Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengembangan Produk Pidih Charcoal Dengan Minyak Zaitun Dan Essensial Melati Menggunakan Kemasan Tube Sebagai Kosmetik Tradisional Paes Pada Pengantin Herweningtyas, Nadya; Widihastuti
SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional Vol. 4 No. 2 (2025): SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional
Publisher : LPPM Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62018/sitawa.v4i2.160

Abstract

Dalam proses pembuatan paes terdapat kosmetik yang digunakan yaitu pidih. Pidih biasanya digunakan untuk mewarnai atau menghias dahi dan bagian wajah lainnya sebagai simbol estetika dan sakralitas. Pidih adalah bahan setengah padat berwarna hitam atau hijau yang berfungsi untuk memberi warna pada cengkorongan (Ade Novi et al, 2018). Menurut Murtiadji dan Suwardanidjaja (2012) pidih terbuat dari ramuan jelaga (minyak teplok berbahan kelapa) yang dicampur dengan lilin kote, kulit jeruk purut daun pandan, dan asem. Namun, kosmetika pidih tersebut mengandung minyak yang cukup banyak, sehingga hasil akhir dari kosmetika pidih tampak mengkilap dan mudah luntur apabila tergores. Bahan alami dapat digunakan untuk membuat pidih, selain dapat memanfaatkan hasil alam juga dapat bermanfaat untuk kulit wajah. Bahan-bahan yang daat dimanfaatkan untuk membuat pidih alami yaitu charcoal atau arang aktif yang dicampur dengan minyak zaitun dan esensial melati. Penelitian ini menggunakan Penelitian dan Pengembangan (R&D) dengan model penelitian 4D. . Formula dipilih melalui tahapan uji validasi ahli oleh dua perias yang berdomisili di kota Wates yaitu Ibu Sunarti dan Dwi Puryatno hasil prototype formula 3 dengan hasil validasi tertinggi sebanyak 79% dengan predikat kelayakan layak, pidih memiliki warna hitam pekat dan mengkilat. Produk mudah dihapus menggunakan tissue basah, dan produk layak untuk disebarkan atau dilakukan uji coba kepada pengguna pada pameran produk. Peneliti selanjutnya harus lebih bisa membuat produk sesuai dengan saran yang diberikan oleh validator, dan juga dapat melakukan uji coba pengguna atau uji laboratorium terkait uji anti iritan/ sensitivitas kulit.
Evaluating English Language Test Items Developed by Teachers: An Item Response Theory Approach Rezkilaturahmi; Istiqlal, Muhammad; Pancoro Setyo Putro, Nur Hidayanto; Istiyono, Edi; Widihastuti
VELES Voices of English Language Education Society Vol 9 No 1 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/veles.v9i1.27644

Abstract

Evaluating students’ abilities in educational settings is crucial for assessing learning outcomes and instructional effectiveness. In Indonesia, many schools have developed local English language assessments, yet these tests often lack psychometric validation. This study aims to evaluate the quality of a teacher-developed English language test instrument using the Item Response Theory (IRT) approach. A total of 25 multiple-choice items created by the English teacher group in Muna Regency were administered to 162 students from five randomly selected schools. A descriptive quantitative method was employed with the aid of R Studio for data analysis. Initial sample adequacy was confirmed using the Kaiser-Meyer-Olkin (KMO = 0.686) and Bartlett’s Test of Sphericity (p < .001). The study applied model fit analyses for 1-PL, 2-PL, and 3-PL logistic models, with the 2-PL model emerging as the most appropriate, as 16 items demonstrated good fit. Further analysis of item characteristics under the 2-PL model revealed that only 11 items had acceptable difficulty and discrimination indices. In comparison, the remaining 14 items were either too easy, too complex, or poorly discriminating. These results indicate that a substantial portion of the test requires revision. The study highlights the importance of psychometric evaluation in teacher-made assessments and recommends capacity-building for teachers in test development and validation practices.
Batik Bhumi Phala: Manifestasi Identitas Kabupaten Temanggung Dalam Wastra Julian Prio Dwi Nugroho; Widihastuti; Mohammad Adam Jerusalem
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 11 No. 2 (2025): Mengkaji Identitas dan Makna Simbolik dalam Karya Seni
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v11i2.560

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan Batik Bhumi Phala sebagai representasi identitas Kabupaten Temanggung melalui eksplorasi unsur alam dan budaya lokal. Menggunakan metode penciptaan seni, penelitian dilakukan melalui tiga tahap: eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Tahap eksplorasi mengidentifikasi sumber ide visual khas Temanggung yaitu daun tembakau, buah dan bunga kopi, Tugu Jam, serta Gunung Sumbing dan Sindoro. Pada tahap perancangan, sumber ide tersebut ditransformasikan menjadi motif batik melalui stilisasi untuk tembakau, kopi, dan Tugu Jam, serta deformasi untuk Gunung Sumbing dan Sindoro, kemudian ditata dalam komposisi simetris. Tahap perwujudan meliputi pengutipan motif, nglowong, pewarnaan, nglorod, dan penjemuran dengan penggunaan pewarna alam ekstrak daun tembakau dan fiksator tunjung. Produk Batik Bhumi Phala memuat nilai filosofis sekaligus mencerminkan identitas budaya Temanggung sehingga berfungsi sebagai penguat karakter kultural masyarakat. This study aims to develop Batik Bhumi Phala as a representation of Temanggung Regency’s identity through the exploration of local natural and cultural elements. Employing an artistic creation method, the research was conducted through three stages: exploration, design, and realization. The exploration stage identified distinctive visual sources from Temanggung, including tobacco leaves, coffee fruits and flowers, the Clock Tower, and Mount Sumbing and Mount Sindoro. In the design stage, these sources were transformed into batik motifs using stylization techniques for tobacco, coffee, and the Clock Tower, and disformation techniques for Mount Sumbing and Mount Sindoro, arranged into symmetrical compositions. The realization stage involved motif tracing, nglowong, dyeing, pelorodan, and drying, utilizing natural dyes extracted from dried tobacco leaves with tunjung as the fixative. Batik Bhumi Phala embodies philosophical values and reflects the cultural identity of Temanggung, thereby strengthening the community’s cultural character.