Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pelatihan kewirausahaan pangan lokal: fish chip ikan lomek dan produk inovatif mangrove untuk organisasi ikatan istri karyawan Wilmar Dumai Sumartini Sumartini; Luchiandini Ika Pamaharyani; Nirmala Efri Hasibuan; Kurnia Sada Harahap; Putri Wening Ratrinia; Aulia Azka; Basri Tanjung; Eko Novi Saputra; Muhammad Nur Arkham
KACANEGARA Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol 9, No 3 (2026): Agustus
Publisher : Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28989/kacanegara.v9i3.3393

Abstract

Kota Dumai memiliki potensi perikanan dan ekosistem mangrove yang melimpah, salah satunya ikan lomek (Harpadon nehereus) yang kaya protein dan buah pedada (Sonneratia caseolaris) yang mengandung senyawa bioaktif. Namun, pemanfaatannya masih terbatas sehingga nilai tambah ekonominya rendah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kewirausahaan anggota Ikatan Istri Karyawan Wilmar (IIKW) Dumai melalui pelatihan pengolahan ikan lomek menjadi fish chips serta produk inovatif berbasis mangrove, seperti sirup, dodol, dan kopi. Metode yang digunakan adalah pelatihan partisipatif berbasis workshop dengan tahapan persiapan, sosialisasi, demonstrasi, praktik langsung, pendampingan teknis, dan evaluasi. Peserta dilatih dalam pemilihan bahan baku, teknik pengolahan, penerapan standar mutu dan keamanan pangan, serta strategi pengemasan dan pemasaran digital. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test serta pengisian kuesioner kepuasan peserta. Hasil pelatihan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta dengan rata-rata nilai post-test ≥90 pada 88% peserta. Tingkat kepuasan responden juga sangat tinggi, dengan skor rata-rata 97,99% pada aspek relevansi materi, manfaat kegiatan, dan kualitas narasumber. Peserta menilai kegiatan ini bermanfaat untuk pengembangan usaha rumah tangga, meskipun terdapat kendala ketersediaan bahan baku musiman. Secara keseluruhan, program ini efektif dalam meningkatkan kapasitas pengetahuan, keterampilan teknis, dan motivasi kewirausahaan perempuan pesisir. Keberhasilan kegiatan ini menegaskan pentingnya dukungan lanjutan berupa pendampingan, akses sarana produksi, dan strategi pemasaran digital agar produk fish chips ikan lomek dan olahan mangrove dapat berdaya saing serta menjadi ikon kuliner khas pesisir Dumai.
Pengaruh Metode Fermentasi Terhadap Kadar Protein pada Ikan Kembung (Rastrelliger sp) Abdul Rohman Nasrudin; Samsidar; Luchiandini Ika Pamaharyani; Ricko Firdaus Rijaluddin Ahmad
Samakia : Jurnal Ilmu Perikanan Vol 17 No 1 (2026): Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan
Publisher : Faculty of Science and Technology University Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/jsapi.v17i1.9217

Abstract

Peda is a traditional fermented fish product widely consumed in Indonesia and has potential as a protein source. Different fermentation methods are thought to affect the nutritional quality of the product, particularly its protein content. This study aims to determine the effect of fermentation methods on the protein content of mackerel peda (Rastrelliger sp.). The study was conducted using an experimental method with a completely randomized design (CRD) consisting of four treatments, namely fish cleaned until stage I fermentation, fish cleaned until stage II fermentation, fish not cleaned until stage I fermentation, and fish not cleaned until stage II fermentation, each with three replicates. Protein content analysis was performed using the Kjeldahl method, while data were statistically analyzed using analysis of variance and follow-up tests. The results showed that the fermentation method significantly affected the protein content of mackerel peda. The treatment of fish that were cleaned until fermentation stage I produced the highest protein content, while the treatment of fish that were not cleaned until fermentation stage II produced the lowest protein content. In general, stage II fermentation and the use of unscaled fish resulted in a decrease in protein content. The results of this study indicate that control of the fermentation method, particularly the fermentation stage and raw material treatment, is important for maintaining the nutritional quality of mackerel peda.
Pengaruh Edible Coating Kitosan Cangkang Udang Pada MutuFillet Ikan Nila Gusti Ayu Made Sri Darma Sari; Rufnia Ayu Afifah; Randi B.S. Salampessy; Luchiandini Ika Pamaharyani
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 20, No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v20i1.616

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alur proses pengolahan kitosan, proses pembuatan edible coating kitosan, dan pengaruh dari penggunaan edible coating kitosan cangkang udang yang diaplikasikan pada fillet ikan nila dan disimpan pada suhu rendah (4◦C) serta untuk mengetahui konsentrasi terbaik edible coating kitosan yang digunakan pada daya simpan fillet ikan nila. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Faktorial dengan 4 variasi konsentrasi kitosan K1 (0%), K2 (1%), K3 (1,5%), dan K4 (2%) yang di simpan pada 0, 5, 10, dan 15 hari. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu pada alur proses pembuatan kitosan cangkang udang yaitu persiapan bahan baku, tahap demineralisasi, tahap deproteinasi, dan tahap deasetilasi. Mutu dan karakteristik kitosan cangkang udang berwarna putih kekuningan, bentuk bubuk, kadar air 9,14 ± 1,74, kadar abu 5,13 ± 0,08, nitrogen total 1,82 ± 0,02, kelarutan 98,2 ± 0,02, derajat deasetilasi 79,65 ± 2,63, dan rendemen demineralisasi 64,11 ± 0,03, deproteinasi 59,65 ± 0,81, dan deasetilasi 70,93 ± 0,39. Alur proses pembuatan edible coating dilakukan dengan memanaskan aquades 100 ml pada suhu 80 ◦C selama 3 menit diatas hotplate, menambahkan karagenan 2%, gliserol 2%, dan kitosan 0%, 1%, 1,5%, dan 2%. Nilai sensori dapat diterima konsumen hingga hari ke-10, dengan konsentrasi terbaik pada kenampakan K3 (1,5%) dan K4 (2%) yaitu 7,72 ± 0,268a, bau K3 (1,5%) yaitu 7,86 ± 0,485a, dan K4 (2%) yaitu 7,86 ± 0,585a, tekstur K4 (2%) yaitu 7,69 ± 0,224a, TVB pada konsentrasi K3 (1,5%) yaitu 18,68 mgN/100g, kadar pH 7, ALT > 5x105.