Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Peran Regulasi Emosi sebagai Moderator dalam Hubungan antara Stres Akademik dan Cyberslacking: Tantangan Sosial di Era Digital Ida Bagus Gde Agung Yoga Pramana; Putu Riana Artyanti Putri; Ratna Devy Winayanti; Ni Wayan Yuli Anggreni; Ni Nyoman Imas Pradnyanita Wistarini; Putu Ayu Onik Pratidina
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 2 (2025): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i2.29601

Abstract

Academic stress, stemming from elevated academic expectations, frequently incites maladaptive behaviors such as cyberslacking, defined as engaging in non-academic internet activities during study periods. Emotion regulation, as a skill for a person to manage emotions in an adaptive way, and the presence of social support factors are thought to moderate this link. This study seeks to examine the function of emotion regulation as a moderating factor in the correlation between academic stress and cyberslacking among university students. This research utilizes a quantitative methodology with a correlational framework, encompassing 134 undergraduate students in Denpasar. Data were gathered via online questionnaires and processed with Moderated Regression Analysis (MRA) using SPSS version 25. The findings demonstrate that academic stress exerts a positive and significant influence on cyberslacking (β = 1.300; p < 0.05). Emotion regulation moderates the association between academic stress and cyberslacking (β = 0.019; p < 0.05), indicating that students with high emotion control are more likely to cope with stress without resorting to cyberslacking. The findings indicate that emotion control may act as a protective factor in mitigating the adverse effects of academic stress on cyberslacking.
Skripsi, Tugas Akhir, dan Deadline: Panduan Bertahan untuk Mahasiswa Semester Akhir I Gede Pradana Marabella Putra; Anak Agung Gede Wiranata; I Gede Phio Ananta Karna; Ariel Caesar Aprilio Leong; Ni Wayan Yuli Anggreni
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6273

Abstract

Periode akhir studi sarjana merupakan fase kritis yang penuh tekanan multidimensi. Artikel konseptual ini bertujuan untuk menganalisis sumber stres, mengevaluasi strategi koping, dan merumuskan panduan praktis manajemen stres bagi mahasiswa semester akhir yang menghadapi beban skripsi, deadline yang bertumpuk, dan ketidakpastian masa depan. Metode yang digunakan adalah studi literatur sistematis dan analisis reflektif terhadap pengalaman empiris penulis dan teman sejawat. Hasil analisis mengidentifikasi tiga kelompok stresor utama: tekanan akademik-prosedural (beban skripsi, bimbingan, administrasi), tekanan psiko-emosional (sindrom penipu, perfeksionisme, kecemasan eksistensial), dan tekanan sosial-lingkungan (harapan keluarga, isolasi, budaya institusi). Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa banyak mahasiswa terjebak dalam strategi koping maladaptif, seperti prokrastinasi emosional, ruminasi, dan personalisasi kritik, yang justru memperkuat siklus stres. Sebagai solusi, artikel ini menawarkan sebuah kerangka kerja empat langkah yang praktis dan langsung dapat diimplementasikan: (1) Berhenti & Tenangkan Diri dengan teknik regulasi emosi segera, (2) Pecah & Kerjakan tugas besar menjadi bagian-bagian kecil yang terkelola, (3) Istirahat & Isi Energi melalui komitmen pada perawatan diri, dan (4) Ubah Cara Pandang untuk mereframing tantangan sebagai pelatihan ketahanan mental. Simpulannya, manajemen stres yang efektif di semester akhir bergantung pada serangkaian intervensi mikro yang konsisten dan dimulai dari penguasaan diri atas reaksi emosi spontan, sehingga mahasiswa dapat tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang melalui proses ini.
EDUKASI TAHAPAN KONFLIK SOSIAL DAN ORGANISASI DALAM MENURUNKAN TINGKAT STRES INDIVIDU DAN KELOMPOK PADA MASYARAKAT PERKOTAAN DI KOTA DENPASAR Ni Komang Ayu Sri Pradnyanita; Ni Kadek Yanti Yuliastiawati; Angelina Made Elva Dwi Jayanthi; Ni Kadek Vera Dwi Lestari; Fransiska Viviana Vesa Goa; Ni Wayan Yuli Anggreni
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 6 (2025): Vol. 6 No. 6 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i6.53930

