Amir Mahmud
Universitas Yudharta Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MENGGAPAI RIDHA ALLAH MELALUI IBADAH RITUAL (Penafsiran ayat-ayat Sholat dan Puasa Menurut Al-Mawardi dalam Kitab Al-Nukat wa al ‘Uyun) Wahyu Gil Dimas Alfian Sodri; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rohtih; Nyoko Adi Kuswoyo
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Komunikasi dan Dakwah al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/6976vy91

Abstract

Believers will always strive to attain the pleasure of Allah SWT. This is the objectivity of worship from its substantial side. Although the Qur'an several times promises heaven as a reward for worship, but in reality, heaven is a form of Allah SWT's pleasure to His servants. In this case, Al-Mawardi in his commentary An-Bukat wa al-'Uyun represents the substance of prayer and fasting as a ladder to achieve Allah SWT's pleasure. This study uses a qualitative approach, with the maudhu'i interpretation method to analyze the verses of the Qur'an related to prayer and fasting. The study also uses a library research approach. The technique of collecting information and data in this study uses two methods: primary data and secondary data. The primary data in this study is the commentary book An-Nukat wa al-'Uyun by Imam al-Mawardi. Meanwhile, secondary data was taken from literature, books, notes, magazines, and the results of previous relevant research. The research findings indicate that sincerity, consistency, and a deep understanding of the meaning of worship are the main keys to achieving God's pleasure. Al-Mawardi in his interpretation emphasizes the behavior of the heart that must be in accordance with the purpose of worship itself, this is what is then called the substance of worship. A negligent heart condition, according to al-Mawardi, causes a servant to find it difficult to reach their Lord. Prayer and fasting worship performed with sincere intentions and deep appreciation can bring blessings and strengthen the spiritual relationship between humans and God, as well as shape a better Muslim character. From a good personality due to worship in the right way, a servant can reach Allah SWT and gain His pleasure. Abstrak Orang-orang beriman akan terus senantiasa berlomba-lomba menggapai ridha Allah swt. Hal ini merupakan objektivitas suatu ibadah dari sisi subtansialnya. Meskipun beberapa kali al-Qur’an menjanjikan surga sebagai ganjaran ibadah, namun sesungguhnya surge tersebut merupakan bentuk ridha Allah swt kepada hamba-Nya. Dalam hal ini, Al-Mawardi dalam tafsirnya An-Bukat wa al-‘Uyun mereprentasikan subtansi iabadah sholat dan puasa sebagai tangga untuk menggapai ridha Allah swt. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode kajian tafsir maudhu’i untuk menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan shalat dan puasa. Penelitian juga menggunakan pendekatan kepustakaan (library research). Teknik pengumpulan informasi dan data dalam penelitian ini menggunakan dua cara. Yakni data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah kitab tafsir An-Nukat wa al-‘Uyun karya Imam al-Mawardi. Sedangkan data sekunder diambil dari literatur, buku, catatan, majalah, serta hasil penelitian sebelumnya yang relevan. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa keikhlasan, konsistensi, dan pemahaman mendalam terhadap makna ibadah adalah kunci utama dalam meraih ridha Allah. Al-Mawardi dalam tafsirnya menekankan perilaku hati yang harus sesuai dengan tujuan ibadah itu sendiri, hal ini yang kemudian disebut subtansial ibadah. Kondisi hati yang lalai menurut al-Mawardi merupakan penyebab seorang hamba sulit untuk sampai pada Tuhannya. Ibadah shalat dan puasa yang dilakukan dengan niat tulus dan penghayatan mendalam dapat mendatangkan keberkahan serta memperkuat hubungan spiritual antara manusia dan Allah, serta membentuk karakter muslim yang lebih baik. Dari kepribadian yag baik dikarenakan ibadah dengan cara yang benar inilah seorang hamba dapat sampai kepada Allah swt dan mendapatkan ridha-Nya.
Pandangan Al-Qur’an Terhadap Persepsi Istilah Hari Sial Masyarakat Desa. Mojorejo Kec. Pungging Kab. Mojokerto Mokhammad Saifuddin Azzuhri; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rohtih; Nyoko Adi Kuswoyo
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Komunikasi dan Dakwah al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/a1aagn80

