Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Contextual Teaching Learning pada Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen sebagai Strategi mencapai Pengalam Spiritual Zai, Yafarman; Larosa, Setiaman
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v3i1.61

Abstract

Abstract: In Christian Religious Education learning, intellectual theory and spiritual experience are two concepts that must be achieved. Both are specifically related to each other and differentiate them from other lessons. Achieving both is not easy if done with the wrong strategy. Many problems were found that students felt that PAK lessons were very boring, seemed theoretical and did not build spiritual experiences for their students. The author examines that CTL is the right strategy to answer this problem. Contextual Teaching Learning (CTL) is a learning strategy that connects what is learned with real life, with an emphasis on cognitive development and students' learning experiences as well as their ability to apply knowledge in everyday life. By using the literature study method by conducting a literature review related to the CTL concept, the results were found that CTL has implementation steps, namely: constructivism, inquiry, questioning, community learning, modeling, reflection, and authentic assessment where experience is a characteristic of each of these steps.. The application of CTL in PAK will train students to have a spiritual experience with God and be able to live in their knowledge of Christ. So, CTL can help Christian Religious Education educators carry out a learning process that is not only fun but also builds students' spirituality based on the spiritual experiences they experience while studying Christian religious lessons.  Abstrak: Dalam pembelajaran Pendidikan agama Kristen, teori intelektual dan pengalaman spiritual adalah dua konsep yang harus dicapai. Keduanya saling berkaitan secara spesifik dan menjadi pembeda dari pelajaran lainnya. Pencapaian keduanya tidaklah mudah jika dilakukan dengan strategi yang keliru. Banyak masalah ditemukan bahwa peserta didik merasa pelajaran PAK sangat membosankan, terkesan teoritis dan tidak membangun pengalaman spiritual bagi peserta didiknya. Penulis meneliti bahwa CTL merupakan strategi yang tepat untuk menjawab persoalan tersebut. Contextual Teaching Learning (CTL) adalah strategi pembelajaran yang menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan nyata, dengan penekanan pada perkembangan kognitif dan pengalaman belajar peserta didik serta kemampuan mereka untuk menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan metode studi literatur dengan melakukan kajian pustaka terkait konsep CTL, maka ditemukan hasil bahwa CTL memiliki langkah penerapan, yaitu: konstruktivisme, inquiry, questioning, community learning, modelling, reflection, dan authentic assessment yang mana pengalaman menjadi suatu ciri khas setiap langkah tersebut. Penerapan CTL dalam PAK akan melatih peserta didik untuk mempunyai pengalaman spiritual dengan Tuhan dan mampu hidup dalam pengenalan mereka kepada Kristus. Jadi, CTL dapat membantu para pendidik Pendidikan Agama Kristen melaksanakan proses pembelajaran yang bukan hanya menyenangkan tetapi juga membangun spiritual peserta didik berdasarkan pengalaman spiritual yang dialaminya saat belajar pelajaran agama Kristen.
Interpretasi Yosua 6:1-27 berdasarkan Analisis Naratif untuk Menjawab Isu Genosida dalam Teks Zai, Yafarman; Hasibuan, Serepina Y; Manalu, Nicholas Anderson
YADA : Jurnal Teologi Biblika dan Reformasi Vol. 2 No. 1 (2024): YADA: Jurnal Teologi Biblika dan Reformasi
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Providensia Adonay

