Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KEBIJAKAN HUKUM PIDANA MELALUI PENERAPAN ASAS PRIMUM REMEDIUM DALAM TINDAK PIDANA LINGKUNGAN HIDUP DITINJAU DARI HUKUM POSITIF Ramadani, Jaka; Syahrin, Alvi; Rizky, Fajar Khaify
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 8, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i1.2796

Abstract

Abstract: The application of the primum remedium principle in criminal law policy means that criminal law is used as the main option in law enforcement. The application of the primum remedium principle in criminal law policy can be seen in Law No. 32 of 2009 concerning Environmental Protection and Management. The results of the study show that the criminal law policy through the application of the primum remedium principle in environmental crimes based on positive law places criminal law as the main option in prosecuting environmental violations, with the aim of providing a deterrent effect on the perpetrators. This study analyzes the application of this principle in the context of environmental law enforcement in Indonesia. The results of the study show that although criminal law is important for providing a deterrent effect, the application of this principle has not been fully effective in dealing with environmental crimes seen from several conditions such as B3 waste which clearly pollutes the environment, but the application of this principle is not always appropriate because law enforcers often take administrative enforcement first. Keyword: Primum Remedium, Legal Policy, Environment Abstrak: Penerapan asas primum remedium dalam kebijakan hukum pidana berarti hukum pidana digunakan sebagai pilihan utama dalam penegakan hukum. Penerapan asas primum remedium dalam kebijakan hukum pidana dapat dilihat dalam Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengeloaan Lingkungan Hidup. Hasil penelitian menujukkan bahwa kebijakan hukum pidana melalui penerapan asas primum remedium dalam tindak pidana lingkungan hidup berdasarkan hukum positif menempatkan hukum pidana sebagai pilihan utama dalam menindak pelanggaran lingkungan hidup, dengan tujuan memberikan efek jera terhadap pelaku. Penelitian ini menganalisis penerapan asas tersebut dalam konteks penegakan hukum lingkungan di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun hukum pidana penting untuk memberikan efek jera penerapan asas tersebut belum sepenuhnya efektif dalam menangani kejahatan lingkungan hidup dilihat dari beberapa kondisi seperti limbah B3 yang jelas mencemari lingkungan namun penerapan asas ini tidak selalu tepat karena penegak hukum sering kali menempuh penegakan administrasi terlebih dahulu. Kata kunci: Primum Remedium, Kebijakan Hukum, Lingkungan Hidup
Edukasi Kesehatan, Sosial, dan Keteknikan sebagai Upaya Pemberdayaan Generasi Z Melalui Program KKN Interdisipliner di SMAN 15 Pekanbaru Siregar, Zahpan Jundi; Ramadani, Jaka; Ningrum, Puspa; Cantika, Haura Rindu; Aisah, Aisah; Rizki, Maulidya Ahsanu; Chahyaningsih, Sintiya; Yusiana, Finna; Apriani, Jesa Anggi; Harianti, Dini; Ihsan, Fahkrul
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 3 No. 7 (2025): September
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v3i7.3123

Abstract

Generasi Z merupakan kelompok usia produktif yang memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan di masa depan. Namun, berbagai tantangan seperti rendahnya literasi kesehatan reproduksi, minimnya kesadaran membangun citra diri, dan kurangnya pengetahuan dasar mengenai lingkungan binaan yang aman masih sering dijumpai di kalangan pelajar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan generasi Z melalui pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan bidang kesehatan, sosial, dan keteknikan. Program dilaksanakan di SMAN 15 Pekanbaru dengan melibatkan 40 siswa dari kelas XII. Metode pelaksanaan meliputi ceramah, diskusi, dan simulasi. Selain itu, secara garis besar dalam kegiatan pengabdian ini dibagi menjadi 3 (tiga) tahapan untuk mempermudah mencapai solusi dari permasalahan yang ada, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil evaluasi pengisian kuisioner pre-test dan post-test, diperoleh adanya peningkatan dari 70% menjadi 92,5%. Selain itu, observasi menunjukkan lebih dari 80% siswa aktif mengajukan pertanyaan, menjawab kuis, serta mengikuti simulasi secara antusias. Pendekatan interdisipliner terbukti mampu memberikan wawasan holistik serta menumbuhkan sikap kritis, kolaboratif, dan adaptif pada siswa. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model penguatan kapasitas remaja yang relevan untuk menghadapi tantangan masa depan.