Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Religiusitas dalam Genre Horor: Eksorsisme dan Kekuatan Spiritual di Film “Kuasa Gelap” Novianto, Fauzan Akbar; Mukhyar, Muhamad
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 20 No. 2 (2024): Agama dan Isu Kontemporer
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v20i2.5796

Abstract

Penelitian ini menganalisis representasi religiusitas dalam film horor Indonesia Kuasa Gelap, yang mengangkat tema eksorsisme Katolik, suatu tema yang jarang diangkat dalam sinema horor Indonesia. Berbeda dengan mayoritas film horor lokal yang berfokus pada ruqyah Islam atau cerita rakyat, Kuasa Gelap mengeksplorasi eksorsisme Katolik yang kaya akan simbolisme religius dan spiritualitas. Tujuan penelitian ini adalah memahami bagaimana film ini mengartikulasikan simbol-simbol religius seperti salib, air suci, dan doa eksorsisme sebagai elemen penting dalam menggambarkan konflik antara kekuatan baik dan jahat. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan pendekatan semiotika untuk menggali makna di balik simbol-simbol tersebut. Kerangka teori Paul Tillich tentang simbol religius digunakan untuk menguraikan bagaimana simbol-simbol tersebut menyampaikan makna yang lebih dalam tentang iman, spiritualitas, dan keberanian eksistensial. Film ini menawarkan perspektif menarik dalam konteks masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim, di mana perpaduan simbol-simbol religius Katolik menciptakan dialog antara tradisi keyakinan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini bukan sekadar horor, tetapi juga sarana untuk mengeksplorasi dan mengartikulasikan pengalaman spiritual dan konflik eksistensial. Kesimpulannya, sinema horor dapat menjadi medium yang efektif untuk menggambarkan berbagai aspek religiusitas dan spiritualitas dalam konteks budaya multikultural.
Fenomena Catcalling Pada Perempuan: Relasi Tubuh dan Kekuasaan Perspektif Sandra Bartky Mukhyar, Muhamad; Risladiba
Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 13 No 01 (2026): January - June 2026
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/jsga.v13i01.11455

Abstract

Catcalling adalah tindakan verbal yang bertujuan menarik perhatian, yang sering kali ditujukan kepada perempuan di ruang publik. Meskipun sering dianggap sebagai candaan atau perilaku sepele, catcalling merupakan bentuk pelecehan seksual yang berakar pada objektifikasi tubuh perempuan dan ketimpangan kekuasaan sistemik yang dilanggengkan oleh patriarki. Artikel ini menganalisis catcalling melalui perspektif teori feminisme Sandra Bartky, dengan fokus pada relasi antara tubuh dan kekuasaan. Menggunakan pendekatan kualitatif dan metode kajian pustaka, penelitian ini mengacu pada karya-karya akademik terkait catcalling, kekerasan berbasis gender, serta teori Bartky tentang pendisiplinan tubuh dan objektifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa catcalling berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial yang memperkuat dominasi patriarki melalui objektifikasi dan pendisiplinan tubuh perempuan. Konsep "pengawasan diri" (self-surveillance) dari Bartky menggambarkan bagaimana perempuan menginternalisasi norma sosial, sehingga mereka mengubah perilaku, penampilan, dan gerakan mereka sebagai respons terhadap ancaman pelecehan. Analisis ini menyoroti bahwa catcalling bukan sekadar tindakan individu, melainkan bagian dari struktur kekuasaan patriarkal yang membatasi kebebasan perempuan di ruang publik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan struktural diperlukan untuk mengatasi catcalling, termasuk edukasi gender dan pergeseran budaya yang menantang norma patriarki. Temuan ini berkontribusi pada diskursus feminisme dengan menghubungkan pengalaman sehari-hari perempuan dengan sistem kekuasaan dan kontrol yang lebih luas.