p-Index From 2021 - 2026
0.702
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Borneo Nursing Journal
Rosmita Anggraeni
Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Perbedaan Hasil Pemeriksaan Hemoglobin, Hematokrit, Dan Jumlah Eritrosit Menggunakan Mode Whole Blood Dengan Prediluted Pada Alat Hematology Analyzer Ida I Dewa Vitha Tri Switri; Rosmita Anggraeni; Ismarwati Ismarwati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1165

Abstract

Pemeriksaan hematologi merupakan cabang ilmu yang berfokus pada darah dan komponen penyusunnya. Hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit merupakan parameter penting yang diperiksa menggunakan hematology analyzer. Alat ini menyediakan dua mode pemeriksaan, yaitu mode whole blood yang membutuhkan 1 mL sampel darah dan mode prediluted yang hanya memerlukan 20 μL, yang digunakan ketika volume sampel darah terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, dan jumlah eritrosit serta nilai indeks bias antara mode whole blood dan mode prediluted pada Hematology Analyzer Mindray BC-20. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan desain cross-sectional komparatif, melibatkan 30 responden sehat. Sampel darah EDTA diperiksa menggunakan kedua mode dan dianalisis menggunakan uji paired samples t-test dan uji wilcoxon signed-rank pada aplikasi SPSS, serta dilakukan perhitungan nilai indeks bias menggunakan batas desirable berdasarkan European Federation of Clinical Chemistry and Laboratory Medicine (EFLM) Biological Variation Database 2022. Hasil penelitian menunjukkan rerata hemoglobin sebesar 13,27 dan 14,70 g/dL, hematokrit sebesar 40,76 dan 43,16%, serta eritrosit sebesar 4,75 dan 5,10 × 10⁶/mm³ masing-masing pada mode whole blood dan prediluted, dengan nilai p < 0,001 pada seluruh parameter. Perhitungan nilai indeks bias menunjukkan bahwa ketiga parameter melebihi batas desirable EFLM 2022, yang mengindikasikan bahwa perbedaan hasil antara kedua mode tidak hanya bermakna secara statistik, tetapi juga bermakna secara klinis. Kesimpulan penelitian ini adalah mode prediluted tidak dapat digunakan sebagai pengganti mode whole blood dalam pemeriksaan hematologi untuk mendukung penegakan diagnosis penyakit, dan apabila penggunaannya tidak dapat dihindari, hasil yang diperoleh perlu dikonversi terlebih dahulu ke nilai mode whole blood.
Gambaran Morfologi Eritrosit, Leukosit, Dan Trombosit Terhadap Pewarnaan Giemsa Berdasarkan Waktu Penyimpanan Yofinda Dinda Bistara; Rosmita Anggraeni; Tri Dyah Astuti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1269

Abstract

Pewarnaan Giemsa merupakan salah satu metode pewarnaan yang sering digunakan pada pemeriksaan sediaan apus darah tepi (SADT) untuk mengamati morfologi eritrosit, leukosit, dan trombosit. Kualitas larutan pewarna Giemsa dapat mengalami penurunan akibat lama waktu penyimpanan sehingga memengaruhi hasil pengamatan mikroskopis dan ketepatan interpretasi morfologi sel darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu penyimpanan larutan Giemsa 10% terhadap kualitas morfologi eritrosit, leukosit, dan trombosit pada SADT. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment menggunakan variasi waktu penyimpanan larutan Giemsa selama 0 jam, 6 jam, 12 jam, 24 jam, dan 48 jam. Sampel penelitian berupa sediaan apus darah tepi yang diwarnai menggunakan larutan Giemsa sesuai variasi waktu penyimpanan. Penilaian kualitas morfologi dilakukan menggunakan metode skoring berdasarkan kejelasan warna, bentuk sel, dan batas sel pada eritrosit, leukosit, dan trombosit. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji Friedman untuk mengetahui perbedaan kualitas pewarnaan pada setiap waktu penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan kualitas morfologi sel darah seiring bertambahnya waktu penyimpanan larutan Giemsa. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p eritrosit sebesar 0,002, leukosit 0,001, dan trombosit 0,000 (p<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh waktu penyimpanan larutan Giemsa terhadap kualitas morfologi sel darah pada SADT. Larutan Giemsa yang digunakan segera setelah pembuatan (0 jam) memberikan hasil pewarnaan terbaik.
Gambaran Hasil Pemeriksaan Jumlah Trombosit dan Hematokrit Pada Pasien Dengue Di Puskesmas Ngaglik 1 Sefi Fadila; Rosmita Anggraeni; Tri Dyah Astuti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1422

