Nurfitriani, Dini
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evaluasi Produksi Maggot Black Soldier Fly (BSF) pada Media Ekskreta Puyuh Periode Layer: Evaluation of the Production of Black Soldier Fly (BSF) Maggots in Quail Excreta Media During the Layer Period Ayuningtyas, Gilang; Alfiyyah Yasmin, Fairuz; Sembada, Pria; Priyambodo, Danang; Fit Rayani, Tera; Purwanto, Bagus Priyo; Awaliyah, Izatullah Rizky; Nurfitriani, Dini; Afgani, Nawangsari Aulya; Pangestu, Puguh; Khoirunnisa, Luthfi; Agustin, Adinda Dwina
Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis
Publisher : Politeknik Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51852/jaa.v8i2.824

Abstract

The accumulation of ammonia in excreta waste cause air pollution and health problems for both humans and livestock. A solution to address this issue is through the bioconversion process using Black Soldier Fly larvae (BSFL). This study aims to evaluate the feasibility of Black Soldier Fly Larvae (BSFL) production using quail excreta as a growth medium and to analyze biomass production (BSFL and BSFL Frass) because of bioconversion. This study used a Randomized Block Design consisting of 2 treatments: non-fermented quail excreta (P0) and fermented quail excreta (P1). The bioconversion process was carried out at 3 different time periods. The variables observed are bioconversion indicators: growth rate, conversion efficiency (ECI), the weight of the BSFL, the weight and the characteristics of the BFSL frass. The data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), followed by the Least Significant Difference (LSD) test. The average growth rate of BSFL P0 (10.97%) and P1 (12.52%) was not significantly different, in line with the conversion efficiency (ECI) value in the P0 treatment (0.08) and P1 treatment (0.11). The bioconversion results showed that the production of BSFL in non-fermented quail excreta media reached 10.97% ± 6.74%, while in fermented excreta media it reached 12.52% ± 1.98%. This study indicates that quail excreta have the potential as a medium for BSFL production, and the excreta fermentation process does not have a significant effect on the bioconversion process based on bioconversion indicator variables.
Komposisi Nutrien Maggot Black Soldier Fly (BSF) Yang Ditumbuhkan Pada Media Ekskreta Burung Puyuh Dan Potensinya Pakan Ternak Ayuningtyas, Gilang; Rayani, Tera Fit; Priyambodo, Danang; Purwanto, Bagus Priyo; Hakim, Annisa; Sembada, Pria; Nurfitriani, Dini; Afgani, Nawangsari Aulia; Khairunisa, Luthfi
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 26 No. 1 (2025): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2025.026.01.3

Abstract

Eksreta puyuh merupakan sisa proses pencernaan dan ekskresi puyuh yang masih kaya akan bahan organik. Maggot Black Soldier Fly (BSF) merupakan jenis serangga yang mampu berperan sebagai agen pengomposan bahan organik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komposisi nutrien maggot BSF yang berasal dari proses biokonversi kotoran puyuh yang tidak difermentasi dan difermentasi. Penelitian ini dilakukan secara sistematis melalui beberapa tahap, yaitu persiapan media pertumbuhan, biokonversi ekskreta, pemanenan, pengeringan dan penggilingan maggot, serta analisis nutrien. Rancangan acak kelompok digunakan dalam penelitian ini, dengan faktor perlakuan terdiri dari media kotoran yang tidak difermentasi (MTF) dan media kotoran yang difermentasi (MDF). Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan analisis ragam dengan aplikasi Minitab 19. Kandungan protein kasar tertinggi ditemukan pada perlakuan kotoran yang tidak difermentasi (MTF) sebesar 41.86%, sedangkan perlakuan kotoran yang difermentasi memiliki kandungan sebesar 38.66%. Selain itu, kandungan Beta-N dalam tepung BSF pada MDF lebih tinggi dibandingkan MTF, dengan nilai masing-masing sebesar 13.18% dan 10.79%. Lebih lanjut, tepung larva BSF yang diberi perlakuan MDF menunjukkan proporsi asam palmitat yang lebih tinggi (15.86%) dibandingkan MTF, serta kadar asam laurat yang lebih rendah (11.73%), yang berbanding terbalik dengan larva yang diberi perlakuan MTF. Selain itu, biokonversi ekskreta oleh maggot BSF terbukti menghasilkan kadar asam amino non-esensial yang tinggi pada asam glutamat, asam aspartat, dan glisin pada kedua kelompok perlakuan. Sementara itu, BSF yang diberi perlakuan MTF mengandung kadar asam amino esensial tertinggi pada leusin, lisin, dan isoleusin, dengan persentase masing-masing 2.03%, 1.79%, dan 1.16%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi maggot BSF dari kotoran yang tidak difermentasi maupun difermentasi menghasilkan nilai nutrisi yang tinggi dan berpotensi dijadikan sebagai bahan pakan ataupun komponen untuk industri lainnya.