Mustaqim, Muhammad Azhar Shiroth
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

OPTIMIZATION LOCAL GOVERNMENT REVENUE: REFORMULASI REGULASI UNTUK MENGATASI TUMPANG TINDIH KEWENANGAN DISHUB DAN BAPENDA DALAM PENGELOLAAN PARKIR DI KOTA MALANG Agustina, Shalsa Bila; Kemas, Keisha Aurellia Nasywa; Mustaqim, Muhammad Azhar Shiroth
Journal of Studia Legalia Vol. 5 No. 01 (2024): Journal of Studia Legalia
Publisher : FKPH Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61084/jsl.v5i01.101

Abstract

Regulasi pengelolaan tempat parkir di Kota Malang telah diatur dalam Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 4 Tahun 2009. Dalam Peraturan Daerah tersebut terdapat dua klasifikasi tempat parkir kendaraan, yakni tempat parkir sebagai retribusi dan tempat parkir sebagai pajak. Tempat parkir sebagai retribusi menjadi kewenangan dari Dinas Perhubungan. Sementara tempat parkir sebagai pajak menjadi kewenangan dari Badan Pendapatan Daerah. Status A Quo saat ini justru terdapat timpang tindih antara Dinas Perhubungan Kota Malang dan Badan Pendapatan Daerah Kota Malang yang berhubungan dengan pengelolaan tempat parkir. Dalam mengkaji tumpang tindih ini, digunakan metode yuridis normatif dengan fokus bahan analisis berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Bahan hukum primer yang dipakai dalam penelitian ini adalah regulasi terkait dengan pengelolaan tempat parkir di Kota Malang. Lalu bahan hukum sekunder yang dipakai berasal dari buku, jurnal, hasil penelitian sebelumnya, dan doktriner ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memang terdapat tumpang tindih wewenang dalam pengelolaan parkir antara Badan Pendapatan Daerah Kota Malang dan Dinas Perhubungan Kota Malang. Sehingga diperlukan adanya penegasan kembali terkait dengan kepastian kewenangan dalam pengelolaan parkir antara Badan Pendapatan Daerah Kota Malang dan Dinas Perhubungan Kota Malang.Kata Kunci: Bapenda; Dishub; Kewenangan; Parkir
Pergeseran Wewenang Perum Perhutani KPH Malang Dalam Pengelolaan Cagar Budaya (Studi Kasus: Candi Sumberawan, Singosari) Santoso, Rizki Andi; Siatiman, Reinhard Valent; Amirulazka, Naufal Itsnain; Mustaqim, Muhammad Azhar Shiroth
Equality : Jurnal Hukum dan Keadilan Vol 1 No 2 (2024): Hukum Artificial Intelligence
Publisher : Yayasan Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat Sisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69836/equality-jlj.v1i2.133

Abstract

Sumberawan Temple is one of the cultural heritages in Malang Regency. Located in the middle of a pine forest, the temple is managed by Perum Perhutani KPH Malang. As a cultural heritage, the temple should be managed by the Malang Regency Tourism and Culture Office. However, the status quo shows otherwise, there is an overlap of authority between Perum Perhutani KPH Malang and Disparbud Malang District. The regulation of cultural heritage management in Malang Regency has been regulated in Regent Regulation No. 49/2016 on the Position, Structure, Organization, Duties and Functions, and Work Procedures of the Malang Regency Tourism and Culture Office. The regulation stipulates the authority of the Malang District Tourism and Culture Office to carry out the function of cultural heritage management. The purpose of this study is to determine the authority of Perum Perhutani KPH Malang, the Tourism and Culture Office of Malang Regency, and to compare the authority of the two institutions in managing cultural heritage, as well as to analyze the shift in the function of Perum Perhutani KPH Malang through the regulation a quo. The research method used is normative juridical with analytical materials in the form of primary, secondary, and tertiary legal materials. Primary legal materials used are regulations governing the authority to manage cultural heritage. Then, secondary legal materials used are books, journals, articles, previous research results, and expert opinions. The results showed that there is a conflict of functions and authorities in the management of Sumberawan Temple. The conflict is shown by the management of Sumberawan Temple by Perum Perhutani KPH Malang which juridically has no authority.  Therefore, it is necessary to harmonize regulations related to authority in the management of Sumberawan Temple between Perum Perhutani KPH Malang and Malang Regency Tourism and Culture Office.