Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Flexing Bersedekah di Media Sosial QS. Al-Baqarah: 271 (Prespektif Tafsir Al-Azhar) Ani Amalia; Mabrur, Sofwan
MAGHZA Vol 9 No 2 (2024): Juli-Desember 2024
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v9i2.12125

Abstract

Kemunculan media sosial diikuti oleh berbagai tren baru di era milenial, salah satunya adalah flexing, yaitu konten yang menunjukkan kemewahan di berbagai platform media social. Fenomena flexing semakin marak seiring dengan bertambahnya jumlah crazy rich yang memamerkan barang 'mewah', bermerek terkenal, atau jarang dimiliki orang lain karena harganya sangat mahal. Saat ini, aktivitas flexing menjadi semakin beragam, mulai dari menampilkan kehidupan sehari-hari hingga kegiatan sosial, ibadah, dan sedekah yang dipamerkan di media sosial. Misalnya, sedekah yang sengaja dipamerkan untuk mendapatkan pujian dan keuntungan dari banyaknya penonton serta pengikut. Oleh karena itu, penelitian ini akan menggali bagaimana pandangan Al-Qur’an, khusunya interpretasi QS. Al-Baqarah: 271 dengan pendekatan yang dikembangkan Buya Hamka. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana islam memandang praktik flexing dalam bersedekah di era digital ini. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis berbagai konten di platform media sosial seperti Instagram, YouTube, dan TikTok yang menampilkan flexing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memberikan sedekah secara tertutup kepada orang-orang miskin, fakir, dan terlantar dianggap lebih baik (khair) daripada memberikannya secara terbuka, Dengan bersedekah secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi, maka dapat menjaga kehormatan penerima sedekah. Selain itu, dengan bersedekah secara diam-diam, maka dapat terhindar dari sikap sombong atau riya dan terhindar dari timbulnya rasa dengki dari hati orang yang melihatnya. Sedekah untuk kepentingan umum seperti pembangunan institusi agama sebaiknya dilakukan secara terang-terangan, agar dapat menginspirasi dan menggerakan orang lain untuk turut berkontribusi dalam melakukan kebaikan.
Taraduf dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Kata Mahabbah dan Mawaddah dalam Semantik Toshihiko Izutsu) Rizkoh, Nur Amniar; Mabrur, Sofwan
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 4 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i4.19974

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana fenomena taraduf atau sinonimitas di dalam Al-Qur’an dengan fokus penelitian pada makna kata mah}abbah dan mawaddah. Jika dilihat sekilas kedua kata ini memang memiliki arti yang sama, yaitu cinta dan kasih sayang. Namun, jika diteliti lebih jauh lagi kata mah}abbah dan mawaddah memiliki perbedaan dalam segi makna dan penggunaan. Maka dari itu penulis mencoba mengulik lebih dalam lagi terkait makna kata mah}abbah dan mawaddah dengan menggunakan pendekatan semantik Toshihiko Izutsu. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan objek penelitian kata mah}abbah dan mawaddah yang ada di dalam Al-Qur’an. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan semantik Toshihiko Izutsu. Untuk mengungkap makna kata dengan teori semantik Toshihiko ini melewati empat jalur, yaitu mencari makna dasar kata, makna relasional kata, makna sinkronik diakronik kata, dan mencari weltanschauung kata. Hasil dari penelitian ini adalah kata mah}abbah dan mawaddah memiliki keterkaitan konsep di dalamnya, yaitu kedua kata tersebut sama-sama membahas cinta dan kasih sayang. Kata mah}abbah membahas cinta atau menyukai, tapi cinta dalam ranah mah}abbah ini terkait cinta Allah SWT terhadap hamba-Nya, cinta hamba terhadap Allah SWT, cinta antar sesama makhluk, dan cinta terhadap duniawi. Dan untuk kata mawaddah sendiri membahas kasih sayang dan keinginan yang memiliki objek Allah SWT, hamba, orang mukmin, orang munafik, orang kafir, dan hubungan sosial.