Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Geochemical and Magnetic Suseptibility Analysis for Critical Minerals Detection in Igneous Rocks and Beach Sand Hariyanto, Yensi; Zulaikah, Siti; Hapsoro, Cahyo Aji; Maulida, Shofi; Zakly, Hanif 'Izzudin; Muztaza, Nordiana Mohd; Suadi, Daeng Achmad; Pratama, Aditya; Hamdi, Hamdi
Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol. 9 No. 3 (2024): SPEKTRA: Jurnal Fisika dan Aplikasinya, Volume 9 Issue 3, December 2024
Publisher : Program Studi Fisika Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/SPEKTRA.093.04

Abstract

Critical minerals are an important natural resource that will continue to be necessary for modern industries. This study aims to determine the distribution of critical minerals based on geochemical data and magnetic susceptibility. Samples were taken from Lenggoksono beach, Southern Malang. The determination of chemical elements was conducted using X-ray fluorescence (XRF). Rare Earth Elements (REE) were identified using Inductively Coupled Plasma–Optical Emission Spectrometry (ICP-OES). Magnetic susceptibility measurements were carried out using a Barrington Magnetic Susceptibility Meter (MS2B). The results showed that the dominant elements were Silica Oxide, SiO2 (70 Wt%), Iron Oxide, Fe2O3 (14.05 Wt%), and Calcium Oxide CaO (5.57 Wt%), which were categorized as critical minerals. The average REE elements detected were Cerium, Ce (6.75 mg/kg), Gadolinium, Gd (5.98 mg/kg), Neodymium, Nd (13.56 mg/kg), Praseodymium, Pr (6.62 mg/kg), Terbium, Tb (5.57 mg/kg), and Yttrium, Y (10.98 mg/kg). The magnetic susceptibility ranges from 13.27 to 4143.47 × 10-8m3/kg. Pearson’s Correlation analysis revealed a significant correlation between low-frequency magnetic susceptibility (ꭓlf) and high-frequency magnetic susceptibility (ꭓhf) with a significance level of 0.01. ꭓlf and ꭓhf also showed a significant correlation with Gd, with a correlation value of R² = 0.84 and a significance level of 0.05. These results indicate that the presence of one critical mineral can serve as a clue to the presence of other critical minerals, and magnetic susceptibility can be used as a proxy indicator for critical minerals in natural materials.
IDENTIFIKASI DAN EKSPOSE OBJEK GEOWISATA BERSAMA MASYARAKAT GURAH SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN KHDTK UM Zulaikah, Siti; Mutia, Tuti; Anam, Choirul; Zakly, Hanif ‘Izzuddin; Maulida, Shofi
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat (SINAPMAS) Vol 5, No 1 (2025): Inovasi Bioteknologi untuk Kesejahteraan Masyarakat: Menuju Kampus Berdampak 202
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objek geowisata merupakan warisan geologi yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis ilmu pengetahuan. Provinsi Jawa Timur memiliki keanekaragaman objek geowisata dengan karakteristik dan keunikannya masing-masing, namun potensi besar yang dimiliki objek geowisata sering kali terpinggirkan akibat kurangnya eksposur, sehingga hanya beberapa objek geowisata yang dikenal luas oleh masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan eksplorasi objek geowisata baru yang tidak hanya bermanfaat bagi aspek ekonomi, tetapi juga berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Kawasan Gurah merupakan salah satu objek geowisata yang termasuk ke dalam kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK), dengan Universitas Negeri Malang yang ditunjuk oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai pengelola kawasan tersebut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberikan eksposur objek geowisata Gurah dari aspek ilmu pengetahuan, mengingat potensi kawasan ini tidak hanya terletak pada keindahan pantainya, tetapi juga pada nilai-nilai ilmiah yang perlu disampaikan untuk memberikan pengalaman wisata yang lebih bermakna bagi pengunjung. Pemberian plakat informasi yang memuat hasil studi geologi Kawasan Gurah diharapkan mampu memberikan insight bagi wisatawan, sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat setempat terhadap ilmu pengetahuan yang terkandung dalam objek geowisata. Dengan demikian, masyarakat Gurah dapat berpartisipasi secara tidak langsung dalam upaya konservasi dan pelestarian Kawasan Gurah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menjadi langkah awal yang dapat dijadikan dasar pengembangan KHDTK Universitas Negeri Malang di Kawasan Gurah.
Optimalisasi Pengembangan Dan Ekspose “Hidden Gem” Objek Geowisata Di Lenggoksono Dengan Pendekatan Geo-Edukasi Dan Partisipasi Aktif Masyarakat Untuk Pariwisata Keberlanjutan Zulaikah, Siti; Suaidi, Daeng Achmad; Laksono, Yoyok Adisetyo; Zakly, Hanif ‘Izzuddin; Maulida, Shofi; Tue, Yensi Hariyanto
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat (SINAPMAS) Vol 5, No 1 (2025): Inovasi Bioteknologi untuk Kesejahteraan Masyarakat: Menuju Kampus Berdampak 202
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara yang dikenal sebagai “Ring of Fire”; kondisi demikian menyebabkan Indonesia memiliki aktivitas vulkanik dan tektonik yang beragam serta menciptakan bentang alam yang unik di masing-masing daerah. Salah satu kawasan yang memiliki geodiversitas adalah Lenggoksono, yang merupakan bagian dari desa wisata BOWELE (Bolu-Bolu, Wedi Awu, Lenggoksono) dan terletak di Malang Selatan. Terdapat berbagai macam objek geowisata yang unik dan masih tergolong “hidden gem” di Lenggoksono, sehingga kawasan ini potensial untuk dijadikan geopark. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengekspose “hidden gem” objek geowisata Lenggoksono melalui pendekatan geo-edukasi yang didasarkan pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan memberikan ekspose “hidden gem” dan narasi ilmiah yang relevan, pengalaman wisatawan ketika berkunjung ke objek geowisata akan menjadi lebih bernilai serta meningkatkan wawasan ilmiah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini tidak hanya memunculkan destinasi objek geowisata baru, tetapi juga berperan dalam menumbuhkan rasa peduli terhadap konservasi objek geowisata. Kolaborasi antara akademisi (kampus) dan pemangku kepentingan objek geowisata terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas objek geowisata. Untuk mencapai keberlanjutan suatu objek geowisata, diperlukan perencanaan tata kelola yang terstruktur, monitoring rutin, serta partisipasi aktif seluruh komponen pemangku kepentingan. Dengan demikian, Lenggoksono berpotensi menjadi percontohan pengembangan objek geowisata berbasis geoedukasi yang mampu memberikan manfaat positif pada aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.