Hutapea, Anastasya
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Current Evidence of Platelet-Rich Blood Plasma for Pelvic Organ Prolapse: A Review Fakhrizal, Edy; Simanjuntak, Arya Marganda; Hutapea, Anastasya
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.530

Abstract

Objective: To review the current evidence of the potential use of Platelet-Rich Plasma (PRP) in the field of urogynecology, especially in POP cases.Method: This review used several databases (Google Scholar, Pubmed, and Science Direct) and searched for English and Indonesian articles in the last ten years. Articles were received in the form of case reports, observational studies and clinical trials that discussed the use of Platelet-Rich Plasma in cases of Pelvic Organ Prolapse (POP).Results: A total of three articles were included in this review.Discussion: There were two patient studies and one in vitro study. The POP patient study showed favorable results with low recurrence rates in patients who received Platelet Rich-Plasma compared to those who did not and another study that conducted a one-year evaluation found no recurrences after the patients received Platelet Rich Plasma at the surgical site. The in vitro study showed good cell attachment and proliferation in vaginal tissue biopsies with Platelet-Rich Plasma applied to the tissue.Conclusion: Platelet-Rich Plasma may promote tissue regeneration, hence potentially reduce recurrency after reconstruction.Bukti Terkini Plasma Darah Kaya Trombosit untuk Prolaps Organ Panggul: Sebuah KajianTujuan: Untuk meninjau bukti terkini mengenai potensi penggunaan Platelet-Rich    Plasma di bidang uroginekologi, khususnya pada kasus POP.Metode:Tinjauan ini menggunakan beberapa database Google Scholar, Pubmed, dan Science Direct) dan mencari artikel berbahasa Inggris dan Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir. Artikel yang diterima berupa laporan kasus, studi observasional, dan uji klinis yang membahas penggunaan Platelet-Rich Plasma pada kasus Prolaps Organ Panggul (POP).Hasil: Sebanyak tiga artikel termasuk dalam tinjauan ini.Diskusi: Terdapat dua studi pasien dan satu studi in vitro. Studi pasien POP menunjukkan hasil yang baik dengan tingkat kekambuhan yang rendah pada pasien yang menerima PRP dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima Platelet-Rich Plasma dan studi lain yang melakukan evaluasi satu tahun tidak menemukan adanya kekambuhan setelah pasien menerima Platelet-Rich Plasma di tempat pembedahan. Studi in vitro menunjukkan perlekatan dan proliferasi sel yang baik pada biopsi jaringan vagina dengan Platelet-Rich Plasma yang diaplikasikan pada jaringan tersebut.Kesimpulan: Platelet-Rich Plasma dapat meningkatkan regenerasi jaringan, sehingga berpotensi mengurangi kekambuhan setelah rekonstruksi.Kata kunci: Platelet-Rich Blood Plasma, Prolaps Organ Panggul, Uroginekologi
Gene and Germline Editing in Maternal and Reproductive Health: A Narrative Review of Ethical Dilemmas and Scientific Advances Suhaimi, Donel; Andri, Sofyan; Hutapea, Anastasya; Arihta, Sandi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.939

Abstract

Introduction: In Utero Genetic Editing (IUGE) is an emerging technology intended to modify the fetal genome to prevent or treat genetic disorders before birth. While it presents significant medical potential, it raises complex ethical, legal, and regulatory challenges. Current interventions remain largely animal-based, with human applications at theoretical or preclinical stages.Methods: This review examines ethical guidelines, legal frameworks, and regulatory perspectives globally and in Indonesia. Sources included WHO, the Indonesian Obstetrics and Gynecology Association (POGI), Indonesian health laws, and journals such as the American Journal of Obstetrics and Gynecology (AJOG). Literature was drawn from PubMed, WHO databases, Indonesian archives, and AJOG publications (2015–2025).Results: WHO emphasized precaution and transparency, while POGI stressed maternal–fetal safety under strict oversight. Indonesia lacks specific regulation, requiring interventions to respect safety and human dignity. The United States and European Union maintain restrictive regulations, including embryo research bans.Conclusion: IUGE is promising for reproductive health but remains ethically and legally unresolved, requiring clearer frameworks before clinical translation. AbstrakPendahuluan: In Utero Genetic Editing (IUGE) merupakan teknologi baru untuk memodifikasi genom janin guna mencegah atau mengobati kelainan genetik sejak sebelum lahir. Teknologi ini menjanjikan manfaat medis, namun menimbulkan tantangan etik, hukum, dan regulasi. Hingga kini, sebagian besar intervensi masih berbasis penelitian hewan, sementara aplikasi pada manusia berada pada tahap teoritis atau pra-klinis.Metode: Kajian ini menelaah pedoman etik, kerangka hukum, dan regulasi dari perspektif global dan Indonesia. Sumber mencakup WHO, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), peraturan kesehatan nasional, serta jurnal internasional seperti American Journal of Obstetrics and Gynecology (AJOG). Literatur diperoleh dari PubMed, basis data WHO, arsip hukum Indonesia, dan publikasi AJOG (2015–2025).Hasil: WHO menekankan prinsip kehati-hatian dan transparansi, sementara POGI menegaskan keselamatan ibu–janin dengan pengawasan ketat. Indonesia belum memiliki regulasi khusus, tetapi mensyaratkan intervensi genetik menjaga keselamatan dan martabat manusia. Negara seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa menetapkan aturan restriktif, termasuk larangan riset embrio.Kesimpulan: IUGE berpotensi meningkatkan kesehatan reproduksi, namun memerlukan regulasi yang lebih jelas sebelum penerapan klinis.Kata kunci: In Utero Genetic Editing, etika, regulasi, terapi janin, bioetika