Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS FATWA SYAIKH SYAUQI IBRAHIM ‘ABDUL KARIM ‘ALLAM TENTANG CHILDFREE ulath, sanusi; Thalhah, Thalhah; Mualim, Much.
TAHKIM Vol. 18 No. 2 (2022): TAHKIM
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/thk.v18i2.3882

Abstract

Penelitian ini berkaitan dengan fatwa Syaikh Syauqi> Ibra>hi>m ‘Abdul Kari>m ‘Alla>m seorang Mufti Agung Mesir tentang hukum childfree, yang dijadikan dasar oleh sebagian umat Islam dalam membolehkan childfree, tujuannya untuk mengetahui dan mendeskripsikan fatwa Syaikh Syauqi> Ibra>hi>m ‘Abdul Kari>m ‘Alla>m tentang childfree dan juga untuk mengetahui analisis dalil hukum yang digunakan Syaikh Syauqi> Ibra>hi>m ‘Abdul Kari>m ‘Alla>m dalam mengeluarkan fatwa tentang childfree. penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pertama, Syaikh Syauqi> Ibra>hi>m ‘Abdul Kari>m ‘Alla>m membolehkan praktik childfree dalam fatwanya dengan tiga syarat: a). harus dengan kesepakatan bersama antara suami istri. b) penerapannya hanya bersifat personal antar pasangan, tidak diterapkan secara umum dan dipromosikan. c). memiliki alasan atau sebab sesuai syari>’at Islam yakni mendatangkan mas}la>hah dan menolak mud}a>rat. Kedua, Analisis dalil hukum yang digunakan Syaikh Syauqi> Ibra>hi>m ‘Abdul Kari>m ‘Alla>m dalam fatwanya tentang childfree adalah Al-Qur’an surah al-Kahfi ayat 46 sebagai dasar bahwa kedudukan anak hanya sebagai perhiasan bukan sebagai kewajiban. b) hadis-hadis shahih tentang kebolehan ‘azl sebagai qiyas dibolehkannya childfree dengan kesamaan illat yaitu meniadakan anak di masa datang, dan kebolehannya hanya dengan kesepakatan dan kemashlahatan. c)  pendapat ulama lintas mazhab yang memperkuat hadis dibolehkannya ‘azl sebagai qiyas dibolehkannya childfree. d) Saddudz dzari>’ah-nya adalah menutup jalan dari mud}a>rat yang ditimbulkan pada kesehatan istri ketika memiliki anak, atau juga karena kekhawatiran tidak dapat merawat anak, yang mud}a>rat-nya lebih besar dari pada mas}la>hah.
RELIGIOUS MODERATION IN COMPARATIVE MADHHAB CURRICULUM: A COMPARATIVE STUDY OF IAIN AMBON AND UIN ALAUDDIN MAKASSAR Nurdin, Roswati; Musgamy, Awaliyah; Thalhah; Ulath, Sanusi
Al-Risalah VOLUME 24 NO 2, NOPEMBER (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-risalah.vi.51924

Abstract

This study aims to examine how religious moderation values are manifested in the curriculum of Comparative Fiqh study programs at IAIN Ambon and UIN Alauddin Makassar. It focuses on understanding how these values are embedded in the program’s vision and implemented across four dimensions: Ideological, Document, Process, and Outcome. This qualitative research uses a case study approach, analyzing documents such as institutional strategic plans, program curricula, and reports from IAIN Ambon and UIN Alauddin Makassar. Interviews with faculty members and program administrators were conducted to gain insights into the practical implementation of religious moderation within the curriculum. The data was analyzed thematically. The study found that both institutions incorporate religious moderation values, including tolerance (tasamuh), compassion (tarahum), cooperation (taawun), and harmony (rukun) into their Comparative Fiqh curricula. These values are reflected in the institutions’ visions, emphasizing multiculturalism and universal Islamic principles. However, the integration of these values varies slightly between the two universities, influenced by their distinct local contexts. This research provides original insights into how religious moderation is integrated into Islamic higher education curricula in Indonesia, specifically within Comparative Fiqh programs. It bridges the gap between Islamic educational theory and practice, offering new empirical evidence on the incorporation of moderation in curriculum development. The findings have significant implications for Islamic education policy, curriculum design, and teacher training, encouraging the integration of religious moderation values in educational practices to foster inclusive, tolerant, and peaceful academic environments.