Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Kekerasan Seksual terhadap Anak sebagai Extraordinary Crime: Kajian Kriminologis, Evaluasi Efektivitas Kebijakan Hukum Pidana Berbasis Perlindungan Anak, dan Identifikasi Kesenjangan Implementasi Regulasi di Indonesia Sarifah Leqsha; Asri Vivi Yanti Sinurat; Junaidi Sholat; Silvi Aulia
Judge : Jurnal Hukum Vol. 6 No. 02 (2025): Judge : Jurnal Hukum
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/judge.v6i02.2060

Abstract

Sexual violence against children constitutes a serious crime with multidimensional and long-term impacts, thereby justifying its classification as an extraordinary crime. This crime not only violates children’s human rights but also threatens the quality of human resources and the sustainability of national development. From a criminological perspective, sexual violence against children is influenced by unequal power relations, social environmental factors, and weaknesses in prevention systems and law enforcement. Indonesia has enacted various criminal law instruments and child protection policies, including Law Number 35 of 2014 on Child Protection and Law Number 12 of 2022 on Sexual Violence Crimes. Nevertheless, the persistently high incidence of sexual violence against children indicates problems related to policy effectiveness and gaps in regulatory implementation at the practical level. This study aims to analyze sexual violence against children as an extraordinary crime from a criminological perspective, to evaluate the effectiveness of child protection–based criminal law policies, and to identify gaps between the normative legal framework and regulatory implementation in Indonesia. The research employs normative legal research using statutory, conceptual, and criminological approaches. The findings reveal that, normatively, criminal law policies have recognized sexual violence against children as a serious crime through the imposition of severe criminal sanctions and the adoption of a victim protection approach. However, in practice, various obstacles remain, including weak inter-agency coordination, limited human resources, insufficient trauma-based recovery services, and a legal culture that has not fully sided with victims. Therefore, strengthening more integrated, victim-oriented, and child-sensitive policies is necessary to bridge the gap between normative law and the realities of law enforcement..
Efektivitas Kebijakan Perlindungan Anak terhadap Kasus Kekerasan Seksual Studi Tentang Pemenuhan Hak dan Pemulihan Anak Sebagai Korban Nadaa Nurfazrina Kurniawan Saragih; Asri Vivi Yanti Sinurat; Karina Putri Maharani
Judge : Jurnal Hukum Vol. 6 No. 02 (2025): Judge : Jurnal Hukum
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/judge.v6i02.2061

Abstract

Sexual violence against children constitutes one of the most serious and complex violations of human rights, as it affects not only individual victims but also broader social and economic structures. Child victims of sexual violence face a high risk of experiencing long-term physical, psychological, and social harm, which underscores the state’s obligation to ensure effective and sustainable protection, the fulfillment of children’s rights, and recovery mechanisms. In the Indonesian context, various child protection policies have been formulated, including Law Number 35 of 2014 as an amendment to Law Number 23 of 2002 on Child Protection, which aims to prevent, address, and facilitate the recovery of child victims of sexual violence. Nevertheless, the effectiveness of these policies in practice continues to face significant challenges and therefore requires comprehensive evaluation (Nova and Elda, 2024).This study aims to analyze the effectiveness of child protection policies in addressing cases of sexual violence against children, with a particular focus on the fulfillment of victims’ rights and recovery processes. The study employs a mixed-methods approach by integrating qualitative and quantitative methods. Data were collected through questionnaires, in-depth interviews, and document analysis involving child victims, family members, as well as law enforcement officers and child protection practitioners. The findings indicate that child protection policies are relatively effective in ensuring the fulfillment of basic rights of child victims, such as legal protection and assistance.
Perlindungan Anak Yang Terlantar atau Beresiko Dari Kekerasan Seksual Ayang Audita Siregar; Asri Vivi Yanti Sinurat; Hikmat Syahputra Tarigan; Ari Dermawan; Dhiny Safryda Rawy
Judge : Jurnal Hukum Vol. 6 No. 01 (2025): Judge : Jurnal Hukum
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/judge.v6i03.2062