Abstract

This study explores the beliefs of the people of Mojorejo Village, Pungging District, Mojokerto Regency towards the concept of "unlucky days" from an Islamic perspective. Although this belief has persisted since the time of ignorance, Islam emphasizes that there is no day that inherently brings bad luck or good fortune, because everything that happens is part of the destiny of Allah SWT. By using the approach of analyzing the text of the Qur'an and interpretation, this study aims to provide a more rational and spiritual understanding, and encourage people to abandon beliefs that are not in accordance with Islamic teachings. This study analyzes the beliefs of the people of Mojorejo Village, Pungging District, Mojokerto Regency towards the concept of "unlucky days," especially in the month of Suro, and evaluates this belief from an Islamic perspective. Although this belief is strong and has been passed down from generation to generation, Islam rejects the concept of "unlucky days" and teaches that everything that happens is part of the destiny of Allah SWT. This study uses a sociological and phenomenological approach to understand how the perception of unlucky days is formed in a social and cultural context. The results show that this belief is contrary to Islamic teachings and needs to be replaced with a more rational and spiritual understanding. Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi kepercayaan masyarakat Desa Mojorejo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto terhadap konsep "hari sial" dalam perspektif Islam. Meskipun kepercayaan ini masih bertahan sejak zaman jahiliyah, Islam menegaskan bahwa tidak ada hari yang secara inheren membawa kesialan atau keberuntungan, karena segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari takdir Allah SWT. Dengan menggunakan pendekatan analisis teks Al-Qur'an dan tafsir, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih rasional dan spiritual, serta mendorong masyarakat meninggalkan kepercayaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Penelitian ini menganalisis kepercayaan masyarakat Desa Mojorejo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto terhadap konsep "hari sial," terutama di bulan Suro, serta mengevaluasi keyakinan ini dari perspektif Islam. Meskipun kepercayaan ini kuat dan diwariskan turun-temurun, Islam menolak konsep "hari sial" dan mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari takdir Allah SWT. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologis dan fenomenologis untuk memahami bagaimana persepsi hari sial terbentuk dalam konteks sosial dan kultural. Hasilnya menunjukkan bahwa keyakinan ini bertentangan dengan ajaran Islam dan perlu digantikan dengan pemahaman yang lebih rasional dan spiritual.
Telaah Tematik Tentang Kriteria Hidup Baik Dalam Al-Qur’an Naf’an Salim; Wiwin Ainis Rohtih; Amir Mahmud; Nyoko Adi Kuswoyo
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Komunikasi dan Dakwah al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/52hc3w52

Abstract

This research article aims to determine the criteria for a good life according to the Qur'an, examine the interpretation of related verses, and analyze the correlation between these criteria and the concept of a good life from an Islamic perspective. The type of research used is library research, namely a data collection method carried out by searching various literature sources such as books, scientific journals, tafsir books, and other relevant references related to the research theme. The data obtained is then analyzed systematically to produce a complete understanding. In the interpretation process, this study uses the maudhu'i (thematic) interpretation method, namely a method that focuses on a particular theme, then collects all verses of the Qur'an related to that theme for a comprehensive study. With this method, the concept of the criteria for a good life can be understood in a more focused and contextual manner. The results of the study show that in general the criteria for a good life are often understood as worldly things, such as abundant wealth, a decent place to live, and physical health. However, based on the interpretation of QS. According to verse 97 of An-Nahl, the criteria for a good life in the Qur'an are summarized in three main aspects: well-being, contentment (qana'ah), and happiness. Well-being is not only interpreted in material terms but also encompasses peace of mind. Contentment is a pillar that fosters gratitude and inner satisfaction. From these two aspects, true happiness is born, encompassing both worldly and afterlife, culminating in eternal bliss in God's paradise. Thus, the concept of a good life in the Qur'an is holistic, balanced, and oriented not only toward worldly aspects but also toward spiritual and hereafter aspects. Abstrak Artikel penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kriteria hidup baik menurut Al-Qur’an, menelaah penafsiran ayat-ayat yang berkaitan dengannya, serta menganalisis korelasi antara kriteria tersebut dengan konsep kehidupan yang baik dalam perspektif Islam. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research), yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan melalui penelusuran berbagai sumber literatur seperti buku, jurnal ilmiah, kitab tafsir, dan referensi relevan lainnya yang berkaitan dengan tema penelitian. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara sistematis untuk menghasilkan pemahaman yang utuh. Dalam proses penafsiran, penelitian ini menggunakan metode tafsir maudhu’i (tematik), yaitu metode yang berfokus pada satu tema tertentu, kemudian menghimpun seluruh ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tema tersebut untuk dikaji secara menyeluruh. Dengan metode ini, konsep kriteria hidup baik dapat dipahami secara lebih terarah dan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kriteria hidup baik sering dipahami sebagai hal yang bersifat duniawi, seperti harta yang melimpah, tempat tinggal yang layak, dan kesehatan jasmani. Namun, berdasarkan penafsiran QS. An-Nahl ayat 97, kriteria hidup baik dalam Al-Qur’an terhimpun dalam tiga aspek utama, yaitu kesejahteraan, rasa cukup (qana’ah), dan kebahagiaan. Kesejahteraan tidak hanya dimaknai secara material, tetapi juga mencakup ketenangan jiwa. Sikap qana’ah menjadi penopang yang melahirkan rasa syukur dan kepuasan batin. Dari kedua aspek tersebut, lahirlah kebahagiaan sejati yang mencakup kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, dengan puncaknya adalah kebahagiaan abadi di surga Allah. Dengan demikian, konsep hidup baik dalam Al-Qur’an bersifat holistik, seimbang, dan tidak hanya berorientasi pada aspek duniawi, tetapi juga spiritual dan ukhrawi.
Bullying Dalam Al Qur’an Perpektif Kajian Tafsir Tematik Fitriyatul Lailiyah; Nyoko Adi Kuswoyo; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rohtih
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 4 (2024): Komunikasi, Dakwah dan Al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/7jtvrm11

