Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Use Of Cosmetics In Pregnant Women During Pregnancy Neti Sulami; Nini Niatullah Aliyati; Elfiana Fitri; Defi, Defi
Jurnal EduHealth Vol. 15 No. 04 (2024): Jurnal EduHealt (inpres), Year 2024
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cosmetic products are a daily necessity and are widely used by young women, including pregnant women. Recent cross-sectional studies show 60–80% of pregnant women also use cosmetic products, including facial cleanser, day cream, foundation, mascara, lipstick, eye pencil, eye shadow and makeup remover. Cosmetic products contain various chemical substances (e.g. phthalates, parabens, formaldehyde, dioxane, nitrosamines, hydroquinone, phenols, organic solvents) and heavy metals (e.g. Pb, Hg, As, Cd, Cr, Sb, Ni), which are added intentionally. as an efficacy component to increase the skin care effect of cosmetic products or brought from raw materials, auxiliary materials or technical problems during the production process. The aim of this research is to determine the use of cosmetics by pregnant women during pregnancy. The research target is pregnant women in Bima City. The sampling technique is purposive sampling and data analysis by calculating the frequency distribution. The result showing Based on the data above, it shows that the majority of pregnant women use whitening during pregnancy, namely 30%, the duration of use of cosmetics in most pregnant women is >1 year, namely 30%, the majority of pregnant women use cosmetics during pregnancy because it becomes a need/habit, namely 40%, the effects arising from the use of cosmetics during pregnancy during pregnancy mostly have a brightening effect of 33.33%, and the knowledge of pregnant women is in the good category, namely 83.33%.
Pelatihan dan Pendampingan Pengembangan Panganan Lokal Menu Tambahan Zat Besi dalam Pemenuhan Gizi Mikro Ibu Hamil Sebagai Upaya Pencegahan Anemia pada Kehamilan: Penelitian Neti Sulami; Uswatun Hasanah; Yati Purnama; Elfiana Fitri; Ningsih Rahmawati
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.2986

Abstract

Di daerah perdesaan masalah gizi terjadi melalui mekanisme yang berhubungan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan maupun ketersediaan makanan. Ibu Hamil yang tinggal di daerah pedesaan rentan untuk mengalami kerawanan pangan. Kerawanan pangan mempunyai korelasi positif dan erat kaitannya dengan kemiskinanatau status ekonomi yang rendah.Tidak tersedianya distribusi pangan yang baik, daya beli tidak mencukupi, ketidaktepatan atau penggunaan yang tidak memadai pangan di tingkat rumah tangga mengakibatkan kurangnya akses ke jumlah yang cukup makanan yang aman dan bergizi untuk pemenuhan gizi seimbang pada ibu hamil.Panganan lokal berpotensi dikembangkan sebagai pangan sumber zat besi, probiotik dan kalsium. Buah naga dan Buah jambu biji diproduksi di beberapa wilayah di kabupaten Bima, seperti di Desa Bre. Kecamatan Palibelo kabupaten bima, Desa Bre merupakan salah satu daerah penghasil Buah naga dan buah jambu biji. Umumnya Petani masih dan terus menanam serta mengkonsumsi buah naga dan buah jambu biji dengan cara tradisional dan tidak tahu manfaat serta kegunaan, sehingga perlu edukasi tentang pengolahan buah naga dan buah jambu biji agar dapat dijadikan produk yang sehat dan menarik untuk ibu hamil. Hasil :Kegiatan PKMP-PMP mendapatkan respon positif dari mitra dengan kesimpulan sebagai berikut:sebagian besar umur sasaran/ibu hamil pada kategori umur 20-35 tahun yaitu sebesar 66,67%, sebagain besar ibu hamil pada usia kehamilan trimester I yaitu sebanyak 50, sebagian besar pendidikan ibu hamil pada kategroi pendidikan menengah (SMA/sederajat) yaitu sebesar 75%, sebagian ibu hamil tidak bekerja yaitu sebanyak 91,67%, sebagain besar ibu hamil dengan kadar hb normal yaitu sebanyak 83,33%, sebagian besar ibu hamil telah mendapatkan tablet Fe sebanyak 66,67%, adanya perubahan pngetahuan sebelum dan sesudah pemberian pendampingan dan pelatihan.dari kategori cukup (100%) menjadi kategori baik (100%).
Gambaran Karakteristik Ibu Yang Memiliki Balita Stunting Di Kelurahan Ntobo Wilayah Kerja Puskesmas Penanae Tahun 2025 Elfiana Fitri; Nurul Qamarya; Dian Mariza Rizkiah Anwar
Jurnal Kebidanan dan Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2025)
Publisher : LPPM Akbid Surya Mandiri Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70683/jkk.v3i2.51

Abstract

Kejadian stunting merupakan salah satu masalah gizi yang dialami oleh balita di dunia saat ini. Stunting di Indonesia memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan masalah gizi lain. Berdasarkan data Puskesmas Penana’e Desember tahun 2024 terdapat 383 balita yang mengalami stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran karakteristik ibu yang memiliki balita stunting di Kelurahan Ntobo wilayah kerja Puskesmas Penana’e. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan variabel tunggal yaitu Sampel yaitu ibu yang memiliki balita stunting sebanyak 65 orang. Teknik sampling yatitu total sampling. Didapatkan bahwa hasil penelitian dari 65 responden yaitu usia ibu hamil tidak beresiko sebanyak 43 responden (66%), usia ibu hamil beresiko sebanyak 22 responden (34%), tamat SD sebanyak 9 responden (14%), tamat SMP sebanyak 12 responden (19%), tamat SMA sebanyak 32 responden (49%), tamat perguruan tinggi sebanyak 12 responden (19%), ibu tidak bekerja sebanyak 59 responden (91%), ibu bekerja sebanyak 6 responden (10 %), ibu memiliki anak 1 sebanyak 15 responden (23%), ibu memiliki anak 2-4 anak sebanyak 41 responden (63%), ibu memiliki anak < 4 anak sebanyak 9 responden (14%), ibu yang memiliki tinggi badan < 150 cm sebanyak 32 responden (49%), ibu yang memiliki tinggi badan > 150 cm sebanyak 33 responden (51%), status ekonomi rendah sebanyak 50 responden (77%), status ekonomi sedang sebanyak 15 responden (23 %), status ekonomi tinggi sebanyak 0 responden (0 %). Kesimpulan penelitian ini adalah karakteristik ibu yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita adalah tingkat pendidikan ibu menengah (SMA) dan status ekonomi keluarga yang rendah yaitu dibawah UMR Rp. 2.500.000. Diharapkan tenaga kesehatan dapat memberikan health education pada ibu yang memiliki anak balita mengenai pencegahan stunting pada balita agar prevalensi stunting bisa menurun.