Abstract

This study applies a normative juridical legal approach. In Indonesia, cases of violence against children often occur, such as abuse and sexual harassment. This situation of course creates difficulties because it can damage the mental condition of the child. Of the various types of sexual harassment and abuse, the greatest impact occurs on the mental and emotional damage of the child victims. Sexual abuse of children is an example of a human rights (HAM) violation, particularly concerning children's rights (right of child). Up to now, many regulations have been created to protect children from acts of sexual violence.
PENEREPAN HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PELECEHAN SEKSUAL ANAK DI TINJAU DARI QANUN NO. 6 TAHUN 2014 TENTANG HUKUM JINAYAT (STUDI KASUS PUTUSAN NO. 5/JN/2019/MS.LSM) Asri Vivi Yanti Sinurat; Karina Putri Maharani
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 7 No. 4 (2024): November 2024
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v7i4.2292

Abstract

Tindak Pidana pelecehan seksual terhadap anak sebagai korbannya merupakan salah satu masalah hukum yang sangat meresahkan masyarakat sehingga perlu dicegah dan ditanggulangi. Banyaknya kasus-kasus pelecehan seksual yang menjadi korban adalah anak, maka perlu ditinjau kembali terkait proses penegakan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan hukum terhadap pelaku pelecehan seksual anak ditinjau dari Qanun Nomor 6 tahun 2014 tentang hukum jinayat dan bagaimana pertimbangan hakim dalam putusan kasus pelecehan seksual terhadap anak pada putusan Nomor 5/JN/2019/MS.LSM. Metode yang digunakan dalam menyelesaikan penelitian ini adalah yuridis empiris. Sifat penelitian ini adalah deskriptif analitis. Hasil penelitian ini menunjukkan yang menjadi pertimbangan hakim bahwa penerapan hukum terhadap pelaku tindak pidana pelecehan seksual anak pada putusan Nomor 5/JN/2019/MS.LSM hakim memutuskan bahwa terdakwa terbukti secara sah melakukan jarimah pemerkosaan, karena perbuatannya terdakwa dijatuhkan pasal 50 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang pemerkosaan dengan uqubat penjara 190 bulan. Selain itu terhadap terdakwa diharuskan membayar restitusi masing-masing kepada para korban. Selanjutnya hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertimbangan hakim terhadap putusan Nomor 5/JN/2019/MS.LSM adalah hakim tidak melihat bagaimana posisi para korban setelah kejadian pelecehan seksual yang dilakukan terdakwa tersebut sangat menimbulkan dampak trauma berkepanjangan terhadap para korban yaitu anak yang masih dibawah umur.
RUMAH AMAN ANAK ASAHAN (RAAA) DALAM MENDUKUNG PEMERINTAH DAERAH DAN APARAT PENEGAK HUKUM UNTUK MELINDUNGI ANAK DARI KEKERASAN SEKSUAL Asri Vivi Yanti Sinurat; Febby Madonna Yuma; Abdul Karim Syahputra; Kiki Adha Sirait
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 3 (2025): August 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i3.3978

