Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Baita Adi: Aktualisasi Budaya melalui Alih Wahana Naskah ke Batik Hernawan, Vighna Rivattyannur; Aisyah, Nurma
Arnawa Vol 2 No 1 (2024): Edisi 1
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v2i1.15493

Abstract

This research aimed to describe Baita Adi batik as a result of the transfer of the Sestra Ageng Adidarma script into batik motifs as a manifestation of the actualization of archipelago culture. The research method used was descriptive qualitative. The data sources obtained were collected through observation, literature study, and informal interviews. Data processing was done with note-taking technique. The results showed that Baita Adi batik contains noble values as a manifestation of the piwulang in the Sestra Ageng Adidarma manuscript. The transfer process did not change the essence. In Baita Adi batik, there were several motifs, namely the rudder or captain, compass, sail, Juri Mualim (guide), and anchor. The existence of Baita Adi batik is a manifestation of the preservation of noble values and wisdom from the past that are channeled into batik so that it is recognized by the public in modern times. The existence of Baita Adi batik also cannot be separated from social value, cultural value, economic value, and educational value. The perspective and role of Baita Adi batik is a form of actualization of Nusantara culture which is an effort to preserve culture in modern times. === Karya Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan batik Baita Adi sebagai hasil alih wahana naskah Sestra Ageng Adidarma ke dalam motif batik sebagai perwujudan aktualisasi budaya nusantara. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sumber data yang diperoleh dikumpulkan melalui observasi, studi pustaka, dan wawancara informal. Pengolahan data dilakukan dengan dengan teknik catat. Hasil penelitian diperoleh bahwa batik Baita Adi mengandung nilai-nilai luhur sebagai manifestasi dari piwulang yang ada dalam naskah Sestra Ageng Adidarma. Proses alih wahana tidak mengubah esensi tersebut. Di dalam batik Baita Adi, terdapat beberapa motif yaitu kemudi atau nahkoda, kompas, layar, Juri Mualim (Penunjuk Jalan), dan Jangkar. Keberadaan batik Baita Adi merupakan perwujudan pelestarian nilai-nilai dan piwulang luhur sejak masa lampau yang disalurkan dalam batik agar dikenal masyarakat di masa modern. Keberadaan batik Baita Adi ini juga tidak dapat lepas dari nilai sosial, nilai budaya, nilai ekonomi, dan nilai pendidikan. Perspektif dan peran batik Baita Adi merupakan bentuk aktualisasi budaya Nusantara yang menjadi upaya pemertahanan budaya di masa modern.
Upaya memaknai kembali Banyu Penguripan: Kearifan lokal masyarakat Kudus sebagai strategi penyediaan air bersih berkelanjutan Ocsanda, Devina; Ardianto, Tiyo; Munir, Adelin Gusman; Aisyah, Nurma; Sartini, Sartini
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.526

Abstract

Masjid Menara Kudus di bawah kepengurusan Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus membangun sebuah narasi besar mengenai Banyu Penguripan yang lekat dengan ajaran Sunan Kudus. Di luar narasi tersebut, masyarakat mengenal konsep air sebagai kunci kehidupan merespons kebutuhan mutlak akan air. Krisis air bersih menjadi masalah tingkat global yang sangat mendesak untuk diselesaikan. Riset mengenai Banyu Penguripan pada Masyarakat Kabupaten Kudus bertujuan untuk melihat strategi penyediaan air bersih berkelanjutan berbasis kearifan lokal. Riset ini merupakan riset deskriptif kualitatif dengan menggunakan kerangka teoretis ekologi spiritual sebagai landasan analisis. Riset ini menghasilkan tiga temuan penting. Banyu Penguripan yang dikenal masyarakat Kudus memiliki historisitas terkait sinkretisme kepercayaan terhadap danyang, dewi, dan tokoh penyebar Islam (dalam Masa Pra-Islam, Masa Islam Awal, dan Masa Islam Lanjut). Dalam kerangka ekologi spiritual, Banyu Penguripan memengaruhi masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan dalam dimensi sakral. Banyu Penguripan dapat dipandang sebagai kearifan lokal yang mengajarkan cara konservasi air.
Harmoni Budaya dalam Pelestarian Aksara Jawa Lintas Bahasa pada Tabloid Carakita Hernawan, Vighna Rivattyannur; Aisyah, Nurma; Huda, Idharul
Arnawa Vol 3 No 1 (2025): Edisi 1
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v3i1.15439

Abstract

Rapid technological advancements require traditional cultures to adapt in order to survive. One such effort to preserve culture is the publication of *Tabloid Carakita* by the Cultural Office (Kundha Kabudayan) of the Special Region of Yogyakarta. This magazine is written in Javanese script and features content in three languages: Javanese, Indonesian, and English. This article examines how *Tabloid Carakita* employs Javanese script in a cross-linguistic context and interprets this practice as both a preservation strategy and a manifestation of ‘cultural harmony.’ Research data were collected from various editions of *Tabloid Carakita* and analyzed qualitatively through observation, literature review, and informal interviews. The findings indicate that the cross-language use of Javanese script adheres to phonological rules that align with the sounds of the spoken languages. Additionally, the *Tabloid Carakita* has proven to be an effective strategy for preserving Javanese script through a modern approach that signifies cultural revitalization and harmony, while also conveying important social and cultural values. === Perkembangan teknologi yang semakin pesat menuntut kebudayaan tradisional untuk menyesuaikan diri agar tetap lestari. Salah satu upaya pelestarian tersebut diwujudkan melalui penerbitan Tabloid Carakita oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, yang ditulis menggunakan aksara Jawa dalam tiga bahasa, yaitu Jawa, Indonesia, dan Inggris. Artikel ini menelaah bagaimana Tabloid Carakita mempraktikkan penulisan aksara Jawa lintas bahasa (Jawa–Indonesia–Inggris) dan bagaimana praktik tersebut dimaknai sebagai strategi pelestarian serta perwujudan ‘harmoni budaya’. Data penelitian diperoleh dari kumpulan Tabloid Carakita yang dianalisis secara kualitatif dengan metode observasi, studi pustaka, dan wawancara informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem penulisan aksara Jawa lintas bahasa tetap mengikuti kaidah fonologis yang menyesuaikan bunyi ujaran bahasa. Selain itu, pemanfaatan Tabloid Carakita terbukti efektif sebagai strategi pemertahanan aksara Jawa melalui pendekatan modern yang merepresentasikan revitalisasi dan harmoni budaya sekaligus mengandung nilai-nilai sosial dan budaya.