Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Urgensi Pembelajaran Etika Digital sebagai Upaya Pencegahan Cyberbullying di Perguruan Tinggi Winarno, Winarno; Destiny, Destiny; Yuyus Kardiman
Civic Education: Media Kajian Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 8 No. 2 (2024): Desember 2024, Jurnal Civic Education: Media Kajian Pancasila dan Kewarganegara
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/jce.v8i2.10445

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui urgensi pembelajaran etika digital sebagai upaya pencegahan cyberbullying di perguruan tinggi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan sumber referensi yang kredibel dan relevan. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa etika digital harus diajarkan di perguruan tinggi khususnya untuk mencegah cyberbullying. Mengingat maraknya kasus-kasus yang terjadi di dunia digital, menyebabkan adanya degradasi moral khususnya pada mahasiswa. Pembelajaran ini tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi dengan benar, tetapi juga mendidik mahasiswa tentang tanggung jawab dan konsekuensi dari perilaku mereka di dunia maya. Pentingnya pembelajaran etika digital juga terletak pada kemampuannya untuk membentuk karakter dan meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai perilaku online yang baik. Melalui kurikulum yang mengintegrasikan etika digital, mahasiswa dapat menghindari cyberbullying. Selain itu, peran pendidik dan kompetensinya dalam memberikan pembelajaran juga harus kompeten dan relevan dengan tuntutan zaman. Dengan demikian, pembelajaran etika digital menjadi kunci dalam menciptakan budaya positif di dunia maya.
Urgensi Pembelajaran Etika Digital sebagai Upaya Pencegahan Cyberbullying di Perguruan Tinggi Winarno, Winarno; Destiny, Destiny; Yuyus Kardiman
Civic Education: Media Kajian Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 8 No. 2 (2024): Desember 2024, Jurnal Civic Education: Media Kajian Pancasila dan Kewarganegara
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/jce.v8i2.10445

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui urgensi pembelajaran etika digital sebagai upaya pencegahan cyberbullying di perguruan tinggi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan sumber referensi yang kredibel dan relevan. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa etika digital harus diajarkan di perguruan tinggi khususnya untuk mencegah cyberbullying. Mengingat maraknya kasus-kasus yang terjadi di dunia digital, menyebabkan adanya degradasi moral khususnya pada mahasiswa. Pembelajaran ini tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi dengan benar, tetapi juga mendidik mahasiswa tentang tanggung jawab dan konsekuensi dari perilaku mereka di dunia maya. Pentingnya pembelajaran etika digital juga terletak pada kemampuannya untuk membentuk karakter dan meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai perilaku online yang baik. Melalui kurikulum yang mengintegrasikan etika digital, mahasiswa dapat menghindari cyberbullying. Selain itu, peran pendidik dan kompetensinya dalam memberikan pembelajaran juga harus kompeten dan relevan dengan tuntutan zaman. Dengan demikian, pembelajaran etika digital menjadi kunci dalam menciptakan budaya positif di dunia maya.
Filsafat Pendidikan Pancasila dalam Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka: Analisis Komparatif Landasan Filosofis Winarno, Winarno; Heri Santoso; Yuyus Kardiman; Muchtarom
Integralistik Vol. 37 No. 1 (2026): Januari :2026
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/integralistik.v37i1.34147

Abstract

Pancasila, as the state foundation and philosophical basis of national education mandated by the National Education System Law Article 2, should serve as an ontological, epistemological, and axiological foundation in every national curriculum. This study aims to analyze and compare the educational philosophy underlying two curriculums and assess the extent to which Pancasila’s educational philosophy is adopted as a philosophical basis. The method used comparative analysis of official curriculum documents, namely Permendikbud No. 57–59 of 2014 (2013 Curriculum) and Permendikbudristek No. 12 of 2024 and Permendikdasmen No. 13 of 2025 (Merdeka Curriculum). The analysis employed thematic content analysis across three dimensions: (1) Philosophical Foundation, (2) Integration of Pancasila, and (3) Philosophical Depth. Results show that the 2013 Curriculum is dominated by progressivism and essentialism philosophies, with partial and normative-moral integration of Pancasila limited to the first three principles. In contrast, the Merdeka Curriculum integrates Pancasila holistically across eight graduate profile dimensions, covering all principles and beginning to engage ontological, epistemological, and axiological levels through a deep learning approach. The Merdeka Curriculum aligns more closely with the idealistic philosophy of Pancasila education than the 2013 Curriculum. The findings imply a need for an explicit philosophical foundation in the curriculum and adequate teacher training so that Pancasila becomes a strong philosophical foundation rather than merely a normative message.
Kritik Budaya Akademik Sekolah: Tinjauan Kritis atas Pemikiran Paulo Freire & Neil Postman tentang Pendidikan Formal yang Demokratis Maulana Malik Ibrahim; Berliana Dian Permatasari; Achmad Robi Afrilihadi; Muhammad Japar; Yuyus Kardiman
Widya Accarya Vol. 17 No. 1 (2026): Widya Accarya
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai kritik budaya akademik sekolah tentang pendidikan formal yang demokratis. Pendidikan formal (re: sekolah) yang mensyaratkan sebuah hubungan relasi guru-peserta didik perlu dikritisi secara mendalam melalui tinjauan kritis pemikiran Paulo Freire dan Neil Postman. Domestikasi yang terjadi antara guru-peserta didik menjadi sumber kritik yang disasar oleh pendidikan kritis. Konteks ini berlaku bahwa pendidikan seharusnya lebih mengembangkan nilai-nilai kebebasan dan kritisisme. Penelitian ini menggunakan pendekatan literatur atau pustaka (literature review) dengan mengelompokkan buku, jurnal, hingga laporan akademis. Analisis data dilakukan secara sistematis menggunakan pendekatan analisis isi kualitatif melalui tahapan open coding untuk mengidentifikasi konsep-konsep kunci, dilanjutkan dengan axial coding untuk mengelompokkan konsep ke dalam kategori tematik, serta selective coding untuk merumuskan tema inti yang merepresentasikan kritik budaya akademik sekolah. Hal ini dilakukan untuk memilah pemikiran-pemikiran yang relevan sesuai dengan fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paulo Freire memiliki kritik budaya akademik sekolah sebagai alternatif gagasan pendidikan formal yang demokratis, meliputi: a). Perbaikan relasi guru-peserta didik lewat orientasi dialogis; b). Penggunaan problem-posing education (metode hadap-masalah). Sementara itu, Neil Postman menekankan kritik terhadap hubungan guru-peserta didik yang tidak terbuka terhadap kebaruan teoretis, dengan menawarkan: a). Re-demokratisasi ruang kelas; b). Pendekatan metode proyek edukasi guru-peserta didik.