Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERAN KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI (KPHP) UNIT VI GORONTALO TERHADAP PENDAPATAN PENGRAJIN GULA SEMUT (Kelompok Tani Hutan Huyula Desa Dulamayo Selatan Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo) Novriyal, Feri
Agroprimatech Vol. 6 No. 1 (2022): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/agroprimatech.v5i2.2632

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan dan faktor – faktor yang mempengaruhi pendapatan pengrajin gula semut di Kelompok Tani Hutan (KTH) Huyula serta menganalisis peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Unit VI Gorontalo terhadap pendapatan pengrajin gula semut KTH Huyula Desa Dulamayo Selatan Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa KTH Huyula merupakan satu – satunya produsen gula semut dari Provinsi Gorontalo yang telah melakukan ekspor produknya ke luar negeri. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2020 sampai Januari 2021. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi kasus dengan jumlah informan sebanyak 25 orang anggota KTH Huyula. Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara, observasi dan studi pustaka. Data dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda dengan variabel independen antara lain penggunaan tenaga kerja (X1), jumlah produksi (X2) dan harga (X3) terhadap variabel dependen yaitu pendapatan (Y). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan rata – rata pengrajin gula semut di KTH Huyula yang melakukan pengolahan nira aren menjadi gula semut yaitu sebesar Rp 1.095.292,-/produksi, pengrajin yang melakukan pengolahan nira aren menjadi bahan setengah jadi (dalam bentuk karamel) yaitu sebesar Rp 136.033,-/produksi. Faktor – faktor yang paling berpengaruh terhadap pendapatan pengrajin gula semut di KTH Huyula yaitu jumlah produksi dan harga produk dengan nilai koefisien jumlah produksi sebesar 6916,898 dan harga produk sebesar 3,590. Hasil analysis skala likert terkait peran kelembagaan KPHP Unit VI Gorontalo dalam mengelola dan melakukan pendampingan terhadap pengarjin gula semut KTH Huyula yaitu sangat baik.
Pemanfaatan Data Raster Dalam Menentukan Perubahan Penutupan Lahan Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Biyonga Kabupaten Gorontalo Novriyal, Feri; Rosalia, Nurma; Botutihe, Nur Meyla Ulfiana; Dunggio, Iswan; Lihawa, Fitryane; Mosi, Yetty
JURNAL SAINS TEKNOLOGI & LINGKUNGAN Vol. 10 No. 2 (2024): JURNAL SAINS TEKNOLOGI & LINGKUNGAN
Publisher : LPPM Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jstl.v10i2.615

Abstract

This study aims to analyze changes in land cover over a specific period, focusing on the influencing factors and their impacts on the Biyonga Sub-Watershed ecosystem. The method used in this research is a combination of descriptive research method with spatial analysis interpretation approach and field survey. The research findings indicate that spatial analysis of land cover in the Biyonga Sub-Watershed revealed nine land cover classes, such as forest, shrubland, settlements, and agriculture. Land use change patterns were evaluated by overlaying land cover maps from 1990 to 2020. Significant changes in land cover occurred between 1990 and 2000, where secondary dryland forest cover changed to shrubland covering an area of 2,299.98 hectares. For the period 2000-2011, it was found that there was a loss of primary forest cover totaling 2097.27 hectares, which transitioned into secondary dry land forest and shrubland. Other changes included paddy fields transitioning into settlements and dry land agriculture, and dry land agriculture transitioning into settlements. From 2011 to 2020, there was an increase in the area of secondary forest cover and transitions from shrubland and dry land agriculture to secondary forest as well as mixed dry land agriculture.
PERAN KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI (KPHP) UNIT VI GORONTALO TERHADAP PENDAPATAN PENGRAJIN GULA SEMUT (Kelompok Tani Hutan Huyula Desa Dulamayo Selatan Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo) Novriyal, Feri
Agroprimatech Vol. 6 No. 1 (2022): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/agroprimatech.v5i2.2632

