Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi In Silico Potensi Antidiabetes Senyawa pada Black Garlic sebagai Inhibitor Enzim DPP-4 Sudirman, Virgiana Keisha Rajabi Johni; Priana, Diva Dhaifina Mazaya; Puspitasari, Citra Dewi; Hutapea, Ezra Calista; Muntashir, Ilham Mohammad; Pribadi, Alya Puteri Agustina; Parameswari, Natashya; Aulifa, Diah Lia
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v11i2.47506

Abstract

Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang berkaitan dengan gangguan metabolisme glukosa darah. Black Garlic memiliki potensi sebagai antidiabetes karena mengandung berbagai senyawa yang dapat mengontrol kadar gula darah seperti asam fenolik, senyawa flavonoid dan S-allyl-L-cysteine (SAC). DPP-4 merupakan enzim yang berperan penting sebagai target terapeutik dari gliptin dalam pengobatan diabetes mellitus mellitus tipe II. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan membuktikan potensi senyawa pada Black Garlic sebagai inhibitor enzim DPP-4 secara in silico melalui metode penambatan molekuler. Berdasarkan hasil penelitian, SAC memiliki nilai energi ikatan sebesar -5,36 kkal/mol dan nilai konstanta inhibisi sebesar 118,08 μM. Hal ini menunjukkan bahwa ikatan antara senyawa SAC dengan enzim DPP-4 bersifat stabil dan terbukti berpotensi sebagai inhibitor enzim DPP-4 dibandingkan keempat senyawa uji lainnya. Namun, senyawa SAC tidak lebih baik dari ligan alaminya karena memiliki nilai energi ikatan dan konstanta inhibisi yang lebih kecil. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa senyawa SAC pada Black Garlic tidak lebih efektif dibandingkan dengan ligan alaminya yaitu Vildagliptin tetapi tetap dapat berpotensi sebagai inhibitor enzim DPP-4.
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PEREDARAN OBAT-OBAT TERTENTU YANG SERING DISALAHGUNAKAN TANPA IZIN EDAR DI SARANA TIDAK BERIZIN DALAM PERSPEKTIF UU NOMOR 17 TAHUN 2023 TENTANG KESEHATAN Muntashir, Ilham Mohammad; Mita, Soraya Ratnawulan
Farmaka Vol 24, No 2 (2026): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v24i2.71100

Abstract

Peredaran obat-obat tertentu yang sering disalahgunakan (OOT) tanpa izin edar melalui sarana yang tidak berizin masih menjadi permasalahan yang banyak ditemukan di Indonesia dan berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat. Selain tidak menjamin aspek keamanan, khasiat, dan mutu, praktik tersebut juga bertentangan dengan ketentuan hukum di bidang kesehatan dan kefarmasian. Tinjauan ini bertujuan untuk menganalisis peraturan mengenai peredaran OOT tanpa izin edar di sarana yang tidak berizin serta sanksi hukum yang dapat dikenakan terhadap pelaku berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Metode tinjauan yang digunakan yaitu yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan melalui penelaahan berbagai peraturan yang berkaitan dengan sediaan farmasi, praktik kefarmasian, dan ketentuan pidana di bidang kesehatan. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa OOT, seperti Dekstrometorfan, Haloperidol, Klorpromazin, Amitriptilin, Ketamin, Tramadol, dan Triheksifenidil, sebagian besar termasuk golongan obat keras yang peredarannya harus dilakukan melalui sarana pelayanan kefarmasian yang berizin dan oleh tenaga kefarmasian yang berwenang. Peredaran OOT tanpa izin edar bertentangan dengan ketentuan mengenai keamanan, khasiat, dan mutu sediaan farmasi, sedangkan peredarannya di sarana tidak berizin merupakan bentuk praktik kefarmasian tanpa kewenangan. Pelaku dapat dikenakan Pasal 435 dan Pasal 436 ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dengan ancaman pidana penjara dan/atau denda. Dengan demikian, penegakan hukum yang tegas diperlukan untuk memastikan masyarakat aman dari risiko penyalahgunaan dan peredaran obat ilegal.