Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Strategi Guru Agama Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Agama Di SDIT Kuala Lama Kecamatan Pantai Cermin Sri Rahma Aulia Lubis; Ahmad Ridwan; Fathul Jannah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6845

Abstract

This study aims to explore students' learning interest in Islamic Religious Education (PAI) subjects, the strategies employed by teachers to enhance that interest, and the supporting and inhibiting factors influencing those strategies at SDIT Kuala Lama, Pantai Cermin District. The research employed a qualitative approach with a descriptive method. Data collection techniques included interviews, observation, and documentation. The subjects of the study consisted of the school principal, Islamic Education teachers, and students from grades V and VI. The findings revealed that students’ interest in learning Islamic Religious Education was categorized as high. This was evidenced by their enthusiasm during lessons, active participation in religious activities, and eagerness to comprehend the material. Teachers applied various strategies to foster interest, such as interactive lectures, group discussions, visual media, and emotional-spiritual approaches. Supporting factors included a religious school environment, strong leadership from the principal, and parental involvement. Meanwhile, inhibiting factors involved limited learning facilities, constrained instructional time, and the diverse learning abilities of students. It can be concluded that students’ learning interest in Islamic Religious Education is closely linked to teachers’ creative and adaptive strategies, as well as a supportive environment that nurtures students’ emotional and spiritual growth. These findings highlight the importance of holistic and engaging approaches in religious education to sustain and increase student interest.
RELEVANSI KONSEP ETIKA POLITIK DALAM TEOLOGI ISLAM Eka Zuliana; Fathul Jannah
HIBRUL ULAMA Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Hibrul’ulama
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47662/hibrululama.v7i1.1341

Abstract

Bagi para pemikir politik, politik terkait erat dengan etika. Bedanya jika pemikir Yunani membicarakan keterkaitan itu dalam wilayah filsafat moral, sementara pemikir plitik islam mendiskusikan dalam naungan teologi. Konsep etika politik dalam teologi Islam berakar pada ajaran tauhid yang menempatkan Allah sebagai sumber segala kekuasaan. Manusia hanya bertindak sebagai khalifah yang bertanggung jawab mengelola kehidupan sesuai dengan ketentuan-Nya. Prinsip ini melahirkan berbagai nilai politik seperti amanah, keadilan, musyawarah, dan tanggung jawab sosial. Di era modern, ketika sistem politik menghadapi berbagai tantangan global, kajian mengenai relevansi etika politik dalam teologi Islam menjadi semakin penting. Nilai-nilai yang terkandung dalam teologi Islam dapat menjadi alternatif dalam membangun budaya politik yang berintegritas dan berkeadilan. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan, menganalisa, dan menjelaskan relevansi konsep etika politik dalam teologi islam. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library research) yaitu dengan cara meneliti, membaca, dan memahami buku-buku yang berkenaan dengan judul penelitian tersebut. Dalam menganalisis data, penelitian ini menggunakan metode analisis isi (content analysis) atau analisis tekstual dan metode interprestasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan normative dan sosio-historis. Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif dengan melalui pendekatan kualitatif. Relevansi konsep Etika politik dalam teologi islam, meliputi; Pertama, Sejarah kemunculan politik dalam yaitu di mulai saat Muawiyyah tidak menerima pengangkatan Ali sebagai khalifah dan terjadilah peperangan antar keduanya yang dalam sejarah dikenal dengan perang Shiffin. Sebenarnya perseteruan tersebut dimenanangkan oleh pihak Ali bin Abi Thalib. Tetapi sewaktu pasukan Muawiyyah terdesak dan mulai tampak tanda-tanda kekalahan, Muawiyyah meminta salah satu utusannya untuk meletakkan al-Quran diatas tombak, kemudian menunjukkannya kepada pasukan Ali dan meminta perdamaian atau tahkim. Kedua, Konsep etika politik dalam teologi Islam adalah seperangkat nilai moral dan prinsip keagamaan yang mengatur bagaimana kekuasaan diperoleh, dijalankan, dan dipertanggungjawabkan menurut ajaran Islam. Ketiga, Landasan dasar etika politik dalam teologi islam, yaitu Tauhid, Khilafah, Amanah, Mas'uliyyah (akuntabilitas). Prinsip-prinsip etika politik dalam teologi islam, yaitu Keadilan (al-'adl), Musyawarah (syura), Persamaan (al-musawah), Kemaslahatan (maslahah), Kejujuran dan Integritas. Keempat, Etika politik dalam teologi Islam sangat relevan karena menjembatani antara keyakinan (akidah), nilai moral (akhlak), dan praktik kekuasaan (siyasah). Berikut beberapa poin utama relevansi etika politik dalam teologi islam, yaitu: Politik sebagai bagian dari amanah moral, Keadilan sebagai prinsip teologis, Kekuasaan dibatasi oleh syariah dan nilai akhlak, Tanggung jawab pemimpin (khilafah), Koreksi terhadap penyalahgunaan agama dalam politik, Relevansi dalam konteks modern.
Pelatihan Parenting Islami bagi Orang Tua untuk Mencegah Krisis Moral Generasi Z Ahmad Ridwan; Yulia Warda; Nurul Hidyah; Fathul Jannah; Rukmana Prasetyo
Wahana Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Edisi Juni
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/wahana.v5i1.1753

