Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kearifan Lokal sebagai Sumber Daya untuk Membangun Kebhinekaan Peserta Didik Mulyangga, Dani; Jagad, Moh. Alief Bias; Cahyani, Vinda Regita; Ayundasari, Lutfiah
Journal of Innovation and Teacher Professionalism Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um084v3i12025p226-232

Abstract

Wawasan kebhinekaan memiliki urgensi yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman khususnya dalam lingkup sekolah. Wawasan kebhinekaan erat kaitannya dengan multikulturalisme yang menjadi pedoman berpikir dalam mengembangkan pendidikan dan selanjutnya membentuk karakter peserta didik. Konten multikultural di tengah perkembangan teknologi dan informasi pada abad 21 ini, dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran dengan memanfaatkan potensi lokal daerah yang bersangkutan. Salah satunya dengan mengintegrasikan muatan-muatan kearifan lokal dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kearifan lokal dapat digunakan sebagai sumber daya dalam membangun kebhinekaan peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan analisis kualitatif model induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas pembelajaran berbasis kearifan lokal dinilai lebih tinggi daripada pembelajaran konvensional. Kemudian terdapat perubahan sikap peserta didik, bermula dengan rendahnya tingkat kepekaan terhadap pentingnya menghargai perbedaan, menjadi bersikap penuh toleransi, kerjasama, dan saling berempati antar individu dari berbagai latar belakang sosiokultural yang berbeda-beda.
Potensi Situs Makam Ki Ageng Gribig sebagai Sumber Belajar Sejarah Lokal Peninggalan Peradaban Islam di Kota Malang Cahyani, Vinda Regita; Rizaldi, Martin
JSI: Jurnal Sejarah Islam Vol. 3 No. 2 (2024): Jurnal Sejarah Islam
Publisher : Progam Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Situs sejarah lokal memiliki potensi luar biasa sebagai sumber belajar dalam pembelajaran sejarah. Pemanfaatan sumber belajar di lingkungan akan mendorong motivasi belajar siswa karena sifatnya yang kontekstual. Kota Malang memiliki latar belakang sejarah panjang dan menarik untuk dikaji karena terdapat persebaran situs-situs sejarah yang masih dapat ditemui sampai saat ini tak terkecuali situs sejarah Islam. Proses Islamisasi di Kota Malang, tentunya tak terlepas dari seorang tokoh yang diabadikan namanya oleh masyarakat sebagai Ki Ageng Gribig. Situs Makam Ki Ageng Gribig merupakan ikon Kota Malang yang masih eksis sampai saat ini. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji potensi Situs Makam Ki Ageng Gribig sebagai sumber belajar sejarah lokal peninggalan peradaban Islam di Kota Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang bertujuan untuk menggali informasi terkait latar belakang sejarah Situs Makam Ki Ageng Gribig. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menganalisis potensi Situs Makam Ki Ageng Gribig. Keberadaan situs ini memiliki muatan-muatan edukasi yang berguna baik dalam lingkup masyarakat maupun pendidikan, yaitu nilai sejarah, nilai religi, nilai kerukunan, nilai karakter, dan nilai budaya. Situs Makam Ki Ageng Gribig selaras dengan pembelajaran sejarah Kurikulum Merdeka khususnya pada materi periode kerajaan Islam. Implementasinya dapat dilakukan berdasarkan tata laksana implementasi Kurikulum Merdeka. Potensi situs tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah lokal terutama dalam membangun sikap kesadaran sejarah.
PERANAN DAN KEPENTINGAN NASIONAL INDONESIA DALAM PENYELESAIAN KONFLIK ANTARA ARAB SAUDI-IRAN TAHUN 2016 Rizaldi, Martin; Cahyani, Vinda Regita
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 8, No 1 (2023): Juni
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v8i1.7949

