Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kejadian Postpartum Blues pada Ibu Postpartum di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Dwi Ernawati; Wa Ode Merlin; Ismarwati Ismarwati
Journal of Ners and Midwifery Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v7i2.ART.p203-212

Abstract

Postpartum blues dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental ringan yang sering dialami oleh wanita pasca persalinan  sehingga sering tidak dipedulikan, tidak terdiagnosa dan tidak tertangani, apabila postpartum blues ini tidak sembuh selama 2 minggu maka akan berubah menjadi postpartum depression dan postpartum psycosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian postpartum blues pada ibu postpartum. Desain penelitian yang digunakan deskriptif kuantitatif dengan pendekatan waktu cross sectional. Tempat penelitian di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Jumlah sampel 30 responden dengan teknik pengambilan sampel quota sampling. Analisa data menggunakan analisis univariate. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian responden mengalami  postpartum blues (53,3%) dengan resiko sedang mengalami depresi postpartum (43,3%) dan resiko berat untuk mengalami depresi postpartum (10%). Pada penelitian ini didapatkan 53,3% dari seluruh ibu postpartum di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta mengalami postpartum blues. Rekomendasi dari penelitian ini adalah adanya skrining postpartum blues oleh tenaga kesehatan sebelum ibu nifas di perbolehkan pulang dan ada kunjungan nifas bagi ibu ibu yang terdeteksi postpartum blues saat di rumah sakit. Postpartum blues is categorized as a mild mental disorder syndrome that is often experienced by postpartum women so that it is often ignored, undiagnosed and untreated, if the postpartum blues is not healed for 2 weeks it will turn into postpartum depression and postpartum psycosis. This study aims to determine the description of the incidence of postpartum blues in postpartum mothers. The research design used is quantitative descriptive with cross sectional time approach. Research site at PKU Muhammadiyah Hospital Yogyakarta. The number of samples was 30 respondents with a quota sampling technique. Data analysis uses univariate analysis. The results of this study indicate that some respondents experienced postpartum blues (53.3%) with a moderate risk of experiencing postpartum depression (43.3%) and a severe risk for experiencing postpartum depression (10%). Conclusions and Recommendations from the results of the above study it can be concluded that 53.3% of all postpartum mothers in PKU Muhammadiyah Yogyakarta Hospital experienced postpartum blues. The recommendation of this study is that health workers related to postpartum mothers should pay more attention to psychological adaptation of postpartum mothers and to be able to overcome the problems of postpartum blues
Hubungan Kadar Leukosit Dengan Kadar Eritrosit Pada Pasien Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) Di RSUP DR. Sardjito Yogyakarta Dicky Chabib Dwiarta; Ismarwati Ismarwati; Arifiani Agustin Amalia
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 1 (2025): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i1.10638

Abstract

Leukemia Limfoblastik Akut merupakan jenis kanker sel limfoblas yang ditandai oleh proliferasi sel leukosit tidak normal yang dapat mengganggu produksi komponen darah lain, termasuk eritrosit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar leukosit dengan kadar eritrosit pada pasien leukemia limfoblastik akut di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Penelitian menggunakan desain observasional analitik cross-sectional dengan data sekunder rekam medis pasien leukemia limfoblastik akut periode Januari-Desember 2024. Sampel diperoleh melalui teknik total sampling, dengan kriteria inklusi pasien berusia 0–17 tahun yang memiliki data pemeriksaan kadar leukosit dan kadar eritrosit pada saat diagnosis awal. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-Square pada tingkat signifikansi α=0,05. Kebanyakan pasien memiliki kadar leukosit tinggi (51,7%) dan kadar eritrosit rendah (75,0%), terutama dalam kelompok usia 0–5 tahun dan pada jenis kelamin laki-laki. Namun, uji Chi-Square menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara kadar leukosit dan eritrosit (p=0,463). Meskipun secara klinis kadar leukosit meningkat dan eritrosit menurun pada pasien LLA, tidak terdapat hubungan statistik signifikan antara keduanya. Penelitian lanjutan dengan desain prospektif diperlukan untuk eksplorasi lebih lanjut hubungan tersebut. Temuan ini penting untuk pemantauan dan pengelolaan hematologi pasien LLA secara lebih komprehensif.
Nutrition Patterns and Iron Supplementation in the Prevention of Anaemia in Adolescent Girls Heldalia Faiza Putri; Cesa Septiana Pratiwi; Ismarwati Ismarwati
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 11 No. 1 (2026): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51851/jmik.v11i1.1013

