Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Product Knowledge, Green Product Persepsi Harga terhadap Minat Beli Ulang Tupperware di Bandung Raya Yulianti, Sani; Adialita, Tania
J-MAS (Jurnal Manajemen dan Sains) Vol 9, No 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jmas.v9i2.1894

Abstract

The use of single-use plastic bags and packaging is still widely used by the public for the reason that it is more practical and cheaper, this is due to the lack of public knowledge about the dangers of using plastic and environmentally friendly products, apart from the opinion that bringing your own food container when snacking is considered less practical and the price is considered more expensive than single-use plastic. This research aims to analyze the influence of product knowledge, green products, and price perceptions on interest in repurchasing Tupperware in Greater Bandung. The population in this research is Tupperware buyers and users over 18 years of age and domiciled in Greater Bandung. This research used a convenience sampling technique involving 150 respondents. The data used is primary data obtained from survey results through distributing questionnaires online using cross-sectional data collection techniques. This research uses analytical techniques of validity testing and reliability testing to test instruments, classical assumption testing, and hypothesis testing using SPSS version 24. The results of this research are that product knowledge significantly influences interest in repurchasing Tupperware products, green products influence repurchase interest , price perception does not influence interest in repurchasing Tupperware. The research results simultaneously show that product knowledge, green products, and price perceptions influence interest in repurchasing Tupperware in Greater Bandung..
Keraton Yogyakarta Sebagai Pusat Pendidikan dan Pelestarian Seni Tradisional Dikarsa, Asep Anggi; Monica, Tantri; Destiana, Rina; Yulianti, Sani; Rosi, Sofia
Citizen : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 4 (2025): CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia
Publisher : DAS Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53866/jimi.v5i4.998

Abstract

Keraton Yogyakarta, sebagai pusat kebudayaan Jawa, memiliki peran penting dalam pendidikan dan pelestarian seni tradisional di tengah tantangan globalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Keraton Yogyakarta sebagai pusat pendidikan kebudayaan tradisional dan pelestarian seni, dengan fokus pada kesenian tradisional, kepercayaan masyarakat, dan daya tariknya sebagai destinasi wisata budaya bagi pelajar dan turis. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggabungkan studi literatur dan wawancara dengan seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Keraton Yogyakarta tidak hanya menjadi simbol budaya Jawa, tetapi juga menjalankan fungsi pendidikan melalui pelatihan seni tradisional seperti tari, karawitan, dan aksara Jawa. Meskipun globalisasi membawa ancaman terhadap budaya lokal, Keraton Yogyakarta tetap konsisten melestarikan tradisi melalui pagelaran seni dan pendidikan berbasis budaya. Penelitian ini menegaskan bahwa Keraton Yogyakarta mempertahankan identitas budaya Jawa sebagai bagian dari statusnya sebagai kota pelajar dan istimewa.
Peran Pendidikan Dalam Menguatkan Moderasi Beragama dan Toleransi Yulianti, Sani; Rostiani, Rita; Tetep, Tetep; Jamilah, Jamilah
Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpi.v6i1.2721

Abstract

Indonesia is a country with a very high level of religious, ethnic, cultural, linguistic, and customary diversity, which is both a strength and a challenge in the life of the nation and state, especially when various phenomena of intolerance, hate speech, and religious-based conflicts are still encountered, indicating that the values of tolerance and respect for differences have not been fully internalized in society. Therefore, religious moderation is an important concept to be developed as an effort to maintain social harmony amidst the nation's plurality. Education is seen as a strategic instrument in strengthening religious moderation and fostering an attitude of tolerance because it not only functions as a means of transferring knowledge, but also plays a role in shaping the character, attitudes, and perspectives of students so that they have an inclusive and moderate religious understanding. This study aims to examine the role of education in strengthening religious moderation and fostering an attitude of tolerance amidst the diversity of Indonesian society using a qualitative approach through a literature study of relevant national and international academic books and scientific journal articles, especially those published in the last ten years. Data were analyzed using qualitative content analysis techniques to identify the main concepts, ideas, and findings of experts. The results of the study indicate that education has a strategic role in internalizing the value of religious moderation through the development of an inclusive curriculum, the application of dialogic and participatory learning methods, the role model of educators, and the creation of a school culture that respects diversity, where multicultural-based education has proven effective in strengthening attitudes of tolerance and awareness of peaceful coexistence, although its implementation still faces challenges in the form of narrow religious understanding, limited integration of the value of moderation in the curriculum, and the negative influence of social media, so that strengthening religious moderation through education needs to be carried out comprehensively and sustainably in order to form a tolerant, just, and civilized generation in a pluralistic Indonesian society.ABSTRAKIndonesia merupakan negara dengan tingkat keberagaman agama, suku, budaya, bahasa, dan adat istiadat yang sangat tinggi, yang menjadi kekuatan sekaligus tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama ketika masih dijumpai berbagai fenomena intoleransi, ujaran kebencian, dan konflik berbasis agama yang menunjukkan bahwa nilai toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan belum sepenuhnya terinternalisasi dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi konsep penting untuk dikembangkan sebagai upaya menjaga keharmonisan sosial di tengah pluralitas bangsa. Pendidikan dipandang sebagai instrumen strategis dalam menguatkan moderasi beragama dan menumbuhkan sikap toleransi karena tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga berperan dalam pembentukan karakter, sikap, dan cara pandang peserta didik agar memiliki pemahaman keagamaan yang inklusif dan moderat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pendidikan dalam menguatkan moderasi beragama dan menumbuhkan sikap toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur terhadap buku akademik dan artikel jurnal ilmiah nasional maupun internasional yang relevan, khususnya yang terbit dalam sepuluh tahun terakhir. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis) secara kualitatif untuk mengidentifikasi konsep, gagasan, dan temuan utama para ahli. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam menginternalisasikan nilai moderasi beragama melalui pengembangan kurikulum yang inklusif, penerapan metode pembelajaran yang dialogis dan partisipatif, keteladanan pendidik, serta penciptaan budaya sekolah yang menghargai keberagaman, di mana pendidikan berbasis multikultural terbukti efektif dalam memperkuat sikap toleransi dan kesadaran hidup berdampingan secara damai, meskipun implementasinya masih menghadapi tantangan berupa pemahaman keagamaan yang sempit, keterbatasan integrasi nilai moderasi dalam kurikulum, serta pengaruh negatif media sosial, sehingga penguatan moderasi beragama melalui pendidikan perlu dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan guna membentuk generasi yang toleran, adil, dan berkeadaban dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.