Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Persepsi Guru di SMP Negeri 35 Medan Terhadap Penggunaan Media Digital Dalam Pembelajaran Sastra Irma Yanti Sitorus; Kevin Pardede; Nanda Claudia Pardede; Yasinta Theresya Claudia Malau; Safinatul Hasanah Harahap
Journal of Education Transportation and Business Vol 1, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetbus.v1i2.4326

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi guru terhadap penggunaan media digital dalam pembelajaran sastra di SMP Negeri 35 Medan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan seorang guru Bahasa Indonesia dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki pandangan positif terhadap integrasi media digital dalam pembelajaran sastra, yang dinilai mampu meningkatkan minat, partisipasi, dan kreativitas siswa. Media digital seperti video, aplikasi interaktif, dan platform multimedia memperkaya pengalaman belajar siswa serta memudahkan akses terhadap karya sastra. Namun, tantangan yang dihadapi dalam penerapan media digital meliputi keterbatasan akses siswa terhadap perangkat digital dan internet, serta kebutuhan peningkatan keterampilan teknis guru. Oleh karena itu, peningkatan infrastruktur dan pelatihan teknologi sangat diperlukan untuk memaksimalkan manfaat media digital dalam pembelajaran sastra.
Gamifikasi dalam Desain Pembelajaran BIPA: Analisis Literatur terhadap Integrasi Empat Keterampilan Berbahasa Claudia Ratna Ningsih; Samuel Simamora; Yasinta Theresya Claudia Malau; Safinatul Hasanah Harahap
AR-RUMMAN: Journal of Education and Learning Evaluation Vol. 3 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/arrumman.v3i1.8156

Abstract

Penelitian ini mengkaji integrasi gamifikasi dalam desain pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), khususnya dalam kaitannya dengan pengembangan empat keterampilan berbahasa: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dengan menggunakan metode studi literatur sistematis, penelitian ini menganalisis berbagai kajian yang telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi selama satu dekade terakhir. Temuan menunjukkan bahwa elemen gamifikasi seperti poin, level, lencana, papan peringkat, dan umpan balik instan terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi, keterlibatan, serta hasil belajar bahasa pada penutur asing. Gamifikasi mendukung pengembangan keterampilan berbahasa secara terintegrasi melalui kuis interaktif (menyimak dan membaca), aktivitas berbasis misi (berbicara dan menulis), serta platform digital seperti Duolingo, Quizizz, dan Kahoot!. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa efektivitas gamifikasi sangat ditentukan oleh desain pedagogis yang mendasarinya, bukan semata-mata pada penggunaan teknologinya. Hasil kajian ini memberikan kontribusi konseptual bagi perancangan pembelajaran BIPA yang pedagogis, integratif, dan adaptif terhadap kebutuhan pelajar asing.
Bahasa sebagai Bukti Pidana di Media Digital: Kajian Linguistik Forensik Makna, Maksud, dan Tindak Tutur Claudia Ratna Ningsih; Samuel Simamora; Yasinta Theresya Claudia Malau; Lili Tansliova
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 9 (2026): SEPTEMBER 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media digital membuat tuturan mudah direkam, disebarkan, dan diajukan sebagai bukti dalam perkara pidana. Artikel ini bertujuan menjelaskan bagaimana bahasa berfungsi sebagai bukti dalam perkara pidana di media digital melalui kajian linguistik forensik, dengan fokus pada penetapan makna, maksud, dan tindak tutur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik analisis dokumen terhadap lima putusan pengadilan yang bersumber dari Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia. Analisis dilakukan secara bertahap melalui telaah semantik, telaah pragmatik berdasarkan aspek situasi tutur, dan pemeriksaan syarat kebahasaan tindak tutur. Hasil kajian menunjukkan bahwa makna leksikal saja tidak cukup untuk menyatakan bahwa sebuah tuturan digital melawan hukum, sebab makna itu baru dapat ditetapkan setelah penutur, mitra tutur, konteks, dan tujuan tuturan diperhitungkan. Maksud tuturan perlu diuji melalui jenis tindak ilokusi dan terpenuhinya syarat kebahagiaan tindak tutur. Adapun keterangan ahli bahasa berfungsi membantu hakim menafsirkan tuturan, bukan menggantikan kewenangan hakim menilai kesalahan terdakwa. Temuan ini menunjukkan pentingnya pelibatan ahli bahasa sejak tahap penyidikan pada perkara yang unsur pokoknya berupa tuturan.