Abstract

  Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah memberikan dampak signifikan terhadap perilaku generasi muda, khususnya Generasi Z. Rendahnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan gadget dan media sosial menyebabkan meningkatnya krisis moral pada remaja seperti menurunnya etika komunikasi, kecanduan media sosial, serta lemahnya penguatan nilai-nilai keagamaan. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan orang tua dalam menerapkan parenting Islami sebagai upaya pencegahan krisis moral Generasi Z. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan, diskusi interaktif, dan pendampingan parenting Islami kepada masyarakat. Kegiatan dilaksanakan di lingkungan masyarakat Kota Medan dengan melibatkan 35 orang tua sebagai peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai pola asuh Islami sebesar 82%, peningkatan kesadaran pengawasan penggunaan media digital pada anak sebesar 78%, dan meningkatnya kemampuan orang tua dalam membangun komunikasi religius dalam keluarga sebesar 80%. Kegiatan ini memberikan dampak positif dalam memperkuat pendidikan karakter Islami di lingkungan keluarga serta meningkatkan keterlibatan orang tua dalam pembinaan moral anak di era digital.
Digital Transformation of Islamic Religious Education: Integrating Artificial Intelligence and Religious Moderation in Inclusive Islamic Religious Education Learning Syafril Barus; Fathul Jannah
Indo Green Journal Vol. 4 No. 3 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i3.663

Abstract

The digital transformation of Islamic Religious Education (PAI) has created new opportunities and challenges in the learning process, particularly through the integration of artificial intelligence (AI). This study aims to analyze how AI can be responsibly integrated into inclusive PAI learning to strengthen religious moderation, academic integrity, and data literacy. This research uses a library research method with a qualitative descriptive approach, reviewing relevant scholarly literature, journal articles, policy documents, and institutional reports on AI in education, Islamic Religious Education, inclusive learning, religious moderation, plagiarism risk, and teacher-student readiness. The results show that AI has the potential to support PAI learning through personalized instruction, adaptive learning materials, accessibility features, formative feedback, and digital engagement. However, AI integration also raises ethical concerns, including plagiarism, overreliance on technology, misinformation, algorithmic bias, and weak spiritual formation. Therefore, AI should be positioned as a learning assistant rather than a substitute for teachers. The study emphasizes that inclusive AI-based PAI learning must be grounded in Islamic ethical values and religious moderation, including tolerance, balance, justice, non-violence, and respect for diversity. The novelty of this study lies in its integrative conceptual framework that connects responsible AI use, religious moderation, academic integrity, data literacy, and inclusive Islamic education. This study recommends that schools and madrasahs develop clear guidelines for AI use, strengthen teachers' competence, and design reflective assessment models that promote honesty, critical thinking, and responsible digital citizenship
Digital Transformation of Islamic Religious Education: Integrating Artificial Intelligence and Religious Moderation in Inclusive Islamic Religious Education Learning Syafril Barus; Fathul Jannah
Indo Green Journal Vol. 4 No. 3 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i3.663