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan dan faktor – faktor yang mempengaruhi pendapatan pengrajin gula semut di Kelompok Tani Hutan (KTH) Huyula serta menganalisis peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Unit VI Gorontalo terhadap pendapatan pengrajin gula semut KTH Huyula Desa Dulamayo Selatan Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa KTH Huyula merupakan satu – satunya produsen gula semut dari Provinsi Gorontalo yang telah melakukan ekspor produknya ke luar negeri. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2020 sampai Januari 2021. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi kasus dengan jumlah informan sebanyak 25 orang anggota KTH Huyula. Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara, observasi dan studi pustaka. Data dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda dengan variabel independen antara lain penggunaan tenaga kerja (X1), jumlah produksi (X2) dan harga (X3) terhadap variabel dependen yaitu pendapatan (Y). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan rata – rata pengrajin gula semut di KTH Huyula yang melakukan pengolahan nira aren menjadi gula semut yaitu sebesar Rp 1.095.292,-/produksi, pengrajin yang melakukan pengolahan nira aren menjadi bahan setengah jadi (dalam bentuk karamel) yaitu sebesar Rp 136.033,-/produksi. Faktor – faktor yang paling berpengaruh terhadap pendapatan pengrajin gula semut di KTH Huyula yaitu jumlah produksi dan harga produk dengan nilai koefisien jumlah produksi sebesar 6916,898 dan harga produk sebesar 3,590. Hasil analysis skala likert terkait peran kelembagaan KPHP Unit VI Gorontalo dalam mengelola dan melakukan pendampingan terhadap pengarjin gula semut KTH Huyula yaitu sangat baik.
DIVERSITAS DAN DISTRIBUSI SPASIAL TUTUPAN LAHAN SUB DAS BIYONGA,DAS LIMBOTO TAHUN 2009-2024 PROVINSI GORONTALO Moko, Sulastri Putri; Baderan, Dewi Wahyuni K.; Zakaria, Zuliyanto; Hamidun, Marini Susanti; Novriyal, Feri
Jurnal Hutan Tropis Vol 13, No 4 (2025): Jurnal Hutan Tropis Volume 13 Nomer 4 Edisi Desember 2025
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v13i4.24774

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis diversitas dan distribusi spasial tutupan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto, khususnya Sub DAS Biyonga, pada rentang waktu 2009–2024. Analisis dilakukan untuk mengetahui tingkat keragaman spasial serta dinamika perubahan tutupan lahan selama periode tersebut. Metode yang digunakan adalah Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk memetakan, mengklasifikasikan, dan membandingkan perubahan tutupan lahan antar tahun pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2019, terjadi pergeseran struktur tutupan lahan di Desa Biyonga: hutan sekunder meningkat menjadi 32%, semak belukar menurun menjadi 21%, dan pertanian campur semak bertambah menjadi 25%. Perubahan ini membuat nilai SHDI naik menjadi 1,647, namun nilai tersebut menunjukan hasil sedang tetapi  masih tergolong rendah, yang berarti tingkat heterogenitas lanskap belum mencapai kondisi yang benar-benar beragam. Kenaikan SHDI ini hanya menunjukkan adanya sedikit peningkatan variasi spasial, bukan transformasi besar yang menciptakan lanskap kompleks. Sedangkan, pada tahun 2024, komposisi tutupan lahan di Desa Biyonga relatif stabil dibandingkan kondisi tahun 2019: hutan sekunder tetap berada pada 32%, pertanian campur semak pada 25%, dan semak belukar pada 21%. Nilai SHDI masih berada pada angka 1,647, yang meskipun menunjukkan konsistensi pola dari tahun 2019, tetap tergolong rendah berdasarkan standar ekologi lanskap. Kategori SHDI ini mengindikasikan bahwa tingkat heterogenitas lanskap belum mencapai keragaman yang tinggi, karena distribusi tutupan lahan masih terfokus pada beberapa kelas dominan dan persebarannya belum merata.