Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Muhammadiyah Dan Konstruksi Moderasi Islam Dalam Konteks Demokrasi Indonesia Aris Munandar; Fadhilah Faiqoh
Stigma Jurnal Ilmu Sosial Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi moderasi Islam dalam Muhammadiyah dalam konteks demokrasi Indonesia. Moderasi Islam menjadi isu penting di tengah meningkatnya radikalisme, intoleransi, dan polarisasi keagamaan yang berpotensi mengganggu stabilitas demokrasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan serta dianalisis menggunakan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Muhammadiyah mengonstruksi moderasi Islam melalui tiga tahapan, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Moderasi tidak hanya diwujudkan dalam bentuk wacana keagamaan, tetapi juga dilembagakan melalui amal usaha seperti pendidikan dan pelayanan sosial. Dalam konteks demokrasi, Muhammadiyah berkontribusi dalam memperkuat nilai-nilai toleransi, pluralisme, dan partisipasi publik. Namun, terdapat berbagai tantangan, seperti menguatnya radikalisme, kesenjangan antara wacana dan praktik, serta dinamika era digital. Penelitian ini menegaskan bahwa moderasi Islam merupakan proses yang dinamis dan memerlukan penguatan berkelanjutan agar tetap relevan dalam mendukung demokrasi di Indonesia.   This study aims to analyze the construction of Islamic moderation within Muhammadiyah in the context of Indonesian democracy. Islamic moderation has become a crucial issue amid increasing radicalism, intolerance, and religious polarization that may threaten democratic stability. This research employs a qualitative approach using a literature review method and is analyzed through Berger and Luckmann’s social construction theory. The findings reveal that Muhammadiyah constructs Islamic moderation through three stages: externalization, objectification, and internalization. Moderation is not only expressed in religious discourse but also institutionalized through social services such as education and healthcare. In the context of democracy, Muhammadiyah contributes to strengthening values of tolerance, pluralism, and public participation. However, several challenges remain, including the rise of radicalism, the gap between discourse and practice, and the dynamics of the digital era. This study concludes that Islamic moderation is a dynamic process that requires continuous reinforcement to remain relevant in supporting democracy in Indonesia.
ISLAMIC BOARDING SCHOOLS (PESANTREN) AND THE CHALLENGES OF MODERNITY: RESPONSES TO THE ADVANCEMENT OF SCIENCE AND TECHNOLOGY Muhammad Syukri Pulungan; Kombang Tua Siregar; Burhanuddin Siregar; Aris Munandar
Leadership:Jurnal Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam Vol 7 No 2 (2026): Juni
Publisher : STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32478/leadership.v7i2.4567

Abstract

This study aims to analyze pesantren’s responses to modernity and to uncover the epistemological and practical dynamics that surround them. Modernity is suspected to erode the authority of classical scholarly traditions and displace cultural values, thereby generating fragmentation within pesantren identity. The method employed in this research is library research with a qualitative approach. Data were collected from academic literature and analyzed descriptively through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that pesantren’s responses to modernity are diverse. First, some pesantren adopt a resistant stance in order to safeguard the authenticity of classical Islamic scholarship. Second, others take a progressive position by integrating science and technology as instruments of institutional transformation. Third, certain pesantren adopt a moderate orientation through selective integration strategies that seek to maintain a balance between the preservation of tradition and the utilization of technology. This study asserts that modernity should not be viewed merely as a threat but rather as a sphere of epistemological negotiation that enables the emergence of a creative synthesis between Islamic tradition and technological innovationn. Keywords: Pesantren; Modernity; Knowledge; Technology; Islamic Education   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respons pesantren terhadap modernitas dan mengungkapkan dinamika epistemologis serta praksis yang melingkupinya. Modernitas disinyalir berpotensi mengikis otoritas tradisi keilmuan klasik dan menggeser nilai kultural yang menimbulkan fragmentasi identitas pesantren. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dari literatur akademik yang kemudian di analisis secara deskriptif kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons pesantren terhadap modernitas bersifat beragam. Pertama, sebagian pesantren menempuh sikap resistif untuk menjaga otentisitas tradisi keilmuan Islam klasik. Kedua, terdapat pesantren yang bersikap progresif dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai instrumen transformasi kelembagaan. Ketiga, beberapa pesantren mengambil posisi moderatif melalui strategi integrasi selektif yang berusaha menjaga keseimbangan antara konservasi tradisi dan pemanfaatan teknologi. Studi ini menegaskan bahwa modernitas tidak semestinya diposisikan sebagai ancaman, melainkan sebagai ruang negosiasi epistemologis yang memungkinkan lahirnya sintesis kreatif antara tradisi keislaman dan inovasi teknologi. Kata kunci: Pesantren; Modernitas; Ilmu Pengetahuan; Teknologi; Pendidikan Islam
Kontribusi Majelis Taklim sebagai Penggerak Ekonomi Desa di Sukadamai, Lampung Selatan Aris Munandar; Endang Susanti
Jurnal Pengabdian Masyarakat (Bisma) Vol. 2 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat (Bisma)
Publisher : Universitas Darunnajah, Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61159/bisma.v2i2.310

Abstract

Desa Sukadamai di Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, memiliki potensi besar untuk pengembangan ekonomi berbasis masyarakat. Meski sumber daya alam dan manusia memadai, tantangan dalam memanfaatkan potensi ini sering menghambat kemajuan ekonomi desa. Peran Forum Silaturrahmi Majlis Taklim (FSMT) sangat penting dalam pemberdayaan masyarakat. Di Desa Sukadamai, FSMT tidak hanya menjadi wadah diskusi agama, tetapi juga berperan dalam pemberdayaan ekonomi, meningkatkan kesadaran ekonomi masyarakat, memberikan pendidikan dan pelatihan, serta mendukung pemberdayaan perempuan dan pengembangan usaha mikro. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis melalui pengumpulan, reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. FSMT berperan penting dalam meningkatkan kemandirian ekonomi desa melalui pendidikan, pelatihan kewirausahaan, dan dukungan komunitas. Temuan menunjukkan bahwa FSMT berkontribusi signifikan terhadap pemberdayaan ekonomi Desa Sukadamai dengan pendekatan holistik dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi, inovasi, dan pemberdayaan berkesinambungan, FSMT berpotensi menjadi model inspiratif dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi pedesaan dan membangun dasar yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi di masa yang akan datang.