Abstract

Background: Anaemia among adolescent girls remains a major public health problem in developing countries and is associated with inadequate dietary intake and low adherence to iron supplementation. Despite numerous studies examining dietary patterns and iron supplementation, evidence regarding the nutritional, behavioural, and environmental factors influencing anaemia prevention has not been comprehensively synthesised. This study aimed to map the available scientific evidence on nutrition patterns and iron supplementation in the prevention of anaemia among adolescent girls. Method: A scoping review was conducted following the Arksey and O’Malley framework. Literature searches were performed in PubMed, ScienceDirect, Wiley Online Library, and Google Scholar databases for studies published between 2020 and 2025. Articles were screened according to predefined inclusion and exclusion criteria. Data were extracted, charted, and synthesised thematically. Of the 317 articles identified, 11 studies met the eligibility criteria and were included in the review. Result: The review identified four major themes: behavioural and psychosocial factors, nutritional patterns and nutrient intake, adherence to iron supplementation, and educational interventions. Low intake of iron, protein, and vitamin C, unhealthy dietary habits, and poor adherence to iron-folic acid supplementation were consistently associated with a higher risk of anaemia. Knowledge, motivation, attitudes, self-efficacy, and support from schools and families influenced preventive behaviours and supplementation adherence. Educational interventions improved knowledge and adherence; however, their impact on haemoglobin levels was inconsistent across studies. Conclusion: Anaemia prevention among adolescent girls requires an integrated approach combining dietary improvement, iron supplementation, behavioural interventions, and supportive environments. Strengthening nutrition education, promoting adherence to supplementation programmes, and implementing school-based health promotion strategies are recommended to reduce the burden of anaemia among adolescent girls.
Perbedaan Hasil Pemeriksaan Hemoglobin, Hematokrit, Dan Jumlah Eritrosit Menggunakan Mode Whole Blood Dengan Prediluted Pada Alat Hematology Analyzer Ida I Dewa Vitha Tri Switri; Rosmita Anggraeni; Ismarwati Ismarwati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1165

Abstract

Pemeriksaan hematologi merupakan cabang ilmu yang berfokus pada darah dan komponen penyusunnya. Hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit merupakan parameter penting yang diperiksa menggunakan hematology analyzer. Alat ini menyediakan dua mode pemeriksaan, yaitu mode whole blood yang membutuhkan 1 mL sampel darah dan mode prediluted yang hanya memerlukan 20 μL, yang digunakan ketika volume sampel darah terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, dan jumlah eritrosit serta nilai indeks bias antara mode whole blood dan mode prediluted pada Hematology Analyzer Mindray BC-20. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan desain cross-sectional komparatif, melibatkan 30 responden sehat. Sampel darah EDTA diperiksa menggunakan kedua mode dan dianalisis menggunakan uji paired samples t-test dan uji wilcoxon signed-rank pada aplikasi SPSS, serta dilakukan perhitungan nilai indeks bias menggunakan batas desirable berdasarkan European Federation of Clinical Chemistry and Laboratory Medicine (EFLM) Biological Variation Database 2022. Hasil penelitian menunjukkan rerata hemoglobin sebesar 13,27 dan 14,70 g/dL, hematokrit sebesar 40,76 dan 43,16%, serta eritrosit sebesar 4,75 dan 5,10 × 10⁶/mm³ masing-masing pada mode whole blood dan prediluted, dengan nilai p < 0,001 pada seluruh parameter. Perhitungan nilai indeks bias menunjukkan bahwa ketiga parameter melebihi batas desirable EFLM 2022, yang mengindikasikan bahwa perbedaan hasil antara kedua mode tidak hanya bermakna secara statistik, tetapi juga bermakna secara klinis. Kesimpulan penelitian ini adalah mode prediluted tidak dapat digunakan sebagai pengganti mode whole blood dalam pemeriksaan hematologi untuk mendukung penegakan diagnosis penyakit, dan apabila penggunaannya tidak dapat dihindari, hasil yang diperoleh perlu dikonversi terlebih dahulu ke nilai mode whole blood.