Abstract

Abstract: The purpose of this study was to examine how the Asahan Children's Safe House (RAAA) assists the local government and law enforcement in protecting children in Asahan Regency from sexual violence. In-depth interviews with RAAA administrators, social services officials, police officers from the Women and Children Protection Unit (UPA), psychosocial support officers, and direct observation of RAAA services were used to collect data using qualitative and descriptive approaches. The study findings indicate that RAAA is an important integrated service center and has successfully enhanced inter-agency collaboration while offering temporary protection, legal assistance, and psychological recovery for victims. Operational budget constraints, public stigma, lengthy legal procedures, and a lack of skilled human resources are some of the challenges faced by RAAA. Other challenges include an unintegrated data management system and a lack of supporting infrastructure. In conclusion, RAAA has had a substantial positive impact, but requires better coordination with the local government and community to overcome these challenges and ensure optimal and sustainable fulfillment of the rights of child victims of sexual violence. Keyword: Asahan Children's Safe House; Sexual Violence Against Children; Local Government; Law Enforcement Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana Rumah Aman Anak Asahan (RAAA) membantu pemerintah daerah dan penegak hukum dalam melindungi anak-anak di Kabupaten Asahan dari kekerasan seksual. Wawancara mendalam dengan pengurus RAAA, dinas sosial, petugas kepolisian dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPA), petugas pendukung psikososial, dan observasi langsung terhadap layanan RAAA digunakan untuk mengumpulkan data menggunakan pendekatan kualitatif dan deskriptif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa RAAA merupakan pusat layanan terpadu yang penting dan telah berhasil meningkatkan kolaborasi antarlembaga sekaligus menawarkan perlindungan sementara, bantuan hukum, dan pemulihan psikologis bagi korban. Anggaran operasional, stigma publik, prosedur hukum yang panjang, dan kurangnya sumber daya manusia yang ahli merupakan beberapa kesulitan yang dihadapi RAAA. Tantangan lainnya meliputi sistem manajemen data yang belum terintegrasi dan kurangnya infrastruktur pendukung. Kesimpulannya, RAAA telah memberikan dampak positif yang substansial, tetapi membutuhkan koordinasi yang lebih baik dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ini dan memastikan pemenuhan hak-hak anak korban kekerasan seksual yang optimal dan berkelanjutan. Kata kunci: Rumah Aman Anak Asahan; Kekerasan Seksual Terhadap Anak; Pemerintah Daerah; Penegak Hukum
PERAN UNDANG UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 DALAM MENCEGAH TINDAK PIDANA ANAK DAN DAMPAKNYA PADA PENEGAKAN HUKUM Asri Vivi Yanti Sinurat
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 3 (2025): August 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i3.4342

Abstract

 Abstract: This study aims to analyze the role of Law Number 11 of 2012 concerning the Juvenile Criminal Justice System (UU SPPA) in preventing juvenile crime and its impact on law enforcement in Indonesia. The research method used is normative juridical with a legislative approach and conceptual through literature study. The results of the study indicate that the SPPA Law provides a strong legal basis for the implementation of diversion and restorative justice so as to reduce recidivism rates, reduce stigma, and protect the rights of children in conflict with the law. The existence of the Correctional Center (BAPAS) also plays an important role in accompanying children, developing community literacy, and facilitating diversion. The impact on law enforcement is a paradigm shift from repressive to humanistic, rehabilitative, and educational authorities. However, the implementation of the SPPA Law still faces obstacles in the form of limited human resources, infrastructure, and suboptimal public understanding. The conclusion of this study confirms that the SPPA Law contributes significantly to preventing juvenile crime while strengthening the protection of children's rights in the criminal justice system in Indonesia.Keyword: SPPA Law; child criminal offenses; restorative justice; diversion; law enforcement  Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) dalam mencegah tindak pidana anak dan dampaknya terhadap penegakan hukum di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual melalui studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UU SPPA memberikan dasar hukum yang kuat untuk penerapan diversi dan keadilan restoratif sehingga dapat menekan angka residivisme, mengurangi stigma, dan melindungi hak anak yang berhadapan dengan hukum. Keberadaan Balai Pemasyarakatan (BAPAS) juga berperan penting dalam pendampingan anak, penyusunan litmas, serta fasilitasi diversi. Dampak yang muncul terhadap penegakan hukum adalah pergeseran paradigma aparat dari represif ke arah humanis, rehabilitatif, dan edukatif. Namun, implementasi UU SPPA masih menghadapi kendala berupa keterbatasan sumber daya manusia, sarana prasarana, dan pemahaman masyarakat yang belum optimal. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa UU SPPA berkontribusi signifikan dalam mencegah tindak pidana anak sekaligus memperkuat perlindungan hak anak dalam sistem peradilan pidana di Indonesia.Kata kunci: UU SPPA; tindak pidana anak; keadilan restoratif; diversi; penegakan hukum
RESTORATIVE JUSTICE DAN PERLINDUNGAN TRAUMA KORBAN KEKERASAN SEKSUAL ANAK DI INDONESIA Kiki Adha Sirait; Asri Vivi Yanti Sinurat; Syahrani Lailati Br Damanik
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 2 (2025): May 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i2.5514