Abstract

The digital transformation of Islamic Religious Education (PAI) has created new opportunities and challenges in the learning process, particularly through the integration of artificial intelligence (AI). This study aims to analyze how AI can be responsibly integrated into inclusive PAI learning to strengthen religious moderation, academic integrity, and data literacy. This research uses a library research method with a qualitative descriptive approach, reviewing relevant scholarly literature, journal articles, policy documents, and institutional reports on AI in education, Islamic Religious Education, inclusive learning, religious moderation, plagiarism risk, and teacher-student readiness. The results show that AI has the potential to support PAI learning through personalized instruction, adaptive learning materials, accessibility features, formative feedback, and digital engagement. However, AI integration also raises ethical concerns, including plagiarism, overreliance on technology, misinformation, algorithmic bias, and weak spiritual formation. Therefore, AI should be positioned as a learning assistant rather than a substitute for teachers. The study emphasizes that inclusive AI-based PAI learning must be grounded in Islamic ethical values and religious moderation, including tolerance, balance, justice, non-violence, and respect for diversity. The novelty of this study lies in its integrative conceptual framework that connects responsible AI use, religious moderation, academic integrity, data literacy, and inclusive Islamic education. This study recommends that schools and madrasahs develop clear guidelines for AI use, strengthen teachers' competence, and design reflective assessment models that promote honesty, critical thinking, and responsible digital citizenship
MENGENAL DIRI LEWAT PENDIDIKAN ISLAM Ahmad Ridwan; Fathul Jannah; Yulia Warda
Tazkiya: Jurnal Pendidikan Islam Vol 12, No 2 (2023): Tazkiya
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/taz.v12i2.3205

Abstract

Penelitian ini menjelaskan peran penting pendidikan Islam dalam membentuk pemahaman diri individu dan identitas Muslim. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan individu Muslim yang telah mengikuti pendidikan Islam. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa pendidikan Islam memberikan landasan moral yang kuat dalam kehidupan individu, dengan nilai-nilai seperti keadilan, kasih sayang, dan kerendahan hati menjadi inti ajaran agama. Selain itu, pendidikan Islam memengaruhi dimensi spiritual individu, menguatkan hubungan dengan Tuhan, mempromosikan kesadaran sosial, dan membentuk identitas Muslim yang kuat. Responden merasa bahwa pendidikan Islam tidak hanya membentuk karakter pribadi mereka, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk berkontribusi dalam membangun masyarakat yang adil dan harmonis. Hasil penelitian ini menekankan pentingnya pendidikan Islam dalam membentuk individu yang beretika, peduli terhadap masyarakat, dan memiliki identitas yang kuat dalam konteks budaya dan agama Islam.
Rahasia shalat dalam mencegah perbuatan keji persperktif Syekh Ibnu ‘Athaillah dalam Kitab Tajul ‘Arus Fathul Jannah; Nikmah Royani Harahap; Apriliana
At Turots: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 5 No. 1 Juni (2023): At Turots: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51468/jpi.v5i1.330

Abstract

The purpose of this study is to see how far the prayer is applied and measured in the life of the day, and to see the effect or clear evidence that a servant feels after he has completed his prayer. This study uses the method of descriptive-analysis, which is a procedure of problem solving studied by describing the state of the subject / object of study, which later in this study the researchers will reveal the understanding of Ibnu 'Athaillah about the secret of prayer in preventing evil deeds. The steps that the researchers used in this study were librarian studies. (Libraray Reserach). Penliit aggregates both primary data, namely the title book of the current, and other supporting data. The result of this study shows that there is still a number of Muslims today who perform the prayer only ceremonial, so that those who perform this prayer bnayak who do not feel the great secret of prayer that he feels, that is, prevent himself from evil deeds.