Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN STRES DENGAN SLEEP PARALYSIS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA Lay, Valleryano; Noer Saelan Tadjudin
Ebers Papyrus Vol. 30 No. 2 (2024): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v30i2.28020

Abstract

Pendahuluan Seorang mahasiswa memang tidak terlepas dari stres dalam kegiatan belajarnya. Hal ini berdampak negatif terhadap kualitas tidur mahasiswa yang dapat menyebabkan berbagai gangguan tidur, termasuk sleep paralysis. Sleep paralysis merupakan keadaan seseorang yang mendapatkan kembali kesadaran saat tertidur tanpa kemampuan untuk menggerakkan anggota tubuh, dan biasanya disertai dengan halusinasi. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk melihat adakah hubungan antara sleep paralysis dengan stres pada mahasiswa FK Universitas Tarumanagara. Metodologi pada penelitian dirancang secara cross-sectional untuk penelitian analitik, dan akan dilakukan pada 185 responden mahasiswa fakultas kedokteran dan diambil secara random sampling. Pada penelitian ini, Data akan dianalisis dengan menggunakan aplikasi SPSS dengan uji chi square. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa 7 pertanyaan terkait DASS 21, dan 8 pertanyaan mengenai sleep paralysis dari penelitian sebelumnya. Hasil pada penelitian ini didapatkan jumlah responden laki-laki sebanyak 46 responden, dan perempuan sebanyak 139 responden. Pada penelitian ini diperoleh sebanyak 104 (56,2%) responden mengalami stres, dan sebanyak 81 (43,8%) responden tidak mengalami stres. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 134 (72,4%) responden mengalami sleep paralysis, dan sebanyak 51 (27,6%) responden tidak mengalami sleep paralysis. Hasil penelitian ini mendapatkan adanya hubungan yang bermakna antara stres dengan sleep paralysis pada mahasiswa FK Universitas Tarumanagara, dengan hasil uji statistik diperoleh p value (0,001) < 0,05.
Skrining Gizi untuk Peningkatan Kualitas Hidup Atzmardina, Zita; Putri, Novelee Irawan; Lay, Valleryano; Wibowo, Hanna Paulina; Nabila, Devi Putri
Jurnal Pengabdian West Science Vol 5 No 04 (2026): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpmws.v5i04.3296

Abstract

Pemenuhan gizi merupakan fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia yang sehat dan produktif.Indonesia masih menghadapi masalah gizi seperti stunting, gizi kurang, gizi lebih, serta defisiensi mikronutrien yangberdampak pada tumbuh kembang anak, daya tahan tubuh, dan produktivitas di masa dewasa. WHO menekankanpentingnya intervensi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk mencegah risiko penyakit tidak menular dangangguan perkembangan. Meskipun pemerintah telah menetapkan strategi percepatan penurunan stunting, data SurveiKesehatan Indonesia (2023) menunjukkan penurunan yang sangat kecil, sehingga diperlukan upaya intervensi yanglebih efektif dan merata. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah promosi kesehatan melalui edukasi,pemberdayaan masyarakat, advokasi, dan bina suasana. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran orangtua mengenai pemantauan pertumbuhan anak melalui kegiatan skrining gizi berbasis komunitas. Metode yangdigunakan meliputi pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan atas) sertaskrining status gizi menggunakan kurva WHO. Kegiatan dilaksanakan di Balai Kelurahan dengan melibatkan BidanKelurahan serta diikuti oleh 35 peserta. Setelah pengukuran, peserta menerima hasil status gizi, penjelasan, danedukasi terkait nutrisi. Edukasi dilakukan melalui diskusi interaktif dan pengulangan informasi oleh peserta untukmemastikan pemahaman. Acara ditutup dengan pembagian snack berupa susu dan biskuit. Hasil menunjukkanmayoritas peserta berhasil mengikuti pengukuran dan memahami edukasi yang diberikan, meskipun terdapat kendalaberupa beberapa peserta yang tidak mengikuti skrining karena keterbatasan waktu. Dari hasil pengukuran, ditemukan9 anak dengan status gizi kurang hingga buruk. Kegiatan ini menegaskan bahwa skrining gizi berbasis komunitasefektif untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait kesehatan anak. Ke depan, diperlukanstrategi untuk meningkatkan partisipasi dan cakupan skrining agar intervensi gizi dapat berjalan optimal.