Abstract

Abstract: Sexual violence against children constitutes a serious crime that results in multidimensional impacts on victims, including physical, psychological, and social harm. Within the Indonesian criminal justice system, the handling of child sexual violence cases remains predominantly oriented toward a retributive approach that emphasizes the punishment of offenders. Such an approach often fails to fully consider the best interests of the child as a victim, particularly with regard to psychological recovery and the traumatic effects arising from lengthy and confrontational judicial processes. Repeated examinations, the obligation to recount traumatic experiences, and direct or indirect confrontation with perpetrators may exacerbate the victim’s trauma. Restorative justice has emerged as an alternative approach to criminal case resolution by prioritizing victim recovery, offender accountability, and the restoration of social harmony. However, the application of restorative justice in cases of sexual violence against children remains controversial due to the serious nature of the offense and the vulnerable position of child victims. This article aims to analyze the challenges and prospects of implementing restorative justice in the resolution of child sexual violence cases in Indonesia by examining legal protection mechanisms, the principle of the best interests of the child, and the traumatic impacts experienced by victims within the criminal justice process. This study employs a normative juridical research method using statutory and conceptual approaches. The findings indicate that although restorative justice has been accommodated within various legal policies in Indonesia, its implementation in child sexual violence cases continues to face juridical, sociological, and psychological challenges. Nevertheless, restorative justice still holds prospects for limited and selective application, provided that it prioritizes victim protection, ensures strict supervision, and involves professional assistance to safeguard the recovery and well-being of child victims. Keyword: restorative justice, sexual violence against children, legal protection, best interests of the child, psychological trauma. Abstrak: Kekerasan seksual terhadap anak merupakan kejahatan serius yang berdampak luas terhadap kehidupan korban, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Dalam sistem peradilan pidana Indonesia, penanganan perkara kekerasan seksual terhadap anak masih didominasi oleh pendekatan retributif yang berorientasi pada penghukuman pelaku. Pendekatan tersebut sering kali belum sepenuhnya memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak sebagai korban, khususnya terkait pemulihan psikologis dan dampak traumatis yang timbul akibat proses peradilan pidana yang panjang dan konfrontatif. Proses pemeriksaan yang berulang, kewajiban memberikan keterangan di hadapan aparat penegak hukum, serta kemungkinan berhadapan langsung dengan pelaku dapat memperparah trauma yang dialami anak. Restorative justice hadir sebagai pendekatan alternatif dalam penyelesaian perkara pidana dengan menitikberatkan pada pemulihan korban, pertanggungjawaban pelaku, serta pemulihan hubungan sosial. Namun, penerapan restorative justice dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak menimbulkan perdebatan karena karakteristik tindak pidana yang serius dan posisi anak sebagai korban yang sangat rentan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kendala dan prospek penerapan restorative justice dalam penyelesaian kasus kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia dengan menelaah aspek perlindungan hukum, prinsip kepentingan terbaik bagi korban, serta dampak traumatis dalam proses peradilan pidana. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun restorative justice telah diakomodasi dalam berbagai kebijakan hukum, penerapannya dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak masih menghadapi kendala yuridis, sosiologis, dan psikologis. Namun demikian, restorative justice tetap memiliki prospek untuk diterapkan secara terbatas dan selektif dengan pengawasan ketat serta pendampingan profesional guna menjamin perlindungan maksimal bagi korban. . Kata kunci: restorative justice, kekerasan seksual terhadap anak, perlindungan hukum, kepentingan terbaik bagi korban, trauma psikologis.
PENANGANAN KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP ANAK DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA: ANALISIS KRITIS DAN REKOMENDASI PERLINDUNGAN KORBAN Fahrezi Alfatah; Asri Vivi Yanti Sinurat; Iqbal Ramadhan; Iqbal Siregar
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 2 (2025): May 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i2.5515

