Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Artificial Intelligence Misuse and Digital Ethics Among University Students Ratin Wahyu Juni Atma; M Zainul Hafizi; Zihori Maulida
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v4i1.407

Abstract

The development of Artificial Intelligence (AI) in higher education presents both opportunities and digital ethical challenges among university students. This study aims to analyze the forms of AI misuse and their implications for students’ digital ethics within Indonesian online media spaces. The study employed a qualitative approach using a netnographic research design through observations of national media reports, digital documentation, and social media activities related to AI usage among university students. The findings indicate that AI misuse has developed in various forms, including AI-based plagiarism, academic dependency on automated technologies, digital identity manipulation through deepfake practices, the creation of manipulative content, and privacy violations. These phenomena are influenced by the accessibility of AI technology, limited AI literacy, weak digital ethical awareness, and the popularity-oriented culture of social media. The study also found that unethical AI usage potentially reduces academic integrity, critical thinking abilities, and the quality of students’ social interactions within digital spaces. Therefore, strengthening AI literacy, digital ethics, and institutional policies is essential to promote more responsible technology usage in higher education environments. This study contributes to the growing discourse on AI ethics and digital culture among university students in the era of digital transformation. Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pendidikan tinggi menghadirkan peluang sekaligus tantangan etika digital di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk penyalahgunaan AI serta implikasinya terhadap etika digital mahasiswa dalam ruang media daring di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian netnografi melalui observasi terhadap pemberitaan media nasional, dokumentasi digital, dan aktivitas media sosial terkait penggunaan AI di lingkungan mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyalahgunaan AI berkembang dalam berbagai bentuk, seperti plagiarisme berbasis AI, ketergantungan akademik terhadap teknologi otomatis, manipulasi identitas digital melalui praktik deepfake, hingga pembuatan konten manipulatif dan pelanggaran privasi. Fenomena tersebut dipengaruhi oleh kemudahan akses teknologi, rendahnya literasi AI, lemahnya kesadaran etika digital, serta budaya popularitas media sosial. Penelitian ini juga menemukan bahwa penggunaan AI secara tidak etis berpotensi menurunkan integritas akademik, kemampuan berpikir kritis, serta kualitas interaksi sosial mahasiswa dalam ruang digital. Oleh karena itu, penguatan literasi AI, etika digital, dan kebijakan institusional menjadi langkah penting untuk mendorong penggunaan teknologi yang lebih bertanggung jawab di lingkungan pendidikan tinggi.
Systematic Literature Review: Pemanfaatan Financial Technology sebagai Media Pembelajaran Literasi Keuangan Supriaman; Giska Safitri; M Zainul Hafizi
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 2 (2026): Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/chatra.v4i2.440

Abstract

Perkembangan pesat Financial Technology (FinTech) telah mengubah cara individu mengakses layanan keuangan sekaligus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mereka dalam mengambil keputusan keuangan. Meskipun demikian, tingkat literasi keuangan di banyak negara masih tergolong rendah sehingga diperlukan pendekatan pembelajaran yang inovatif dan berbasis teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tren penelitian mengenai pemanfaatan FinTech sebagai media pembelajaran literasi keuangan, mengidentifikasi jenis-jenis FinTech yang digunakan, serta mengeksplorasi manfaat dan tantangan implementasinya. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada pedoman PRISMA 2020. Artikel diperoleh dari basis data Scopus dan diseleksi melalui tahapan identifikasi, penyaringan, penilaian kelayakan, serta inklusi. Hasil kajian menunjukkan adanya peningkatan publikasi yang signifikan pada periode 2022–2026 dengan jumlah publikasi tertinggi pada tahun 2025. Berbagai aplikasi FinTech yang banyak dimanfaatkan meliputi sistem pembayaran digital, mobile banking, dompet digital, platform investasi digital, aplikasi pengelolaan keuangan pribadi, perangkat pembelajaran berbasis kecerdasan buatan, dan gamifikasi. Secara umum, FinTech berkontribusi dalam meningkatkan literasi keuangan, mendorong perilaku keuangan yang positif, memperluas inklusi keuangan, serta meningkatkan kesejahteraan finansial. Namun, efektivitasnya dipengaruhi oleh tingkat literasi digital, aksesibilitas teknologi, keamanan data, dan kesiapan pengguna. Financial Technology (FinTech) has transformed the way individuals access financial services and develop financial knowledge and decision-making skills. However, financial literacy levels remain relatively low in many countries, highlighting the need for innovative and technology-driven learning approaches. This study examines research trends on the use of FinTech as a medium for financial literacy education, identifies the types of FinTech employed, and explores their benefits and implementation challenges. A Systematic Literature Review (SLR) was conducted following the PRISMA 2020 guidelines. Articles were collected from the Scopus database and selected through identification, screening, eligibility assessment, and inclusion stages. The findings reveal a substantial increase in publications between 2022 and 2026, with the highest output recorded in 2025. Commonly utilized FinTech tools include digital payment systems, mobile banking, e-wallets, investment platforms, personal finance applications, artificial intelligence-based learning tools, and gamified learning environments. Overall, FinTech enhances financial literacy, encourages positive financial behavior, promotes financial inclusion, and supports financial well-being. Nevertheless, its effectiveness depends on digital literacy, technological accessibility, data security, and user readiness
Pelatihan Canva sebagai Media Pembelajaran Inovatif bagi Guru di SMPN 3 JawaiPelatihan Canva sebagai Media Pembelajaran Inovatif bagi Guru di SMPN 3 Jawai Risky Agustini; Nurul Aini; Widya Ramadhani; Kurniawan; M Zainul Hafizi
Karuna: Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin Vol. 3 No. 1 (2026): Karuna: Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin
Publisher : CV Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/karuna.v3i1.363

