Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

COMPREHENSIVENESS OF PHYSIOTHERAPY INTERVENTION TO PREVENT FALL IN DIABETIC NEUROPATHY PATIENT AT Dr. H ARJONO S PONOROGO HOSPITAL: A CASE REPORT Kingkinnarti, K; Rahayu, Umi Budi
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2021: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (816.311 KB)

Abstract

Introduction: Diabetic Neuropathy has a negative impact on leg and ankle function (Strength and flexibility) which in itself affect the patients’s physical activity and quality of life. Physiotherapy protocols aimed at increasing intrinsic and extrinsic leg muscle strenght maybe a promosing approach to improve lower extremity function , prevent further complications and improve the patient's activities of dayli living.. Case Presentation: A 65-years old patients with diagnosis of Diabetic N europathy ,came to the Medical Rehabilitation Installation at RSUD Dr Hardjono Ponorogo with complains of burning sensation,tingling and numbness in both leg. Genu varus was seen in both legs,decreased right leg muscle strength,sensory los on feeling of touch,pain and temperature in both legs from the toes to the lower border of the knee. Management and Outcome: Aerobic Exercise, flexibility exercise, strengthening and balance exercise as well as gait training are given to patient with Diabetic Neuropathy. Exercise is given 3 times a week for 4 week. The measuring instrument uses Time Up And Go Test where it is reported that after undergoing comprehensive exercise therapy there is decreased in the TUG score from a score 22 second to score 19 second which means there is an increase in the patients static and dinamic’s balance. Discussion: Ankle exercises theraphy has also shown good results for improving ankle Range Of Motion and Diabetic Neuropathy symptoms as well as for redistributing plantar pressure during movement. Interventions in the form of strengthening, stretching, balance and gait training are very useful in preventing foot ulcers and amputations, reducing the risk of falls, increasing daily physical activity and quality of life, all of which can be beneficial in reducing mortality and comorbidities.. Conclusion: Combining Exercise therapy in the form of aerobic exercise, flexibility exercise, strengthening and balance exercise for the lower limbs, and gait training is beneficial in increasing muscle strength, balance and gait so that it can reduce the risk off falling in diabetic neuropathy patient.
Physiotherapy Approach in Early Elderly Patients with Neck Pain Due to Cervical Spondyloarthrosis and Cervical Hernia Nucleus Pulposus: A Case Report Apriliyani, Yuyun; Rahayu, Umi Budi; Kingkinnarti, K
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Cervical spondyloarthrosis adalah kondisi degeneratif yang menyerang vertebra cervical, termasuk sendi facet, diskus intervertebralis, dan ligamen pendukung. Cervical Herniated Nucleus Pulposus (CHNP) adalah kondisi nucleus pulposus menonjol melalui robekan annulus fibrosus yang dapat menekan saraf di sekitarnyaCase Presentation: Penelitian ini menggunakan desain case report yang dilakukan di RSUD Dr. Harjono Kabupaten Ponororgo, Jawa Timur pada tanggal 4 hingga 21 Februari 2025 pada pasien cervical spondyloarthrosis dan cervical hernia nucleus pulposus berdasarkan hasil rontgen dan MRI.Management and Outcome: Penelitian dilakukan secara langsung kepada pasien dengan kondisi cervical spondyloarthrosis dan CHNP dengan pemberian intervensi sebanyak tiga kali. Program rehabilitasi fisioterapi berupa SWD (Short Wave Diathermy), TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation), cervical traction, stretching neck, neck calliet exercise. Pengukuran yang digunakan yaitu pengukuran nyeri dengan Numerical Rating Scale (NRS), pengukuran kekuatan otot dengan Manual Muscle Testing (MMT), pengukuran Lingkup Gerak Sendi (LGS) dengan goniometer, dan pengukuran kemampuan fungsional dengan Neck Disability Index (NDI). Setelah pemberian program rehabilitasi fisioterapi selama tiga sesi didapatkan hasil adanya terjadi penurunan nyeri pada nyeri gerak dan tekan. Terjadi- peningkatan LGS pada semua bidang gerak leher. Terjadi peningkatan kekuatan otot penggerak lateral fleksi dextra dan rotasi dextra. Selain itu, terjadi penurunan disabilitas yang dibuktikan dengan menurunnya skor NDI dari 38% pre-intervensi menjadi 26% pasca-intervensi.Conclusion: Pemberian program rehabilitasi fisioterapi telah terbukti dapat menurunkan intensitas nyeri dan spasme, meningkatkan LGS, meningkatkan kekuatan otot, serta meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional.
Management Fisioterapi pada Kasus Sprain Wrist dengan Grip Strengthening Exercises: A Case Report Novitasari, Tessya Hadika; Perdana, Suryo Saputra; Kingkinnarti, K
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Sprain wrist terjadi ketika adanya regangan berlebih atau overstretch dari ligament dan adanya rupture atau robekan pada ligament. Hal ini biasanya terjadi karena overuse, trauma, gerakan yang mendadak berubah arah, dan menahan atau mengangkat beban secara berlebihan. Sprain wrist dapat mempengaruhi aktivitas fungsional tangan, tangan yang mempunyai peran vital pada pergerakan yang ada. Oleh karena itu memerlukan modalitas fisioterapi dengan tujuan mempercepat pemulihan dan kembalinya fungsi tubuh. Tujuan untuk mengetahui keefektifan dalam pemberian intervensi fisioterapi yang dikombinasikan dengan ultrasound, TENS, massage therapy dan grip strengthening exercise pada kasus sprain wrist.Case Presentation: Pasien Tn. F berusia 28 tahun yang bekerja di perkapalan dating ke fisioterapi dengan keluhan nyeri pada pergelangan tangan saat digerakan ke arah atas, bawah, kanan dan kiri. Awal mula keluhan yang dirasakan Tn.F dikarenakan pasien mengalami kecelakaan pada tanggal 3 November 2024. Subjek diberikan intervensi terapi sebanyak 2x dalam 1 minggu.Management and Outcome:Tindakan fisioterapi yang diberikan yaitu pemberian ultrasound, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), terapi latihan diantaranya myofascial release massage, gerakan aktif, pasif dan isometric, serta strengthening exercise dengan teknik Grip-Strengthening Exercises Combined with Wrist Stability Training (GSE Plus WST). Hasil evaluasi nyeri menggunakan NRS dengan nyeri diam 0, nyeri tekan 4, nyeri gerak 6 mengalami penurunan nyeri tekan 2, nyeri gerak 2. Pemeriksaan kekuatan juga menunjukan peningkatan yang diukur dengan MMT dari nilai 4 menjadi nilai 5. Hasil evaluasi pemeriksaan LGS mengalami peningkatan pada gerakan palmar fleksi T1(40°) menjadi T2 (45°), kemudian pada gerakan dorsal fleksi T1(40°) menjadi T2 (45°), pada gerakan radial deviasi T1 (10°) menjadi T2 (15°), pada gerakan ulnar deviasi T1 (25°) menjadi T2 (25°), pada gerakan supinasi T1 (85°) menjadi T2 (90°), pada gerakan pronasi T1 (80°) menjadi T2 (80°). Kemampuan aktivitas fungsional mengalami peningkatan yang dievaluasi dengan WHDI T0 (25% Moderate) menjadi T1 (18% Minimal disability) dan pemeriksaan terakhir T2 (14% Minimal disability).Conclusion: Hasil yang didapatkan yaitu meningkat signifikan pada kasus sprain wrist yaitu ditandai dengan adanya penurunan nyeri, peningkatan kekuatan otot, penambahan LGS, serta peningkatan kemampuan fungsional.