Abstract

Abstract: This study aims to determine how sexual violence against children is handled in the Indonesian criminal justice system. Sexual violence against children is a serious crime that requires effective and comprehensive legal protection. The implementation of Law No. 12 of 2022 concerning Criminal Acts of Sexual Violence (UU TPKS) faces significant challenges, including difficulties in identifying and reporting cases, lack of public awareness, and limited resources. The research method used is a normative approach to legislation and literature related to sexual violence against children. The results of the study indicate that the implementation of Law No. 12 of 2022 concerning Criminal Acts of Sexual Violence (UU TPKS) can provide effective legal protection for child victims of sexual violence by increasing public awareness, strengthening the law enforcement system, and providing quality protection services. However, this implementation still faces obstacles such as difficulties in identifying and reporting cases, weaknesses in the TPKS Law, limited resources, and difficulty accessing services. Collaboration between the government, child protection agencies, the police, the judicial system, and the community is needed to overcome these challenges and provide better protection for child victims of sexual violence. Keyword : Child Protection, Sexual Violence of Children, Victim Protection Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penanganan kekerasan seksual terhadap anak dalam sistem peradilan Pidana Indonesia. Kekerasan seksual terhadap anak merupakan kejahatan serius yang memerlukan perlindungan hukum yang efektif dan komprehensif. Implementasi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) menghadapi tantangan siginifikan, termasuk kesulitan identifikasi dan pelaporan kasus, kurangnya kesadaran masyarakat, dan keterbatasan sumber daya. Metode penelitian yang digunakan ialah normatif terhadap peraturan perundang-undangan dan literatur terkait kekerasan seksual terhadap anak. Hasil penelitian adalah implementasi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) dapat memberikan perlindungan hukum yang efektif bagi anak sebagai korban kekerasan sesksual melalui peningkatan kesadaran masyarakat, penguatan sistem penegakan hukum dan penyediaan layanan perlindungan berkualitas. Namun, implementasi ini masih mengahdapi rintangan seperti kesulitan identifikasi dan pelaporan kasus, lemahnya UU TPKS, keterbatasan sumber daya dan kesulitan akses layanan. Kerjasama antara pemerintah, lembaga perlindungan anak, kepolisian , sistem peradilan, dan masyarakat diperlukan untuk mengatasi tantangan ini dan memberikan perlindungan yang lebih baik lagi bagi anak-anak korban kekerasan seksual. Kata Kunci : Perlindungan Anak, Kekerasan Seksual Anak, Perlindungan Korban
IMPLEMENTASI PERLINDUNGAN HUKUM BAGI ANAK KORBAN KEKERASAN SEKSUAL MELALUI LENSA HAK ANAK DAN PEMULIHAN PSIKOLOGIS Jesica Lumbanbatu; Asri Vivi Yanti Sinurat; Babby Apriandani; Nurul Sulistiawati
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 2 (2025): May 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i2.5516

