Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Persepsi Guru di SMP Negeri 35 Medan Terhadap Penggunaan Media Digital Dalam Pembelajaran Sastra Irma Yanti Sitorus; Kevin Pardede; Nanda Claudia Pardede; Yasinta Theresya Claudia Malau; Safinatul Hasanah Harahap
Journal of Education Transportation and Business Vol 1, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetbus.v1i2.4326

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi guru terhadap penggunaan media digital dalam pembelajaran sastra di SMP Negeri 35 Medan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan seorang guru Bahasa Indonesia dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki pandangan positif terhadap integrasi media digital dalam pembelajaran sastra, yang dinilai mampu meningkatkan minat, partisipasi, dan kreativitas siswa. Media digital seperti video, aplikasi interaktif, dan platform multimedia memperkaya pengalaman belajar siswa serta memudahkan akses terhadap karya sastra. Namun, tantangan yang dihadapi dalam penerapan media digital meliputi keterbatasan akses siswa terhadap perangkat digital dan internet, serta kebutuhan peningkatan keterampilan teknis guru. Oleh karena itu, peningkatan infrastruktur dan pelatihan teknologi sangat diperlukan untuk memaksimalkan manfaat media digital dalam pembelajaran sastra.
Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Pelastarian Bahasa Indonesia di Kalangan Remaja Eylen Yossi Siagian; Najla Haifa Maulidina Tarigan; Agatha Olivia Purba; Apri Ulita; Nanda Claudia Pardede; Elly Prihasti Wuriyani
Journal of Constitutional, Law and Human Rights Vol. 1 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jclhr.v1i2.5720

Abstract

Penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja semakin meluas akibat pengaruh media sosial dan interaksi sosial yang dinamis. Fenomena ini mencerminkan kreativitas berbahasa, tetapi juga berpotensi mengurangi kemampuan remaja dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh bahasa gaul terhadap pelestarian bahasa Indonesia. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah berbagai sumber akademik dan publikasi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun bahasa gaul memperkaya kosakata, penggunaannya yang berlebihan dapat menurunkan keterampilan remaja dalam menyusun kalimat formal dan memahami teks akademik. Selain itu, dominasi bahasa gaul dalam kehidupan sehari-hari menyebabkan pergeseran pola berbahasa yang berdampak pada komunikasi resmi dan akademik. Dengan demikian, fenomena ini menimbulkan tantangan dalam menjaga penggunaan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah kebahasaan.
Pemerolehan Bahasa Anak Usia 5 Tahun: Analisis Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis Agatha Olivia Purba; Baherianta Tarigan; Fenny Yuliani Pasaribu; Nanda Claudia Pardede; Nurul Azizah
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 4 (2025): APRIL 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemerolehan bahasa pada anak usia 5 tahun, khususnya dalam aspek fonologi, morfologi, dan sintaksis. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa rekaman tuturan anak dalam situasi interaksi alami. Analisis fonologi mengamati kesalahan pelafalan dan pola fonotaktik, analisis morfologi menyoroti pembentukan kata melalui afiksasi, reduplikasi, dan kata majemuk, serta analisis sintaksis mengkaji konstruksi kalimat sederhana dan majemuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak usia 5 tahun telah menguasai sebagian besar sistem fonologis, meskipun masih terdapat kesalahan artikulasi. Dalam morfologi, mereka memahami penggunaan imbuhan tetapi kesulitan dalam kata kompleks. Dalam sintaksis, mereka mampu membentuk kalimat sederhana, namun masih melakukan kesalahan dalam struktur kalimat majemuk. Temuan ini memberikan wawasan tentang perkembangan bahasa anak dan implikasinya bagi pendidikan serta intervensi linguistik.
Busana Tradisional Pakpak sebagai Identitas Budaya: Kajian Semiotik: Pakpak Traditional Clothing as a Cultural Identity: A Semiotic Study Daniela Maretty Situmorang; Fenny Yuliani Pasaribu; Irzi Armando Panjaitan; Nanda Claudia Pardede; Kevin Pardede; Tri Indah Prasasti
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2847

