Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Optimalisasi Perawatan Sekoci Penolong dan Dewi-Dewi Sebagai Penunjang Keselamatan Pelayaran di KM. Kendhaga Nusantara 6 Muhammad Alfin Prasetiya; Ari Sriantini; Dedy Kristiawan
Globe: Publikasi Ilmu Teknik, Teknologi Kebumian, Ilmu Perkapalan Vol. 2 No. 4 (2024): Publikasi Ilmu Teknik, Teknologi Kebumian, Ilmu Perkapalan
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/globe.v2i4.562

Abstract

Maintenance of the lifeboats and goddesses needs to be carried out so that they are ready for use by the lifeboats and goddesses at KM. Kendhaga Nusantara 6 when it was going to be used for training experienced traffic jams. Therefore, pilot 3 and engineer 3 carried out checks and maintenance of lifeboats once a week and lifeboat training was carried out once a month. This research aims to determine the implementation of lifeboat maintenance and goddesses, to find out the obstacles encountered in the implementation of maintenance of lifeboats and goddesses, as well as to find out efforts to overcome obstacles in the implementation of maintenance of lifeboats and goddesses. This research is of a quantitative type with a descriptive statistical approach, with the data collection method being interviews , observation, questionnaire. Before the questionnaire instrument was used, a validity and reliability test was carried out and the results were valid and reliable with a Cronbach's alpha value of 0.848. The results of this study showed that maintenance was not carried out according to schedule. Lifeboat maintenance was only carried out within 3 months within 1 year. Based on the results Questionnaires from 8 respondents consisting of master, master 1, mate 3, kkm, machinist 3, helmsman, boss, class, obtained the results that the percentage of lifeboat maintenance implementation was 51.6%, which means that the criteria were sufficient and the implementation of the goddess goddess was 50%, which meaning that the criteria are sufficient. From the results of this research it can be concluded that the optimal level of lifeboats and goddesses must be increased in maintenance according to procedures. The obstacle encountered was that during the exercise there was a jam on the lifeboat boats which resulted in the lifeboat not being able to be lowered and damage to the lifeboat engine. Efforts that must be made are to carry out maintenance according to the 1974 SOLAS procedure.
Optimalisasi Peralatan Keselamatan Melaut bagi Perahu Nelayan Keputih Timur: Pelatihan dan Pendampingan: Pengabdian Mudiyanto; Djamaludin Malik; Kuncowati; Teguh Wiyono; Dedy Kristiawan
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.1955

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keselamatan melaut nelayan tradisional di Kampung Nelayan Keputih Timur, Gang Pompa Air, Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya melalui pelatihan dan pendampingan penggunaan peralatan keselamatan kapal kecil. Permasalahan utama yang dihadapi nelayan setempat adalah rendahnya pemahaman dan penggunaan alat keselamatan standar seperti pelampung, alat isyarat darurat, dan APAR. Kegiatan dilaksanakan selama 3 bulan dengan pendekatan partisipatif berbasis pelatihan, simulasi, dan evaluasi langsung di lapangan. Sebanyak 35 nelayan mengikuti pelatihan, dan dilakukan survei pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Hasil menunjukkan terjadi peningkatan pemahaman keselamatan sebesar 67,4%, dari rata-rata nilai pre-test 42,6 menjadi post-test 71,3. Setelah pelatihan, 91% peserta menyatakan siap menggunakan alat keselamatan sesuai prosedur, dan 77% telah melengkapi perahunya dengan minimal satu alat keselamatan baru yang disarankan. Pendampingan teknis dilakukan selama 4 minggu dengan kunjungan langsung ke 22 perahu nelayan, yang menghasilkan 18 perahu (81,8%) telah memenuhi standar minimal keselamatan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif dan pendampingan berbasis komunitas mampu mendorong kesadaran dan tindakan nyata nelayan terhadap pentingnya keselamatan melaut. Pengabdian ini diharapkan dapat menjadi model replikasi di daerah pesisir lainnya dengan karakteristik serupa.