Abstract

Keterampilan guru dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai media pembelajaran masih menjadi tantangan di beberapa sekolah, khususnya dalam penggunaan aplikasi desain grafis untuk mendukung penyajian materi yang lebih menarik dan interaktif. Kondisi ini juga ditemukan pada guru di SMPN 3 Jawai yang masih terbatas dalam memanfaatkan media pembelajaran berbasis digital. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam menggunakan aplikasi Canva sebagai media pembelajaran inovatif. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan pelatihan partisipatif yang meliputi tahap persiapan, pelaksanaan pelatihan, praktik langsung, serta evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan guru dalam merancang media pembelajaran berbasis visual, seperti infografis materi dan presentasi pembelajaran yang lebih menarik. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong tumbuhnya kesadaran guru mengenai pentingnya integrasi teknologi dalam proses pembelajaran. Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi digital guru serta membuka peluang pengembangan pembelajaran yang lebih kreatif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi pendidikan.  Teachers’ ability to utilize digital technology as learning media remains a challenge in several schools, particularly in the use of graphic design applications to support more engaging and interactive learning materials. This condition was also identified among teachers at SMPN 3 Jawai who had limited experience in using digital-based learning media. This community service activity aimed to enhance teachers’ understanding and skills in using Canva as an innovative learning medium. The program was implemented through a participatory training approach consisting of preparation, training sessions, hands-on practice, and evaluation stages. The results indicated an improvement in teachers’ ability to design visually engaging learning materials such as instructional infographics and presentation slides. The activity also increased teachers’ awareness of the importance of integrating digital technology into classroom learning. Overall, the training contributed positively to strengthening teachers’ digital competencies and encouraged the development of more creative and technology-oriented learning practices.
Makna Budaya Hizib Nahdlatul Wathan dalam Tradisi Keagamaan Masyarakat Lombok: Kajian Hermeneutika Sufistik Herman Zuhdi; M Zainul Hafizi
Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya Vol. 4 No. 3 (2026): Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/nagripustaka.v4i3.426

Abstract

Hizib Nahdlatul Wathan merupakan salah satu tradisi keagamaan yang tidak hanya berfungsi sebagai praktik spiritual, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Lombok yang merepresentasikan nilai-nilai sosial dan religius. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna budaya yang terkandung dalam Hizib Nahdlatul Wathan, mengidentifikasi struktur budaya yang membentuk tradisi tersebut, serta menjelaskan mekanisme pewarisan nilai budaya dalam kehidupan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian kepustakaan yang dipadukan dengan analisis isi dan hermeneutika sufistik. Data utama bersumber dari naskah Hizib Nahdlatul Wathan, sedangkan data pendukung diperoleh dari berbagai literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hizib Nahdlatul Wathan memiliki struktur budaya yang tersusun secara sistematis melalui rangkaian bacaan yang terstandarisasi, memuat nilai-nilai religiusitas, penghormatan kepada guru, solidaritas sosial, kebersamaan, dan identitas budaya, serta berfungsi sebagai media pewarisan budaya melalui pesantren, keluarga, masjid, majelis taklim, dan organisasi Nahdlatul Wathan. Temuan ini memperlihatkan bahwa Hizib Nahdlatul Wathan tidak hanya menjadi praktik ibadah, tetapi juga berperan sebagai media pelestarian budaya religius dan pembentukan identitas kolektif masyarakat. Keterbatasan penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan kepustakaan sehingga belum menggambarkan praktik Hizib secara langsung di lapangan. Hizib Nahdlatul Wathan is a religious tradition that functions not only as a spiritual practice but also as a form of cultural heritage representing the social and religious values of the Lombok community. This study aims to examine the cultural meanings embedded in Hizib Nahdlatul Wathan, identify the cultural structure underlying the tradition, and explain the mechanism through which cultural values are transmitted within the community. A qualitative library research design was employed by integrating content analysis with a Sufistic hermeneutic approach. The primary data consisted of the Hizib Nahdlatul Wathan manuscript, while supporting data were obtained from relevant scholarly literature. The findings reveal that Hizib Nahdlatul Wathan possesses a systematic cultural structure through standardized liturgical sequences, embodies the values of religiosity, respect for teachers, social solidarity, togetherness, and cultural identity, and functions as a medium for cultural transmission through Islamic boarding schools, families, mosques, religious study circles, and the Nahdlatul Wathan organization. These findings demonstrate that Hizib Nahdlatul Wathan serves not only as a devotional practice but also as a medium for preserving religious culture and strengthening collective identity. The study is limited by its library-based design, which does not directly observe ritual practices in the field