Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENDAMPINGAN KEPADA PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR (P3A) UNTUK MEMBUAT LAPORAN/MONITORING DENGAN APLIKASI DI DESA MEJOBO KECAMATAN MEJOBO KABUPATEN KUDUS Istianah, Istianah; Handajani, Mudjiastuti; Edy Susilo; Noora Savera; Annisa Berliana
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 2 No. 2 (2024): April
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v2i2.625

Abstract

Pembangunan pedesaan merupakan bagian yang penting dari pembangunan nasional. selama ini banyak program pembangunan yang dilakukan di Desa dirancang oleh Pemerintah.pembangunan Desa merupakan kegiatan yang mencakup seluruh aspek kehidupan dalam masyarakat Desa. Tujuan pembangunan Desa adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa, serta untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan untuk penanggulangan kemiskinan. Salah satu program di Kementrian Pekerjaan Umum adalah Kegiatan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) dalam Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan merupakan kegiatan yang bersifat swakelola dimana tanggung jawab pengelolaan diberikan kepada Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dalam hal perbaikan atau peningkatan sistem jaringan irigasi terutama jaringan irigasi tersier yang melayani Petak tersier atau areal sawah. Proyeksi Pengembangan tata kelola sebagai masukan antara lain Metode Pelatihan pelaku program, mekanisme pendampingan dan pengawasan yang efektif, infrastruktur yang berkualitas serta laporan pertanggung jawaban kegiatan fisik yakni Perbaikan sistem jaringan irigasi dan serta pendanaan dapat dikelola sesuai Pengelolaan serta prinsip dan kaidah teknis pekerjaan jaringan irigasi. Untuk mendukung kegiatan tersebut agar tertib administrasi diperlukan laporan/monitoring yang Akuntabilitas dan dapat di akses semua pihak. Kata kunci: Pembangunan Pedesaan, Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A),Saluran Irigasi Tersier, Laporan /Monitoring
Sejarah Kodifikasi Ilmu Qira’at dan Urgensinya Sebagai Warisan Bacaan Al-Qur’an Yang Mutawatir Ikma Pradesta Putra Prayitna; Annisa Berliana; Yuli Yanti; Romlah Widayati
Jurnal test Vol 3 No 1 (2024): March
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58363/alfahmu.v3i1.182

Abstract

The Qur’an was revealed in the midst of an Arab society with its own culture and language. The heterogeneous conditions of the society cause linguistic differences and dialectics. The problem that arises is the differentiation of abilities between individuals and groups related to language, especially Fusha Arabic. For this reason, the Prophet said, “Verily, the Qur’an was revealed with seven letters, so read the easiest”. One view of the meaning of the Hadith is that the Qur’an was revealed with seven languages and dialectical varieties. This research uses a qualitative method with the type of revelation text study included in the literature study. The result of the research is that qira’at began to be organized into a discipline by Abu Ubaid al-Qasim by compiling the work of the book of qira’at, which collected twenty-five qira’at. The differences in qira'at are divided into two, namely uhsuliyah rules; standardized rules in the reading of each Imam and farsy al-huruf; differences in typical readings that exist in each Imam and narrator. The difference in qira’at in farsy al-huruf mostly gives implications in interpretation. Suggestions for future research can examine aspects of qira’at in more depth through historical aspects and implications of interpretation.