Dwi Jayanti Kurnia Dewi
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pembelajaran Mitigasi Bencana Gempa Bumi Anak TK Di Lereng Gunung Merapi Yogyakarta Dwi Jayanti Kurnia Dewi
Awladuna: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Vol. 2 No. 1 (2024): Awladuna: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini
Publisher : Universitas Darunnajah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61159/awladuna.v2i1.244

Abstract

Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik Eurasia menyebabkan terbentuknya potensi bahaya bencana gempa bumi. Hasil dari aktivitas vulkanik maupun tektonik menyumbang potensi bahaya gempa bumi. Anak-anak dapat menjadi korban gempa bumi, namun dapat diminimalisir dengan diberikannya pendidikan mitigasi bencana gempa. Mitigasi bencana gempa bumi menjadi salah satu upaya preventif, dilakukan untuk menjadikan anak lebih siap dalam menghadapi bencana gempa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kesiapan anak-anak TK dalam menghadapi bencana gempa. Kesiapan tersebut berdasarkan pelaksanaan kegiatan mitigasi bencana gempa yang dilakukan di sekolah di lingkungan Gunung Merapi Yogyakarta dengan radius 10 kilometer dari puncak gunung. Metode penelitian ini menggunakan metode survei, dengan melibatkan sampel sebanyak 75 guru TK. Teknik pengumpulan data menggunakan angket yang disebar pada Semester Genap Tahun Ajaran 2022/2023. Angket diberikan kepada guru TK untuk mendapatkan data kuantitatif tentang pelaksanaan pembelajaran mitigasi bencana gempa. Hasil survei pembelajaran mitigasi bencana untuk anak belum dilakukan secara rutin, hanya 11% guru TK yang menjadwalkan pelaksanaan pembelajaran dengan topik gempa setiap bulannya, 7% guru TK yang menjadwalkan dilakukannya simulasi gempa bumi tiap bulannya, serta guru mengalami kesulitan dan kebingungan saat merancang serta pembelajaran mitigasi bencana gempa yang sesuai untuk anak TK. Pembelajaran mitigasi bencana perlu diberikan kepada anak usia TK yang tinggal di daerah rawan bencana gempa bumi seperti Yogyakarta, dan perlu adanya inovasi pembelajaran mitigasi bencana gempa bumi agar guru tidak lagi mengalami kesulitan dan kebingungan saat merancang serta melakukan pembelajaran mitigasi bencana gempa yang sesuai untuk anak TK.
SELF-ACCEPTANCE OF SINGLE MOTHERS WITH MULTIPLE DISABILITIES: Case Study in Lakarsantri, Surabaya Aisha Nadya; Dwi Jayanti Kurnia Dewi; Dika Putri Rahayu
JP2KG AUD (Jurnal Pendidikan, Pengasuhan, Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini) Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : PG PAUD Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jp2kgaud.2024.5.2.423-431

Abstract

Single mothers who have young children with multiple disabilities have full responsibility for raising children, without the presence of a partner who acts as both mother and father for their children. Single mothers who raise children with multiple disabilities face extra challenges and difficulties compared to other parents. Various challenges for single mothers include meeting the special needs of children, limited access to services and support, to multiple financial and emotional burdens. Self-acceptance is a crucial factor that affects the well-being and quality of life of single mothers with children with multiple disabilities. This study was conducted to explore and understand more deeply the phenomenon of self-acceptance in single mothers with children with multiple disabilities using a qualitative approach. The method used is a case study involving single mother participants who have young children with multiple disabilities, living in the Lakarsantri area, Surabaya. The multiple disabilities experienced by the subject's child are hard of hearing and low vision. This research method uses observation, interviews, and documentation. The data analysis technique uses thematic analysis. The process of accepting the child's condition is a journey in itself for single mothers through five stages, namely denial, depression, anger, bargaining, and finally acceptance and adjustment. This process involves seeking knowledge, consulting with professionals, and interacting with other families who have similar experiences. Emotional fluctuations are still possible, especially when parents are faced with new challenges in their child's development. Self-acceptance is better seen as an active process in which parents continually adjust, learn, and grow with their children.