Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kapasitas Tarik Pelat Ferrofoam Concrete dengan Variasi Jumlah Tulangan Wiremesh Fairuz, Nabila; Abdullah, Abdullah; Mahlil, Mahlil
Journal of The Civil Engineering Student Vol 5, No 4 (2023): Volume 5 Nomor 4 Desember 2023
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/journalces.v5i4.27334

Abstract

Perkembangan industri konstruksi yang ada di Indonesia berkembang sangat pesat. Pesatnya pembangunan dapat dilihat dari banyak inovasi – inovasi yang baru dilakukan baik dengan metode pelaksanaan konstruksi maupun inovasi dalam menciptakan material baru. Mengingat Indonesia merupakan negara yang sangat rawan gempa, maka penggunaan beton ringan merupakan alternatif yang baik. Ferosemen dapat berinovasi dengan beton ringan salah satunya yaitu memakai busa yang dinamakan menjadi ferrofoam concrete. Ferrofoam concrete nama lain dari beton ringan busa bertulangan wiremesh yang merupakan material kombinasi antara wiremesh dan beton busa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pengaruh kuat tarik pelat ferrofoam concrete terhadap variasi tulangan wiremesh. Perilaku yang ditinjau pada pelat ferrofoam concrete berupa beban ultimit, tegangan, regangan serta pola retak pertama. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian kuat tarik pelat ferrofoam concrete dengan tiga variasi tulangan wiremesh yaitu 2 lapis, 3 lapis, 4 lapis dengan dimensi penampang panjang 400 mm, lebar 100 mm dan ketebalan 20 mm. Hasil dari pengujian diperoleh adalah kuat tekan rata- rata beton busa adalah = 20,92 MPa dan kuat tarik belah rata-rata  = 2,33 MPa. Hasil pengujian terhadap pelat diperoleh bahwa jumlah lapisan wiremesh mempengaruhi daktilitas dan kekuatan ferrofoam concrete yang dapat dilihat pada saat retak awal terjadi. Beban retak awal yang terjadi pada pelat ferrofoam concrete untuk kondisi 2 lapis wiremesh adalah 100 kg, 3 lapis wiremesh adalah 550 kg dan 4 lapis wiremesh adalah 100 kg. Beban maksimum yang mampu dipikul oleh pelat dengan kondisi 2 lapis wiremesh adalah 550 kg, untuk 3 lapis adalah 900 kg dan 4 lapis wiremesh adalah 1100 kg. Jumlah lapisan wiremesh juga mempengaruhi jumlah retak yang terjadi, yaitu semakin banyak jumlah lapisan wiremesh maka semakin banyak pula jumlah retak yang terjadi pada pelat.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Remaja Dalam Mengkonsumsi Makanan Cepat Saji Di Kota Depok Tahun 2022 Kristanti, Melly; Nugrohowati, Nunuk; Harjono, Yanti; Fairuz, Nabila
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 13 No 01 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v13i01.2411

Abstract

Makanan cepat saji atau fast food adalah makanan yang dapat disajikan dalam waktu singkat dan praktis. Remaja mengalami pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang pesat. Mereka membutuhkan asupan gizi yang lebih besar dibandingkan saat mereka masih anak-anak. Dampak jangka panjang bagi seseorang yang mengkonsumsi makanan cepat saji tidak hanya berpengaruh pada dirinya, tetapi juga bagi keluarga, masyarakat, dan pada akhirnya dapat mempengaruhi Bangsa Indonesia karena memiliki sumber daya manusia yang kualitas kesehatannya tidak baik. Maka dari itu penelitian ini ingin melihat apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi sikap remaja dalam mengkonsumi makanan cepat saji di kota depok. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Diandiaktika dengan subjek seluruh siswa/siswi SMA Diandiaktika berjumlah 117 subjek dengan teknik consecutive sampling. Desain studi penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Analisis data yang digunakan yaitu logistic regresi dengan variabel yang diteliti adalah sikap, jenis kelamin, status ekonomi dan pengetahuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan pengetahuan berhubungan signifikan dengan sikap remaja dalam mengonsumsi makanan cepat saji (nilai p = 0,010; OR = 3,414; CI 95% = 1,416 – 8,227). Sedangkan faktor jenis kelamin (nilai p = 0,220; OR = 0,782; CI 95% = 0,237 – 2,185) dan status ekonomi (nilai p = 0,110; OR = 0,774 ; CI 95% = 0,331 – 1,814) tidak menunjukkan ada hubungan. Faktor pengetahuan remaja menunjukkan hubungan yang signifikan dengan sikap mengkonsumsi makanan cepat saji setelah dikontrol oleh status ekonomi dan jenis kelamin remaja (nilai p = 0,006; OR = 3, 475; CI 95% = 1,435-8,412). Hasil ini dapat menjelaskan bahwa perlunya didikan orang tua dalam menentukan makanan yang sehat dan bergizi seimbang kepada anak-anaknya dimulai sejak dini, agar sikapnya dalam memilih makanan dapat lebih baik lagi hingga mereka dewasa.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Remaja Dalam Mengkonsumsi Makanan Cepat Saji Di Kota Depok Tahun 2022 Kristanti, Melly; Nugrohowati, Nunuk; Harjono, Yanti; Fairuz, Nabila
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 13 No. 01 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v13i01.2411

Abstract

Makanan cepat saji atau fast food adalah makanan yang dapat disajikan dalam waktu singkat dan praktis. Remaja mengalami pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang pesat. Mereka membutuhkan asupan gizi yang lebih besar dibandingkan saat mereka masih anak-anak. Dampak jangka panjang bagi seseorang yang mengkonsumsi makanan cepat saji tidak hanya berpengaruh pada dirinya, tetapi juga bagi keluarga, masyarakat, dan pada akhirnya dapat mempengaruhi Bangsa Indonesia karena memiliki sumber daya manusia yang kualitas kesehatannya tidak baik. Maka dari itu penelitian ini ingin melihat apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi sikap remaja dalam mengkonsumi makanan cepat saji di kota depok. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Diandiaktika dengan subjek seluruh siswa/siswi SMA Diandiaktika berjumlah 117 subjek dengan teknik consecutive sampling. Desain studi penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Analisis data yang digunakan yaitu logistic regresi dengan variabel yang diteliti adalah sikap, jenis kelamin, status ekonomi dan pengetahuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan pengetahuan berhubungan signifikan dengan sikap remaja dalam mengonsumsi makanan cepat saji (nilai p = 0,010; OR = 3,414; CI 95% = 1,416 – 8,227). Sedangkan faktor jenis kelamin (nilai p = 0,220; OR = 0,782; CI 95% = 0,237 – 2,185) dan status ekonomi (nilai p = 0,110; OR = 0,774 ; CI 95% = 0,331 – 1,814) tidak menunjukkan ada hubungan. Faktor pengetahuan remaja menunjukkan hubungan yang signifikan dengan sikap mengkonsumsi makanan cepat saji setelah dikontrol oleh status ekonomi dan jenis kelamin remaja (nilai p = 0,006; OR = 3, 475; CI 95% = 1,435-8,412). Hasil ini dapat menjelaskan bahwa perlunya didikan orang tua dalam menentukan makanan yang sehat dan bergizi seimbang kepada anak-anaknya dimulai sejak dini, agar sikapnya dalam memilih makanan dapat lebih baik lagi hingga mereka dewasa.