Abstract

Abstract: This article analyzes the implementation of legal protection for child victims of sexual violence through the perspective of children’s rights and psychological recovery. Referring to the Convention on the Rights of the Child (CRC) and global best practices, the study highlights the challenges faced by the Indonesian legal system and provides recommendations for integrating psychological recovery into legal protection mechanisms. The findings indicate that a holistic approach prioritizing children’s rights can enhance the effectiveness of legal protection. However, obstacles such as social stigma and limited resources remain significant issues in ensuring comprehensive protection and recovery for child victims. Keyword : child sexual violence, children’s rights, psychological recovery, legal protection. Abstrak: Anak merupakan karunia Tuhan yang memiliki keterbatasan fisik, mental, dan sosial, sehingga membutuhkan perlindungan, pengasuhan, dan peran aktif keluarga dalam menjaga serta mendukung tumbuh kembangnya[1]. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014, perlindungan anak dimaknai sebagai serangkaian upaya yang dilakukan untuk menjamin terpenuhinya hak anak agar dapat menjalani kehidupan, pertumbuhan, dan perkembangan secara optimal serta berperan aktif dalam masyarakat sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan[2]. Dalam konteks kekerasan seksual terhadap anak, perlindungan hukum memiliki urgensi tinggi karena perbuatan tersebut tidak hanya melanggar hukum pidana, tetapi juga berdampak serius terhadap kondisi psikologis korban. Oleh karena itu, implementasi perlindungan hukum bagi anak korban kekerasan seksual harus berlandaskan perspektif hak anak dengan menempatkan kepentingan terbaik bagi anak sebagai prinsip utama. Selain penegakan hukum terhadap pelaku, perlindungan tersebut harus diintegrasikan dengan upaya pemulihan psikologis guna memulihkan kondisi mental dan emosional anak, sehingga hak anak sebagai korban dapat terpenuhi secara menyeluruh dan berkeadilan. Kata Kunci : kekerasan seksual anak,hak anak,pemulihan psikologis,hukum perlindungan
KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP ANAK BERBASIS ELEKTRONIK : ANALISIS HUKUM ATAS GROOMING EKSPLOITASI ONLINE DAN PORNOGRAFI ANAK Ahmad Ray Fadillah Sitompul; Asri Vivi Yanti Sinurat; Muhammad Taufik Ikhsan Siagian
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 2 (2025): May 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i2.5517

Abstract

Abstract: Electronic-based sexual violence against children is a serious crime that has grown with the rapid advancement of information technology. Practices such as online grooming, online sexual exploitation, and child pornography demonstrate complex crime patterns because they utilize digital media as the primary means. This article aims to analyze the legal regulations in Indonesia regarding electronic-based sexual violence against children and assess the effectiveness of law enforcement. The research method used is normative juridical with a statutory and conceptual approach. The analysis is based on the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia, Law Number 35 of 2014 concerning Child Protection, Law Number 12 of 2022 concerning Criminal Acts of Sexual Violence, and Law Number 1 of 2024 concerning the Second Amendment to the Electronic Information and Transactions Law. However, the main challenges still lie in digital evidence, limited capacity of law enforcement officers, and low digital literacy in the community. Therefore, strengthening technical regulations, increasing cross-border cooperation, and preventive efforts through digital education are needed to provide maximum protection for children as a vulnerable group. Keyword: child sexual abuse; online grooming; online sexual exploitation; child pornography; criminal law. Abstrak: Kekerasan seksual terhadap anak berbasis elektronik merupakan bentuk kejahatan serius yang berkembang seiring pesatnya kemajuan teknologi informasi. Praktik seperti online grooming, eksploitasi seksual daring, dan pornografi anak menunjukkan pola kejahatan yang kompleks karena memanfaatkan media digital sebagai sarana utama. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan hukum di Indonesia terkait kekerasan seksual terhadap anak berbasis elektronik serta menilai efektivitas penegakan hukumnya. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan konseptual. Analisis didasarkan pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, serta Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.Namun, tantangan utama masih terletak pada pembuktian digital, keterbatasan kapasitas aparat penegak hukum, serta rendahnya literasi digital masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan penguatan regulasi teknis, peningkatan kerja sama lintas negara, serta upaya preventif melalui edukasi digital guna memberikan perlindungan maksimal terhadap anak sebagai kelompok rentan. Kata kunci: kekerasan seksual anak; grooming online; eksploitasi seksual daring; pornografi anak; hukum pidana.