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kitab Yosua acapkali mendapat tuduhan dari kalangan Ateis Baru sebagai catatankuno tentang kekerasan yang diinisiasi oleh Allah, salah satunya isu genosida dalam konteksperang. Salah satu cerita yang juga dituduh sebagai aksi genosida adalah peristiwapenakhlukan Yerikho dalam Yosua 6:1-27. Tujuan penelitian ini adalah menginterpretasiYosua 6:1-27 berdasarkan analisis naratif sekaligus menyanggah tuduhan genosida tersebut.Metode yang dipakai adalah studi literatur dengan pendekatan analisis naratif. Hasilpenelitian menyatakan bahwa Yosua 6:1-27 ditulis dengan tujuan menunjukkan YHWHsebagai Pahlawan Perang serta kesetiaan YHWH terhadap janji-Nya kepada umat Israel. Isugenosida tidak cocok dituduhkan terhadap teks. Tiga argumentasi yang ditemukan untukmenyanggah tuduhan genosida antara lain, pertama peristiwa perang dalam Yosua 6:1-27lebih cocok disebut sebagai invasi Bangsa Israel dalam konteks penggenapan janji tanah.Kedua, penumpasan penduduk di Yerikho bukan supaya etnis Kanaan terhapuskan darimuka bumi ini melainkan sebagai tindakan antisipatif terjadinya sinkritismeagama/pengudusan umat. Ketiga, tidak ada unsur pemaksaan identitas dalam diri Rahabdan kaumnya. Selanjutnya, teks-teks bernuansa kekerasan seharusnya dipahami sebagaibahasa anthrophomorfisme dengan gaya sastra Timur Dekat Kuno dan tidak bersifat normatifuntuk umat Kristen masa kini.
PERAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MEMBENTUK KEHIDUPAN SOSIAL DAN MORAL KELUARGA DEWASA Lumbantobing, Sarah Gracia; Asamau, John; Zai, Yafarman
Metanoia Vol 8 No 1 (2026): Metanoia Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/metanoia.v8i1.284

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh Pendidikan Agama Kristen (PAK) terhadap kehidupan sosial dan moral keluarga dewasa. Dalam konteks kehidupan modern yang ditandai oleh arus globalisasi, perkembangan teknologi, dan pergeseran nilai moral, keluarga Kristen menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan iman serta nilai-nilai Kristiani. Pendidikan Agama Kristen dipandang sebagai fondasi penting dalam membentuk karakter, etika, dan tanggung jawab sosial anggota keluarga, khususnya orang dewasa sebagai teladan iman dalam rumah tangga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memahami secara mendalam peran PAK dalam kehidupan keluarga dewasa. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi terhadap keluarga Kristen yang aktif mengikuti pembinaan Pendidikan Agama Kristen. Analisis data dilakukan secara induktif dengan menerapkan triangulasi sumber dan metode guna menjaga keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen berpengaruh signifikan dalam membentuk kehidupan sosial dan moral keluarga dewasa, terlihat dari terwujudnya relasi keluarga yang harmonis, sikap saling menghargai, kepedulian sosial, serta penerapan nilai-nilai moral Kristen seperti kasih, kejujuran, pengampunan, kesucian, dan integritas. Dengan demikian, Pendidikan Agama Kristen berperan sebagai fondasi utama dalam membentuk keluarga dewasa yang beriman, bermoral, dan mampu menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat. Kata Kunci: Pendidikan Agama Kristen, kehidupan sosial, kehidupan moral, keluarga dewasa.
PEMBIASAAN MEMBACA AYAT ALKITAB SETIAP HARI BAGI MAHASISWA STT MAWAR SARON LAMPUNG DALAM MENGATASI DAMPAK NEGATIF ERA MEDIA SOSIAL Telaumbanua, Isa Umbu Riani; Natanael, Yonatan; Zai, Yafarman
STT Kingdom Vol 6 No 1 (2026): KINGDOM : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : STT KINGDOM BALI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The social media era poses serious challenges for theological students, including emotional instability, declining self-control, and value disorientation. This study aims to describe and analyze the role of daily Bible reading habits in addressing the negative impacts of social media among students of STT Mawar Saron Lampung. This research employs a descriptive qualitative method with in-depth interviews involving ten selected students who actively engage in daily Bible reading. Data were analyzed using thematic analysis to identify recurring patterns and meanings. The findings reveal that daily Bible reading functions as an emotional stabilizer, a medium for self-reflection and self-regulation, and a foundation for strengthening identity and life values in the digital era. This study fills a research gap by providing empirical qualitative evidence on spiritual habituation as a practical response to digital challenges within theological education. The results offer practical implications for spiritual formation programs in theological institutions.