Abstract

Abstrak: Konflik antara Arab Saudi dan Iran merupakan konflik yang berlatar belakang sektarianisme. Dimensi sektarian dinilai menjadi faktor utama munculnya konflik yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran yang semakin berkelanjutan. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan Peran dan Kepentingan Nasional Indonesia dalam Penyelesaian Konflik Arab Saudi dan Iran Tahun 2016. Metode penyusunan artikel ini menggunakan metode literature review, yaitu menggunakan sumber referensi dari buku dan jurnal. Pada tahun 2016, konflik menjadi semakin tegang karena Arab Saudi mengeksekusi seorang ulama Syiah, Syaik Nimr Baqr Al-Nimr, yang dituduh melakukan tindakan terorisme. Eksekusi tersebut semakin menghambat upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah. Indonesia sendiri berperan dalam mewujudkan upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah, seperti dalam penyelesaian konflik Arab Saudi-Iran tahun 2016, yaitu sebagai mediator atau penengah konflik. Peran Indonesia dalam menyelesaikan konflik di Timur Tengah sangat dihargai dan tidak merugikan kepentingan nasional atau prinsip politik Indonesia.Abstract:  The conflict between Saudi Arabia and Iran is a conflict with a background of sectarianism. The sectarian dimension is considered to be the main factor in the emergence of the conflict that has occurred between Saudi Arabia and Iran which has become increasingly sustainable. This article aims to explain the Role and National Interest of Indonesia in Resolving the Conflict between Saudi Arabia and Iran in 2016. The method of compiling this article uses the literature review method, which uses reference sources from books and journals. In 2016, the conflict became increasingly tense because Saudi Arabia executed a Shia cleric, Syaik Nimr Baqr Al-Nimr, who was accused of carrying out acts of terrorism. The executions have further hampered peace efforts in the Middle East region. Indonesia itself plays a role in realizing peace efforts in the Middle East region, such as in the resolution of the Saudi Arabia-Iran conflict in 2016, namely as a mediator or conflict mediator. The role played by Indonesia in resolving conflicts in the Middle East is highly valued and does not damage Indonesia's national interests or political principles.
Merawat Ingatan Sejarah Lokal Peristiwa Berdarah Pada Agresi Militer II di Desa Peniwen Melalui Monumen Peniwen Affair Malang Cahyani, Vinda Regita; Ayundasari, Lutfiah
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 7 No 2 (2023): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v7i2.12301

Abstract

The Peniwen Affair Monument is one of the monuments located in Peniwen Village, Malang Regency. This monument was erected as a form of appreciation and to commemorate the services of health heroes (PMR) and victims who died during the Bloody Incident during the Second Military Aggression. However, currently, the existence of the Peniwen Affair monument is still underestimated by some local people and even regional government agencies. Researchers consider it important to write a historical study regarding the Peniwen Affair monument with the aim of maintaining historical memory. This research uses a historical method which consists of four stages, namely heuristics, criticism, interpretation and historiography. The Peniwen Affair Monument has the potential for interesting and unique historical tourism so that it can become an icon of community pride. The Peniwen Affair Monument is also clear evidence of the atrocities of KNIL soldiers during the Second Military Aggression in Peniwen Village. The KNIL soldiers' atrocities against the people of Peniwen sparked protests by the Peniwen Christian Congregation led by Ds. Martodipuro to the World Church World Church Council (WCC). This protest was responded to internationally and resulted in world condemnation of the Netherlands for human rights violations and the murder of health workers which was a war crime. Several efforts to revive and remember the history of the Bloody Events of 1949 have begun to exist, but they are limited to a few community groups. This should receive attention and receive support, especially from regional government agencies, especially in maintaining the historical preservation of the Peniwen Affair Monument. Apart from that, it is hoped that the history of the Peniwen Affair Monument can also be presented in learning activities through local history lessons with the aim of maintaining historical memory.Monumen Peniwen Affair merupakan salah satu monumen yang terletak di Desa Peniwen, Kabupaten Malang. Monumen ini didirikan sebagai bentuk penghargaan dan untuk mengenang jasa para pahlawan kesehatan (PMR) serta korban yang telah gugur saat Peristiwa Berdarah pada Agresi Militer II. Namun pada saat ini, keberadaan monumen Peniwen Affair masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat setempat bahkan instansi pemerintahan daerah. Peneliti memandang penting penulisan kajian sejarah mengenai monumen Peniwen Affair dengan tujuan untuk merawat ingatan sejarah. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri atas empat tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Monumen Peniwen Affair memiliki potensi wisata sejarah yang menarik serta unik sehingga dapat menjadi suatu ikon kebanggaan masyarakat. Monumen Peniwen Affair juga merupakan salah satu bukti nyata kekejaman tentara KNIL saat Agresi Militer II di Desa Peniwen. Kekejaman tentara KNIL terhadap masyarakat Peniwen memicu aksi protes Jemaat Kristen Peniwen yang dipimpin oleh Ds. Martodipuro ke Gereja Dunia World Church Council (WCC). Protes ini ditanggapi oleh internasional dan berujung pada kecaman dunia kepada Belanda atas pelanggaran HAM serta pembunuhan tenaga kesehatan yang merupakan kejahatan perang. Beberapa upaya untuk menghidupkan dan mengingat kembali sejarah Peristiwa Berdarah tahun 1949 sudah mulai ada, namun sebatas beberapa kelompok masyarakat. Seharusnya hal tersebut dapat menjadi perhatian dan mendapat dukungan, terutama dari pihak instansi pemerintahan daerah utamanya dalam menjaga kelestarian sejarah Monumen Peniwen Affair. Selain itu, diharapkan sejarah dari Monumen Peniwen Affair juga dapat dihadirkan dalam kegiatan pembelajaran melalui pembelajaran sejarah lokal dengan tujuan untuk merawat ingatan sejarah.