Abstract

Abstract The research in this thesis is based on several phenomena that often occur among today's society, where we can carry out all activities in a very sophisticated way, the development of the digital era continues to move quickly and cannot be stopped by humans. Of course this will also have an impact positive and negative. This kind of thing destroys the order for which humans were created. With increasingly sophisticated developments, this has the impact of spreading people's disgrace more quickly, both in the real world and in society. The researcher looked at how the verses of the Qur'an talk about sharing shame on social media and the impact of sharing shame on social media to produce a critical dynamic study to build arguments that are responsive to the problem of showing shame, and can be relevant to the context of contemporary society. This research is library research, the data in this research comes from library materials consisting of: 1) primary data, namely Tafsir al-Munir, 2) secondary data in the form of the Al-Qur'an and its translation, the book Tafsir Fath Al-Qadir, Tafsir Al-Misbah, and Tafsir Al-Munir, and Tafsir Al-Azhar and books related to the science of the Koran and its discussions. The data collection technique used by the author requires documentation in the form of notes, attachments and several documents related to the title. Next, we use maudhu'i steps and the most important thing is the verses of the Koran that are discussed, translations and interpretations from commentators, and taken from related books, articles and journals. From the interpretation of Al-Munir's tafsir, which explains that all behavior that indulges in disgrace, it can be seen that it is highly recommended that behavior that indulges in disgrace be avoided so that things do not happen that can harm oneself and others. The interpretation in the tafsir tahlili states that it is forbidden to show actions or tell something that is related to immoral acts, it may be that what is said or actions that have been done previously have a bad impact on other people or even on oneself, for example the impact on other people, that is, it may be the person who listens. the story of the person doing something similar to what was done. The first negative impact of indulging in disgrace is that it has a bad impact on oneself. Then the second person indulges in disgrace and tells it because he wants to brag about his immoral deeds, giving rise to arrogant attitudes or actions by bragging about the actions he has committed. Abstrak Penelitian dalam skripsi ini dilatar belakangi oleh beberapa fenomena yang sering terjadi dikalangan masyarakat sekarang, yang mana seluruh kegiatan bias kita lakukan dengan cara yang sangat canggih, perkembangan zaman digital pun terus berjalan cepat dan tidak bisa dihentikan lagi oleh manusia.tentunya hal inu juga akan berdampak positif dan negatif. Hal demikian ini  merusak tatanan tujuan manusia diciptakan. Dengan semakin canggihnya perkembangan tersebut membawa dampak penyebaran aib orang semakin cepat, baik didunia nyata maupun sosial. Peneliti melihat bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an berbicara tentang curhat pengumbaran aib di media sosial dan dampak curhat (pengumbaran aib) di media sosial untuk menghasilkan kajian dinamis kritis membangun argumen yang responsif terhadap problem pengumbaran aib, dapat merelevansi dengan konteks masyarakat kekinian. Penetian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library Research), data dalam penelitian ini bersumber dari bahan-bahan kepustakaan yang terdiri dari: 1) data primer yaitu Tafsir al-Munir, 2) data sekunder berupa Al-Qur’an  dan terjemahnya, kitab Tafsir Fath Al-Qadir, Tafsir Al-Misbah, dan Tafsir Al-Munir, dan Tafsir Al-Azhar dan buku-buku yang terkait dengan ilmu pengetahuan al-Qur’an  dan pembahasannya. Teknis pengumpulan data yang digunakan oleh penulis membutuhkan dokumentasi berupa catatan, lampiran, dan beberapa dokumen yang berkaitan dengan judul. Selanjutnya menggunakan langkah-langkah maudhu’i dan yang paling utama yaitu mengenai ayat-ayat al-Qur’an  yang dibahas, terjemah dan tafsiran dari para mufasir, dan diambil dari buku, artikel maupun jurnal yang terkait. Dari penafsiran tafsir al-munir menjelaskan bahwa semua perilaku mengumbar aib, dapat diketahui bahwa perilaku mengumbar aib sangat dianjurkan untuk dihindari agar tidak terjadi hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Penafsiran dalam tafsir tahlili menyebutkan bahwa melarang untuk menampakkan perbuatan ataupun menceritakan sesuatu yang berkaiatan dengan perbuatan maksiat boleh jadi apa yang diceritakan atau perbuatan yang telah dilakukan sebelumnya berakibat buruk kepada orang lain atau bahkan kepada diri sendiri misalnya dampaknya kepada orang lain yaitu boleh jadi orang yang mendengarkan cerita orang tersebut melakukan hal yang serupa terhadap apa yang telah dilakukan. Dampak negatif mengumbar aib pertama yaitu yang berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Kemudian yang kedua mengumbar aib menceritakannya karena ingin membanggakan perbuatan maksiatnya sehingga menimbulkan sikap atau perbuatan yang sombong dengan membanggakan diri terhadap perbuatan yang telah dilakukan.Kata kunci : Anak, Tafsir ibnu katsir.