 5. Conclusions and Suggestions Sabila, Ahmad Ahda; Saputra, Gusti Rian
Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 13 No. 1 (2024): Dinamika Hukum Keluarga
Publisher : Muhammadiyah University of Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/mqs.v13i1.22687

Abstract

Abstract: Textual interpretation of hadith still dominates. As time progresses, interpretation uses patterns of contextualization of hadith as a response to the lack of hadith texts and limited textual meaning of hadith. So it is considered no longer relevant to the times. According to commentators, contextualization of hadith using a hermeneutical approach can be an alternative to enrich the interpretation of hadith, especially the mukhtalif hadith regarding the prohibition of women visiting graves. This research uses library research methods, with primary data sources from books and journals on the topic of hermeneutics. Meanwhile, secondary data comes from books and journals with the theme of the hadith prohibiting women from visiting graves. The data was analyzed using descriptive analytical methods to find the concept of hermeneutics in understanding the hadith which were considered contradictory. The research results show that the core message (significance/magzā) underlying the basic hadith text is that it is sunnah to visit graves for men or women because it reminds them of death and can always be developed in practice so that it can give rise to other problems for human life. Meanwhile, the core message (significance/magzā) that is not true, such as the prohibition on grave pilgrimages for both men and women because it causes mafsadah/'illat law (forgetting obligations as a husband/father, or as a wife/mother) when done frequently, should be done as much as possible. not practiced in order to prevent humans from things that can cause mafsadah and imbalance in their lives. Keywords: Hermeneutic, Mukhtalif Hadith, and Women Pilgrimage to the Grave.