Ayu Kurniati
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KEJADIAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) SIFILIS PADA IBU MASA PERINATAL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SULI Marwa Hasan Kadatua; Ayu Kurniati; Melawati Wakano; Wildia Nanlohy; Rati Drakel
Jurnal Ilmu Kebidanan dan Kesehatan (Journal of Midwifery Science and Health) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Ilmu Kebidanan dan Kesehatan (Journal of Midwifery Science and Health)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bakti Utama Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52299/jks.v15i2.309

Abstract

Penyakit sipilis merupakan penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh Treponema Pallidum yang bersifat sistemik dan kronis sehingga menyerang seluruh organ tubuh. Setiap ibu pada masa perinatal akan menghadapi risiko komplikasi yang dapat mengancam nyawanya. Temuan kasus pada tahun 2023 di Puskesmas Suli sebanyak 193 ibu pada masa perinatal dan ditemukan 3 kasus positif sifilis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kejadian Infeksi Menular Seksual (IMS) sifilis pada ibu masa perinatal di wilayah kerja Puskesmas Suli. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Pada penelitian ini terdapat 3 orang ibu perinatal dengan hasil pemeriksaan sifilis reaktif dan 1 orang informan kunci. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi yaitu observasi, wawancara, dokumentasi. Alat pengumpulan data meliputi rekaman, alat tulis, kamera dan panduan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) sifilis disebabkan oleh faktor pengetahuan yang cukup rendah dan juga kebiasaan suami yang tidak setia kepada istrinya dan suka melakukan aktivitas yang beresiko, yaitu memicu penularan infeksi menular seksual sifilis. Kesimpulan Faktor pengetahuan yang cukup rendah dan juga kebiasaan suami yang tidak setia kepada istrinya serta suka melakukan aktivitas yang beresiko dapat menjadi pemicunya
Pola Ideal Ibu Menyusui Saat Ramadan Farika Riyanti; Ayu Kurniati
Jurnal Lantera Ilmiah Keperawatan Vol. 3 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : CV. Q2 LANTERA ILMIAH INSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52120/ycjh7130

Abstract

Ramadan merupakan periode ibadah yang mendorong banyak ibu menyusui untuk tetap berpuasa, meskipun berada dalam fase laktasi yang memerlukan perhatian khusus terhadap kecukupan nutrisi dan hidrasi. Kekhawatiran utama yang sering muncul adalah potensi penurunan produksi dan kualitas ASI serta dampaknya terhadap kesehatan bayi. Artikel ini bertujuan menyusun pola ideal ibu menyusui saat Ramadan berdasarkan sintesis literatur ilmiah terkini agar puasa dapat dijalankan secara aman tanpa mengorbankan kesehatan ibu dan bayi. Penulisan menggunakan pendekatan narrative literature review dengan sumber data berupa artikel penelitian primer, systematic review, meta-analisis, serta pedoman organisasi kesehatan yang diperoleh melalui basis data internasional. Analisis dilakukan secara tematik mencakup aspek fisiologi laktasi, dampak puasa terhadap komposisi ASI, kebutuhan nutrisi dan cairan, indikator kecukupan asupan bayi, serta kondisi yang memerlukan penghentian puasa. Hasil sintesis menunjukkan bahwa pada ibu menyusui sehat, puasa jangka pendek umumnya tidak mengubah komposisi makronutrien ASI secara bermakna, selama kebutuhan nutrisi dan hidrasi terpenuhi dalam rentang waktu berbuka hingga sahur. Produksi ASI tetap terutama dipengaruhi oleh mekanisme supply–demand melalui frekuensi dan efektivitas pengosongan payudara. Pola ideal meliputi pengaturan makan tiga fase (sahur–berbuka–malam), konsumsi cairan bertahap, asupan gizi seimbang, serta pemantauan indikator kecukupan ASI seperti jumlah popok basah dan perilaku bayi setelah menyusu. Dapat disimpulkan bahwa puasa pada ibu menyusui dapat dilakukan secara aman dengan pendekatan individual, manajemen nutrisi yang tepat, serta monitoring kondisi bayi secara objektif. (El-Kurdy et al., 2025)