Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Peran Pesantren Dalam Meneguhkan Identitas Budaya Indonesia di Tengah Arus Modernisasi Kemal Husen; Muhammad Husni
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 1 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v3i1.847

Abstract

Budaya sebagai produk pemikiran dan kreativitas manusia yang diwariskan melalui generasi, mencerminkan identitas suatu bangsa, di Indonesia, keberagaman budaya melambangkan keunikan bangsa. Namun globalisasi menjadi ancaman signifikan terhadap pelestarian budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pesantren dalam meneguhkan identitas budaya indonesia di tengah arus modernisasi. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa budaya adalah hasil karya dan agasan manusia yang diwariskan dari generasi ke generasi, mencerminkan identitas suatu bangsa. Di Indonesia, keberagaman budaya menjadi simbol keunikan bangsa. Namun, globalisasi dengan pengaruh budaya asing yang kuat, terutama lewat teknologi dan media massa, mengancam kelestarian budaya lokal. Pesantren berperan penting dalam menjaga identitas budaya, khususnya budaya Islam. Selain mengajarkan agama melalui kitab kuning, pesantren juga membentuk karakter dan nilai moral santrinya. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai pelestari budaya lokal, dengan mengajarkan keterampilan sosial, kepemimpinan, dan ilmu pengetahuan.
Pendekatan Metode Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Al Qur’an dan Hadits Kemal Husen; Hidayatullah; Muhammad Arifin
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 3 No 1 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v3i1.811

Abstract

Masing-masing metode memiliki karakteristik dan tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tujuh metode pembelajaran utama, yaitu Metode Hikmah, Keteladanan, Bercerita, Mau’izhah Hasanah, Habituasi, Targib wa Tarhib, dan Diskusi. Pendekatan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, dimana seluruh data diambil melalui buku, jurnal dan dokumen yang berkaitan dengan tema penelitian. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Setiap metode memiliki pendekatan unik—Hikmah menekankan kebijaksanaan, Keteladanan mengutamakan contoh nyata, Bercerita menyampaikan nilai moral melalui kisah, Mau’izhah Hasanah berfokus pada nasehat yang lembut, Habituasi membentuk karakter melalui pembiasaan, Targib wa Tarhib memberikan motivasi melalui dorongan dan peringatan, sementara Diskusi mendorong pemahaman melalui interaksi aktif. Kombinasi metode-metode ini membentuk pendekatan pendidikan Islam yang menyeluruh, bertujuan menanamkan nilai moral dan pemahaman agama yang mendalam. Kesimpulan, metode-metode ini saling melengkapi dalam memberikan pendekatan holistik terhadap pendidikan Islam.
Implementasi Deep Learning dalam Kurikulum Pesantren melalui Metode Sorogan dan Bandongan di Pesantren An-Nur 2 Kemal Husen; Ari Abdi; Muhammad Zaironi
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.4163

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi konsep deep learning dalam sistem pembelajaran di Pesantren An-Nur 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan deep learning berlangsung secara nyata melalui struktur kurikulum berjenjang serta penggunaan metode pembelajaran khas pesantren, yaitu bandongan dan sorogan. Proses pembelajaran tidak diarahkan semata-mata pada penguasaan teks kitab secara hafalan, melainkan pada pemahaman konseptual yang mendalam, berkelanjutan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh santri. Hal ini tercermin dari tuntutan kemampuan membaca kitab secara mandiri, memahami struktur kebahasaan, serta menjelaskan kembali materi dengan redaksi sendiri. Integrasi metode bandongan sebagai pembentuk kerangka konseptual awal dan sorogan sebagai sarana pendalaman individual menciptakan keseimbangan antara pembelajaran kolektif dan personal. Didukung oleh budaya pesantren, kompetensi ustadz, serta sistem pembelajaran yang konsisten, Pesantren An-Nur 2 menghadirkan model deep learning berbasis tradisi pesantren yang relevan dengan teori pembelajaran modern serta efektif dalam membangun pemahaman keilmuan jangka panjang dan pembinaan akhlak santri.
Inovasi Pembelajaran Kitab Kuning Melalui Program Baca Kitab Perpekan Berbasis Model Addie Dipesantren Kemal husen
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.4162

Abstract

Pembelajaran kitab kuning merupakan tradisi intelektual yang menjadi fondasi utama dalam pendidikan pesantren. Di Madrasah Diniyah An-Nur 2, kemampuan baca kitab santri pada awalnya sangat rendah, yaitu hanya sekitar sepuluh persen, sehingga berdampak pada lemahnya daya tangkap dan pemahaman terhadap materi pembelajaran. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan bahwa minimnya kesempatan membaca, kurangnya pendampingan intensif, serta belum tumbuhnya dzauq (insting membaca) menjadi faktor utama rendahnya literasi kitab kuning. Sebagai respon atas permasalahan tersebut, madrasah menginisiasi Program Baca Kitab Perpekan, yaitu kegiatan membaca kitab secara rutin setiap pekan dengan pendampingan intensif oleh kepala kamar. Program ini bertujuan menumbuhkan insting membaca, meningkatkan sensitivitas santri terhadap struktur ibarat, serta memperkuat pemahaman mereka terhadap kandungan kitab kuning. Pengembangan program menggunakan Model ADDIE yang meliputi tahapan analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi berkelanjutan, termasuk evaluasi per cawu melalui ujian baca kitab dan monitoring setoran mingguan. Melalui pendekatan sistematis ini, program baca kitab perpekan diharapkan mampu meningkatkan kemampuan literasi kitab santri secara signifikan serta memperkuat budaya keilmuan di lingkungan pesantren
Representasi Feodalisme Pesantren dalam Media Televisi: Analisis Pemberitaan Trans7 dan Realitas Sosial di Pesantren An-Nur 2 Bululawang Malang Lailatur Rohanita; Kemal Husen; Mochamad Rizqy Romadhon; Alfatun Nisak; Lailatul Mufarrohah; Ali Mukhammad Abrori
YASIN Vol 5 No 6 (2025): YASIN: Jurnal Pendidikan dan Sosial Budaya
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/yasin.v5i6.8151

Abstract

Pesantren feudalism as an issue of media representation has increasingly come to the fore in line with the widening gap between dramatized news coverage and the everyday realities of pesantren communities, particularly amid digital disruption that drives sensational narratives at the expense of factual accuracy. This study examines the media representation of pesantren feudalism in Trans7 news coverage and compares it with the social reality at Pesantren An-Nur 2 Bululawang, with the aim of analyzing how a feudal image is constructed in television reporting and how this construction intersects with, and often contradicts the educational, ethical, and cultural dynamics practiced within the pesantren. Using a qualitative approach with a case study design, data were obtained through broadcast document analysis, observation of the pesantren environment, and in-depth interviews with caregivers, ustaz, and santri, and subsequently analyzed interpretively. The findings reveal three main patterns of media representation: symbolic dramatization of authority, selective emphasis on hierarchical relations, and visual framing that reinforces feudal stereotypes of pesantren. Conversely, field data show that authority in the pesantren is ethical, contextual, and pedagogical in nature, embodied through the principles of adab, ta’dzīm, mutual respect, and dialogical learning processes, while also uncovering negative data or anomalies related to variations in disciplinary practices and differences in understanding among santri. The study concludes that media narratives tend to oversimplify pesantren traditions and fail to capture their complexity as dynamic Islamic educational institutions. The implications of these findings enrich scholarship on media representation and the culture of Islamic education, while encouraging journalists, policymakers, and pesantren leaders to foster more accurate, ethical, and constructive public communication about the pesantren world.