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji cara kerja tanda dalam busana tradisional Pakpak serta menjelaskan kontribusinya dalam pembentukan dan peneguhan identitas budaya. Penelitian menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotik. Semiotika Roland Barthes digunakan sebagai kerangka utama untuk membaca lapisan denotasi, konotasi, dan mitos budaya, sedangkan semiotika Charles Sanders Peirce digunakan sebagai kerangka pendukung untuk mengklasifikasikan tanda ke dalam ikon, indeks, dan simbol. Sumber data berupa dokumen akademik, artikel penelitian, deskripsi visual busana adat Pakpak, dan dokumentasi budaya yang relevan. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi dokumenter, dan pencatatan unsur visual busana, kemudian dianalisis melalui identifikasi tanda, pengodean denotatif, klasifikasi tanda Peircean, interpretasi konotatif, pembacaan mitos budaya, dan penarikan makna identitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baju Merapi-api, bulang-bulang, oles, borgot, rante abak, saong, leppa-leppa, rempu riar, ucang, tongket, serta kombinasi warna hitam, merah, dan putih bekerja sebagai sistem tanda yang menandai kehormatan, kewibawaan, kesantunan, status sosial, relasi adat, dan kesinambungan tradisi. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa busana tradisional Pakpak merupakan medium komunikasi budaya yang menghubungkan tubuh, adat, memori, dan identitas etnik.
TELAAH PEMBELAJARAN BIPA BERBASIS BUDAYA LOKAL UNTUK PENGUATAN KOMPETENSI INTERKULTURAL Fenny Yuliani Pasaribu; Daniela Maretty Situmorang; Nanda Claudia Pardede; Safinatul Hasanah Harahap
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i2.2621

Abstract

Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) perlu dirancang bukan hanya sebagai transfer struktur bahasa, tetapi juga sebagai proses pemerolehan makna sosial dan budaya yang melekat pada penggunaan bahasa Indonesia. Artikel ini bertujuan menelaah pembelajaran BIPA berbasis budaya lokal sebagai strategi pedagogis untuk memperkuat kompetensi interkultural pemelajar asing. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka deskriptif melalui sintesis tematik terhadap literatur tentang BIPA, budaya lokal, pembelajaran bahasa kontekstual, dan kompetensi interkultural. Data dianalisis melalui reduksi informasi, pengodean tema, pemetaan relasi konsep, dan interpretasi kritis. Hasil telaah menunjukkan bahwa budaya lokal berfungsi sebagai sumber input autentik, konteks pragmatik, dan medium refleksi lintas budaya dalam pembelajaran BIPA. Integrasi budaya lokal dapat dilakukan melalui teks budaya, dialog situasional, proyek berbasis budaya, media digital, kunjungan virtual, simulasi sosial, dan penilaian performatif. Kompetensi interkultural pemelajar dapat diperkuat melalui empat dimensi utama, yaitu sikap terbuka, pengetahuan budaya, keterampilan menafsirkan dan berinteraksi, serta kesadaran kritis terhadap perbedaan budaya. Kajian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran BIPA berbasis budaya lokal berpotensi memperkuat kemampuan komunikasi lintas budaya apabila dirancang secara bertahap, sesuai level BIPA, dan disertai evaluasi yang mengukur penggunaan bahasa dalam konteks sosial budaya.
PERAN LEKSIKOGRAFI DALAM PENDOKUMENTASIAN DAN PELESTARIAN BAHASA DAERAH: RELEVANSINYA BAGI BAHASA NIAS Daniela Maretty Situmorang; Fenny Yuliani Pasaribu; Irzi Armando Panjaitan; Nanda Claudia Pardede; Ferdinand Simbolon
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i2.2707

Abstract

Ancaman terhadap keberlangsungan bahasa daerah di Indonesia, termasuk bahasa Nias, semakin nyata seiring menguatnya pergeseran bahasa, melemahnya transmisi antargenerasi, dan terbatasnya dokumentasi leksikal yang dapat diakses publik. Dalam konteks tersebut, leksikografi dipandang sebagai instrumen strategis untuk mendokumentasikan kosakata, merekam pengetahuan budaya, dan mendukung revitalisasi bahasa. Artikel ini bertujuan menganalisis peran leksikografi dalam pendokumentasian dan pelestarian bahasa daerah serta merumuskan relevansinya bagi pengembangan dokumentasi bahasa Nias. Penelitian menggunakan studi pustaka naratif-analitis dengan menelaah buku linguistik, artikel jurnal, dan dokumen kelembagaan yang relevan dengan leksikografi, dokumentasi bahasa, bahasa Nias, dan pelestarian bahasa daerah. Analisis dilakukan melalui reduksi data, pengelompokan tema, sintesis temuan, dan interpretasi kritis. Hasil kajian menunjukkan bahwa leksikografi tidak hanya berfungsi sebagai penyusunan daftar kata, tetapi juga sebagai kerja ilmiah untuk menafsirkan makna, mencatat variasi pemakaian, dan mengarsipkan pengetahuan budaya. Bagi bahasa Nias, leksikografi relevan untuk mendokumentasikan kosakata kekerabatan, adat, ekologi, tradisi lisan, dan ungkapan sosial yang berpotensi melemah penggunaannya pada generasi muda. Kajian ini mengimplikasikan perlunya pengembangan kamus digital bahasa Nias berbasis komunitas yang memadukan validasi penutur, analisis linguistik, dan teknologi digital agar dokumentasi bahasa tidak berhenti sebagai arsip pasif, tetapi berfungsi sebagai sarana pembelajaran dan revitalisasi.