Abstract

Demam berdarah dengue, yang disebabkan oleh virus dengue, tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Tes laboratorium, seperti penghitungan trombosit dan pengukuran hematokrit, sangat penting untuk mendiagnosis dan memantau pasien demam berdarah. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hasil pengujian penghitungan trombosit dan hematokrit pada pasien demam berdarah di Puskesmas Ngaglik. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif. Pengambilan sampel total digunakan untuk mengumpulkan 135 catatan pasien demam berdarah yang diperoleh dari data laboratorium sekunder pada tahun 2025. Analisis data dilakukan menggunakan metode univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Temuan menunjukkan bahwa mayoritas pasien demam berdarah adalah dewasa, dengan 91 responden (67,4%), dan 77 responden (57,0%) adalah laki-laki. Analisis penghitungan trombosit mengungkapkan bahwa sebagian besar pasien mengalami trombositopenia, yaitu 110 peserta (81,5%), sedangkan 25 peserta (18,5%) memiliki nilai normal. Selanjutnya, analisis kadar hematokrit menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki hematokrit dalam kisaran normal, yaitu 68 peserta (50,4%), diikuti oleh 37 peserta (27,4%) dengan hematokrit rendah dan 30 peserta (22,2%) dengan hematokrit tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa trombositopenia merupakan gangguan hematologis yang paling umum terjadi pada pasien demam berdarah, sementara fluktuasi kadar hematokrit mencerminkan kondisi klinis dan tahap penyakit.
Karakteristik Penderita Anemia Pada Gagal Ginjal Kronis Nur Syazliana; Ismarwati; Rosmita Anggraeni
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1463

Abstract

Gagal ginjal kronis (GGK) adalah suatu kondisi yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang progresif dari waktu ke waktu, sering menyebabkan komplikasi seperti anemia. Anemia pada pasien GGK dapat secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup dan meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik anemia pada pasien GGK yang menjalani hemodialisis di RSU PKU Muhammadiyah Bantul. Penelitian observasional deskriptif ini menggunakan pendekatan cross-sectional, data sekunder dari catatan medis 325 pasien GGK dari Januari hingga Desember 2025. Sampel dari 77 pasien dipilih menggunakan pengambilan sampel berturut-turut, dengan data yang dikumpulkan pada usia, jenis kelamin, penyakit penyerta, lama menjalani hemodialisis, dan kadar hemoglobin. Penelitian ini sudah mendapatkan ethical clearance No.2351/KEP.UNISA/IV/2026. Temuan mengungkapkan bahwa mayoritas pasien GGK anemia berada pada kelompok usia lanjut usia 56-65 tahun (48%), wanita 53,2%, dan menderita diabetes mellitus sebagai penyakit penyerta yang paling umum 36,3%, proporsi pasien telah menjalani hemodialisis selama ≤12 bulan dan ≥24 bulan masing-masing 38,9%, dan sebagian besar mengalami anemia berat hemoglobin <8,0 g/dL (53,2%). Kesimpulannya, anemia pada pasien GGK dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk usia, jenis kelamin, penyakit penyerta, lama menjalani hemodialisis, dan kadar hemoglobin dengan anemia berat.