Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Irfani

KONSEP FULL DAY SCHOOL DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI PENDIDIKAN Momy A Hunowu
Irfani Vol. 12 No. 1 (2016): Irfani (e-Journal)
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.309 KB)

Abstract

Full day school bukanlah isu terbaru.Amerika sudah lama mengenal dan menerapkannya dalam dunia persekolahan. Isu ini menghangat di Indonesia sebagai konsekuensi logis dari dua hal; di satu sisi semakin tidak nyamannya lingkungan sosial bagi perkembangan anak, sementara pada sisi yang lain para orangtua sudah jarang membersamai anak-anak di rumah karena bekerja seharian penuh. Lalu, masih adakah lingkungan yang nyaman bagi anak-anak kita?Tulisan ini mengkaji FDS dalam perspektif sosiologi pendidikan.Bahwa sekolah sebagai learning organization ternyata menjadi lembaga terbaik dalam membentengi anak-anak dari pengaruh negatif lingkungan sosial yang semakin tidak ramah anak itu.
PROBLEMA IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM FULL DAY SCHOOL PADA SEKOLAH-SEKOLAH DASAR DI WILAYAH PEDESAAN Momy A Hunowu
Irfani Vol. 13 No. 1 (2017): Irfani (e-Journal)
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.71 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Gorontalo, sebagai salah satu daerah yang telah mengimplementasikan kebijakan program full day school (FDS). Penelitian bertujuan mengetahui problema implementasi kebijakan program FDS di sekolah dasar wilayah pedesaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus di sekolah dasar di kecamatan Biluhu dan kecamatan Pulubala. Penelitian menemukan bahwa terdapat empat problema utama dalam implementasi kebijakan FDS di sekolah dasar di pedesaan, pertama adalah aspek kultural. Program FDS telah menimbulkan cultural shock baik pada peserta didik, guru maupun kalangan orangtua. Aspek kedua ketersediaan sarana pendidikan yang apa adanya, baik sarana perpustakaan, musholla dan sarana olahraga. Ketiga adalah ketidaksiapan para guru dalam menerapkan kurikulum FDS baik dari segi kualitas maupun kuantitas, keempat, kurikulum FDS yang belum terurai secara rinci sehingga tidak berjalan efektif di lapangan. Dengan demikian, program FDS sedang membudayakan kebiasaan baru dalam membentuk karakter anak-anak bangsa, namun masih terkendala tenaga profesional dan sarana pendidikan yang tidak tersedia di sekolah dasar wilayah pedesaan.
MENCIPTAKAN BUDAYA RELIGIUS DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN MELALUI PEMBOBOTAN PERAN PENDIDIK SEBAGAI MAKELAR BUDAYA Momy A. Hunowu
Irfani Vol. 14 No. 2 (2018): Irfani (e-Journal)
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.368 KB) | DOI: 10.30603/ir.v14i2.952

Abstract

There are three educational environments namely family, school and community environment. They can create a good generation or a bad generation. It depends on the role of educators. They can create a religious or non-religious environment. The educators are parents, teachers and community leaders. They can act as cultural brokers to protect the generation from the impact of globalization by means of creating religious culture.
KONSEP FULL DAY SCHOOL DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI PENDIDIKAN Momy A Hunowu
Irfani (e-Journal) Vol. 12 No. 1 (2016): Irfani (e-Journal)
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Full day school bukanlah isu terbaru.Amerika sudah lama mengenal dan menerapkannya dalam dunia persekolahan. Isu ini menghangat di Indonesia sebagai konsekuensi logis dari dua hal; di satu sisi semakin tidak nyamannya lingkungan sosial bagi perkembangan anak, sementara pada sisi yang lain para orangtua sudah jarang membersamai anak-anak di rumah karena bekerja seharian penuh. Lalu, masih adakah lingkungan yang nyaman bagi anak-anak kita?Tulisan ini mengkaji FDS dalam perspektif sosiologi pendidikan.Bahwa sekolah sebagai learning organization ternyata menjadi lembaga terbaik dalam membentengi anak-anak dari pengaruh negatif lingkungan sosial yang semakin tidak ramah anak itu.
PROBLEMA IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM FULL DAY SCHOOL PADA SEKOLAH-SEKOLAH DASAR DI WILAYAH PEDESAAN Momy A Hunowu
Irfani (e-Journal) Vol. 13 No. 1 (2017): Irfani (e-Journal)
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Gorontalo, sebagai salah satu daerah yang telah mengimplementasikan kebijakan program full day school (FDS). Penelitian bertujuan mengetahui problema implementasi kebijakan program FDS di sekolah dasar wilayah pedesaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus di sekolah dasar di kecamatan Biluhu dan kecamatan Pulubala. Penelitian menemukan bahwa terdapat empat problema utama dalam implementasi kebijakan FDS di sekolah dasar di pedesaan, pertama adalah aspek kultural. Program FDS telah menimbulkan cultural shock baik pada peserta didik, guru maupun kalangan orangtua. Aspek kedua ketersediaan sarana pendidikan yang apa adanya, baik sarana perpustakaan, musholla dan sarana olahraga. Ketiga adalah ketidaksiapan para guru dalam menerapkan kurikulum FDS baik dari segi kualitas maupun kuantitas, keempat, kurikulum FDS yang belum terurai secara rinci sehingga tidak berjalan efektif di lapangan. Dengan demikian, program FDS sedang membudayakan kebiasaan baru dalam membentuk karakter anak-anak bangsa, namun masih terkendala tenaga profesional dan sarana pendidikan yang tidak tersedia di sekolah dasar wilayah pedesaan.