Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

fillm realita imaji Muhlisiun, Arda
Offscreen Vol 2, No 2 (2023): Offscreen: Journal Of Film and Television (July-December 2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/os.v2i2.4407

Abstract

In visual arts, particularly in film, the relationship between reality and imagination creates a complex relation. Film, as a medium that amalgamates visual techniques, special effects, and cinematic direction, possesses the power to construct a highly realistic world. This enables the audience to experience emotional engagement with visuals, characters, and the narrative. This research aims to address the question: how does film establish engagement between reality and imagination? The proposed hypothesis is that the cinematic power and its creative elements generate a convincing representation of the world for the audience's perception, blurring the boundaries between reality and fantasy. The research methodology employs a narrative transportation approach and refers to a range of literature to highlight the intricacies of reality in film, where the emotional and cognitive involvement of the audience is crucial for a profound cinematic experience. This study seeks to provide an understanding of how films create complex relationships between images and reality. In conclusion, films not only produce visual images but also shape alternative realities that influence the perception and even behavior of the audience. Therefore, critical discussion of the boundaries between reality and imagination in films is very important).
Penonton dan Televisi : Proses Memaknai dalam Kode Budaya dan Kapitalisme Muhlisiun, Arda
IMAJI Vol. 4 No. 2 (2012): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbicara tentang televisi, berarti membicarakan tentang program acara dan khalayak penonton. Disana terjadi proses pembermaknaan, yakni televisi sebagai pemberi makna dan penonton sebagai penerima makna. Proses itu terjadi dalam kode-kode yang dikirim (encode) dan diterima (decode), baik berupa hal yang berkaitan dengan teknis, ideologi, maupun asumsi terhadap calon penonton. Setiap kode yang dikirimkan pada penonton tidak serta merta dimaknai sesuai dengan maksud si pengirim kode -setiap proses encoding tidak pernah sarna dengan proses decoding. Justru yang terjadi adalah setiap penonton dengan bebas mengendalikan makna atas setiap kode yang diterimanya. Hal ini terjadi karena setiap penonton memiliki modal dalam menonton, yakni : tiga posisi hipotesis.
Representasi Sejarah Dalam Citra Visual: Antara Tantangan Akurasi dan Potensi Distorsi Muhlisiun, Arda
Journal of Art, Film, Television, Animation, Games and Technology Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Perkumpulan Program Studi Film dan Televisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film sejarah bukan hanya sekadar hiburan tentang kisah masa lampau, melainkan merupakan ruang representasi yang bisa memperlihatkan peran sentral dalam membentuk persepsi dan interpretasi terhadap peristiwa masa lalu. Artikel ini merinci pandangan terkemuka mengenai film dan sejarah dari Robert Rosenstone maupun Marnie Hughes-Warrington, yang menyoroti perlunya akurasi tinggi dalam pembuatan film sejarah. Namun, film sejarah akan dihadapkan pada kritik terkait munculnya distorsi atas representasi dan kepercayaan masyarakat yang lebih rendah dibandingkan dengan sumber sejarah tertulis. Penelitian ini memperlihatkan representasi sejarah dalam tiga film Indonesia: "Balibo Five" (2009), "Merdeka 17805" (2001), dan "The East" (De Oost) (2021). Metode kajian literatur dan teori sejarah dalam film digunakan untuk melakukan penelitian dan menggali pembahasan mengenai film sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film sejarah memiliki peran unik dalam menghadirkan masa lalu, dengan menentukan standarnya sendiri, baik secara estetik maupun sinematik. Dan hal ini selalu mendapat tantangan tersendiri, baik dari penulisan sejarah konvensional maupun subjek-subjek yang terlibat dalam lingkaran film sejarah tersebut.
Candu Drama Korea : Sinematik, Media Sosial dan Air Mata Muhlisiun, Arda
Journal of Art, Film, Television, Animation, Games and Technology Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Perkumpulan Program Studi Film dan Televisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi faktor-faktor yang berkontribusi pada popularitas global drama Korea (K-drama). Kualitas produksi yang tinggi, termasuk sinematografi yang memukau, penulisan naskah yang kuat, dan akting yang luar biasa, merupakan elemen kunci dalam daya tarik K-drama. Teknik sinematik seperti penggunaan angle kamera inovatif, properti artistik yang detail, dan efek visual canggih, memberikan pengalaman menonton yang mendalam. Selain itu, strategi pemasaran cerdas melalui media sosial dan platform digital, serta distribusi melalui layanan streaming, memungkinkan aksesibilitas yang luas. Dampak emosional dan psikologis dari menonton K-drama juga memainkan peran penting, meningkatkan empati dan keterhubungan sosial penonton. Namun, eksesifitas menonton dapat menimbulkan dampak negatif seperti kecanduan dan gangguan tidur. Temuan ini menawarkan wawasan berharga bagi industri hiburan global dalam meningkatkan kualitas produksi dan strategi pemasaran mereka.
Budaya Menonton Film: Teknologi Digital dan Katalisasi COVID-19 Menuju (Siklus) Layar Personal Muhlisiun, Arda
IMAJI Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v13i3.80

Abstract

Penelitian ini saya lakukan untuk melihat perkembangan film dan penonton film ketika wabah Covid-19 melanda dunia, di mana film juga ikut merasakan dampaknya. Berbagai cara dan upaya untuk menyelamatkan industri film ternyata telah merubah budaya menonton film. Jika ditarik jauh ke belakang (1890-an), dalam sejarah relasi film dan penonton, awal orang menonton film dilakukan secara personal (individual). Thomas Alfa Edison adalah pelopornya melalui alatnya bernama Kinetoskop. Kehadiran Lumiere Bersaudara telah mengubah konsep menonton film. Menonton film beralih pada konsep kolektif, massal, bahkan diberlakukan tiket berbayar. Dari sinilah kemudian kita mengenal bioskop sebagai ruang pemutaran film dalam skala massal. Munculnya wabah Covid-19 telah menggantikan peran bioskop dalam hal proyeksi film ke hadapan masyarakat luas. Meskipun banyak orang tetap berharap agar agar bioskop akan menemukan jalannya kembali, namun fenomena digital turut mempercepat era perfilman menuju dunianya yang baru: film streaming. Keadaan ini akhirnya menciptakan sebuah fenomena berupa siklus kepenontonan, bahwa cara orang menonton film di masa depan akan semakin personal (kembali) -seperti halnya yang terjadi pada era di mana Thomas Alfa Edison pertama kali memperkenalkan film pada masyarakat.
Jejak Film Dalam Langkah Televisi Muhlisiun, Arda
IMAJI No. 3 (2007): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika sejatinya sebuah tayangan film harus disaksikan oleh masyarakat penonton melalui berbagai upaya menuju ke sebuah gedung bioskop, melihat judul film, menentukan film, mengantri, membeli tiket dan sebagainya ; atau media cetak (majalah, surat kabar dll) yang dapat dinikmati lebih sebagai informasi yang sifatnya aktual (terikat oleh waktu) yang di hari-hari selanjutnya informasi tersebut seakan menjadi tak berarti; atau untuk mendengarkan radio dibutuhkan sebuah konsentrasi dalam menciptakan imaji (karena hanya mengandalkan potensi suara saja tentunyal), maka televisi lahir sebagai media yang sanggup menyediakan segala kebutuhan penonton terhadap berbagai teks dan sub teks dari media massa lainnya.