Abstract

Masyarakat perkotaan di Kota Denpasar menghadapi konflik sosial dan organisasi yang meningkat akibat tingginya intensitas interaksi, keberagaman budaya, dan tekanan pekerjaan, yang sering menimbulkan stres pada individu dan kelompok. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai tahapan konflik serta memberikan strategi pengelolaan stres. Pendekatan yang digunakan bersifat edukatif-partisipatif, meliputi penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, dan simulasi kasus yang disesuaikan dengan konteks lokal. Teknik pengumpulan data meliputi kuesioner pra dan pasca kegiatan, observasi, serta diskusi reflektif untuk menilai perubahan pengetahuan dan persepsi stres peserta. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman peserta tentang tahapan konflik, keterampilan pengelolaan konflik, serta penurunan persepsi stres. Selain itu, kohesi kelompok dan efektivitas komunikasi juga meningkat, menunjukkan dampak positif kegiatan pada kesejahteraan psikososial individu dan kelompok. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi partisipatif berbasis konteks efektif sebagai intervensi preventif dalam menurunkan stres dan menciptakan lingkungan sosial serta organisasi yang harmonis di masyarakat perkotaan.
The Role of Emotional Intelligence and Problem Focused Coping on the Stress Level of Students in Bali Who Are Writing Their Thesis Ratna Devy Winayanti; Zabrina Valeria Putri Zulfikar; Putu Riana Artyanti Putri; Ida Bagus Gde Agung Yoga Pramana; Ayu Rahmaditha Apsary; Ni Wayan Yuli Anggreni
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 2 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v13i2.15191

Abstract

Thesis preparation is one of the things that has the potential to cause stress for final year students. The stress of thesis preparation is influenced by the ability of students to control their emotions when facing obstacles in the preparation of the thesis so that individuals can think clearly in looking at problems. Stress is also influenced by the way individuals perceive problems and plan problem-solving strategies in the thesis preparation process. This study aims to find out the role of emotional intelligence and problem focus coping on the stress level of students when writing a thesis. Data was collected from 129 students in Bali who were writing their thesis. The stress level scale, emotional intelligence scale, and problem focus coping scale were used to measure these variables. The results of multiple regression showed that emotional intelligence and problem focus coping could explain 47.2% of the stress variant of students who were working on their thesis. This research can provide information so that students can improve and maintain emotional intelligence and problem-focused coping to reduce stress levels in students who are preparing their thesis.Penyusunan skripsi merupakan salah satu hal yang berpotensi menimbulkan stres pada mahasiswa tingkat akhir. Stres penyusunan skripsi dipengaruhi oleh kemampuan mahasiswa untuk mengendalikan emosi pada saat menghadapi hambatan dalam penyusunan skripsi sehingga individu mampu untuk berpikir jernih dalam memandang permasalahan. Stres juga dipengaruhi oleh cara individu memandang permasalahan dan merancanakan strategi pemecahan masalah dalam proses penyusunan skripsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kecerdasan emosional dan problem focus coping terhadap tingkat stres mahasiswa pada saat menulis skripsi. Data dikumpulkan dari 129 mahasiswa di Bali yang sedang menulis skripsi. Skala tingkat stres, skala kecerdasan emosional, dan skala problem focus coping digunakan untuk mengukur variabel-variabel tersebut. Hasil regresi berganda menunjukkan bahwa kecerdasan emosional dan problem focus coping dapat menjelaskan 47,2% varian tingkat stres mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Penelitian ini dapat memberikan informasi agar mahasiswa dapat meningkatkan dan mempertahan kecerdasan emosional serta problem focused coping untuk mengurangi tingkat stres pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi.
Pemaknaan Konsumen Generasi Z Terhadap Pesan Afirmasi Positif Pada Kemasan Minuman Starbucks Ni Made Vania Shinta Mahadewi; Ni Wayan Yuli Anggreni
Professional: Jurnal Komunikasi dan Administrasi Publik Vol 13 No 1 (2026): Juni
Publisher : UNIVED PRESS, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/professional.v13i1.10115

Abstract

This study aims to describe how Generation Z consumers interpret the positive affirmation messages written on Starbucks beverage cups using Stuart Hall’s encoding–decoding framework. Affirmative messages, initially designed as part of the brand’s emotional communication strategy, are often interpreted differently by audiences, making it important to understand the dynamics behind these varying interpretations. This research employed a descriptive qualitative approach involving Generation Z consumers, baristas, and a store supervisor. Data were collected through in-depth interviews and direct observations at several Starbucks outlets. The findings indicate that the encoding process is carried out by baristas as part of a service strategy intended to create a warm, personal, and pleasant customer experience. However, the decoding process resulted in three categories of meaning: dominant-hegemonic, negotiated position, and oppositional position. Consumers in the dominant position viewed the affirmations as genuine emotional support; those in the negotiated position interpreted the messages situationally; while those in the oppositional position rejected them as mere branding strategies. The study concludes that the effectiveness of affirmation messages depends on the perceived authenticity of the brand and the emotional state of the consumers, demonstrating that even simple packaging can become a complex medium of communication for a critical generation such as Gen Z.