Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Factors Associated with the Occurrence of Post Intensive Care Syndrome in Patients Post Ventilator Use at PMI Hospital Bogor in 2023 Yusdi Ghazaly
West Science Interdisciplinary Studies Vol. 1 No. 02 (2023): West Science Interdisciplinary Studies
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/wsis.v1i02.1585

Abstract

Post-ventilator patients can experience Post Intensive Care Syndrome (PICS) problems. This includes physical, psychological and cognitive changes. This research aims to analyze the incidence of PICS in post-ventilator patients in Surabaya. The design of this study used a descriptive research method with research variables including physical, psychological and cognitive health. The population of post-ventilator patients amounted to 56 patients with a sample of 49 patients using the simple random sampling technique. The instrument used in this study was a questionnaire sheet. Which consists of 16 questions, divided into physical, psychological and cognitive aspects. Post intensive care syndrome in post-ventilator patients, the majority of the physical aspects are in the sufficient category, such as changes in fatigue and pain. In the psychological (mental) aspect, most are in the sufficient category marked by anxiety and sadness. The cognitive aspect is also mostly in the sufficient category which includes changes in patient memory. Post intensive care syndrome in the physical, psychological and cognitive aspects is in the sufficient category. This is marked by mild changes. The recommendation in this study is that patients need to get health education only if they experience PICS.
Hubungan Saturasi Oksigen Pasien Dengan Penyakit Penyerta Sistem Respirasi Pasca General Anestesi Di Rumah Sakit X Bogor Yusdi Ghazaly; Niati Ambarsari; Maria Delviana Nurdiani
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.14088

Abstract

Pasien dengan penyakit penyerta sistem respirasi memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi pasca anestesi, salah satunya adalah komplikasi sistem respirasi. Nilai saturasi oksigen yang rendah (<94%) dapat menyebabkan hipoksia, bahkan kematian jaringan yang berdampak pada proses penyembuhan pasca operasi. Tujuan pada penelitian ini adalah Menghubungkan saturasi oksigen pasien dengan penyakit penyerta sistem respirasi pasca general anestesi di RS X Bogor. Penelitian ini menggunakan metode descriptive observasional dengan pendekatan time series, melibatkan 60 pasien yang telah memenuhi kriteria inklusi yang diambil dengan teknik consecutive sampling di ruang IBS RS X Bogor. dengan instrumen lembar observasi dan pulse oximetry. Data dianalisis dengan Analisa data univariat. Sebanyak 6 pasien (10%) dari 60 responden mengalami hipoksia pasca general anestesi saat observasi menit ke-5 dengan karakteristik, responden, umur 40-60 tahun dengan penyakit PPOK dan Asma, ASA II, ASA III, ASA IV, teknik anestesi ETT, dan equipment pasca anestesi simple mask, dan nilai CRT >2 detik. Sedangkan saat observasi sebelum pasien dipindahkan ke ruang rawat inap seluruh responden menunjukkan saturasi oksigen normal. Kejadian hipoksia dapat dicegah dengan penatalaksaan oksigenasi yang tepat. Pemeriksaan evaluasi pre-operasi harus dilakukan dengan baik dalam menurunkan risiko komplikasi pasca anestesi.
Hubungan Riwayat Penyakit Respirasi Dengan Saturasi Oksigen Pasca Anestesi Pada Bronkoskopi Imelda Ayunitias; Yusdi Ghazaly
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.14089

Abstract

Latar Belakang: Pasien dengan riwayat penyakit penyerta sistem respirasi memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi pasca anestesi, salah satunya adalah penurunan saturasi oksigen ( ). Prosedur bronkoskopi yang melibatkan manipulasi mekanis pada jalan napas dapat memicu perubahan pola ventilasi dan desaturasi oksigen pasca tindakan. Nilai saturasi oksigen yang rendah (<94%) dapat menyebabkan hipoksia jaringan yang berdampak pada terhambatnya proses pemulihan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan riwayat penyakit respirasi dengan saturasi oksigen pasca anestesi pada pasien yang menjalani tindakan bronkoskopi. Metode: Penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan time series ini melibatkan 45 pasien yang memenuhi kriteria inklusi melalui teknik consecutive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi klinis dan pemantauan pulse oximetry pada menit ke-5, ke-15, dan ke-30 pasca anestesi. Data dianalisis menggunakan analisis univariat untuk melihat distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Hasil observasi pada menit ke-5 menunjukkan bahwa 5 pasien (11,1%) mengalami hipoksia pasca anestesi. Responden yang mengalami hipoksia memiliki riwayat penyakit Asma (6,67%) dan TB Paru (4,44%), status fisik ASA II–IV, teknik anestesi Endotracheal Tube (ETT), menggunakan alat bantu napas simple mask pasca anestesi, serta memiliki nilai Capillary Refill Time (CRT) >2 detik. Pada pemantauan menit ke-15, ke-30, serta sebelum pemindahan ke ruang rawat inap, seluruh responden (100%) telah mencapai tingkat saturasi oksigen normal (95–100%). Kesimpulan: Kejadian hipoksia pasca bronkoskopi terutama memuncak pada fase awal pemulihan (menit ke-5). Pemantauan saturasi oksigen secara kontinu pada fase awal pasca anestesi sangat penting untuk mendeteksi dan menatalaksana kejadian hipoksia secara dini pada pasien bronkoskopi dengan riwayat penyakit respirasi.
Pengaruh Aromaterapi Jasmine Terhadap Penurunan Tingkat Stress dan Kecemasan Pada Pelanggan di Shabuga Family Massage & Reflexology Niati Ambarsari; Ahmad Subagiyo; Nisrien Ilmia; La Malihi; Yusdi Ghazaly; Rizky Khodijah Fajriyyah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.61938

Abstract

Aktivitas padat meningkatkan beban ketegangan emosional masyarakat perkotaan Kota Bogor. Penelitian quasi-experiment dengan rencana One Group Pre-test and Post-test Design ini bertujuan mengetahui pengaruh inhalasi aromaterapi jasmine terhadap tingkat stres harian sesaat dan kecemasan akut pelanggan Shabuga Family Massage & Reflexology. Sampel berjumlah 62 responden melalui pengambilan sampel secara konsekutif (consecutive sampling) yaitu setiap pelanggan yang datang dan memenuhi kriteria inklusi diikut sertakan sebagai responden secara berurutan hingga jumlah sampel terpenuhi. Perlakuan menggunakan inhalasi uap volatil Bliss Scents Jasmine Essential Oil (BPOM TR246000321) melalui ultrasonik diffuser selama 60–120 menit. Data diukur menggunakan kuesioner modifikasi DASS-21 (stres) dan ZSAS (kecemasan). Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test memperoleh p-value 0,001 (p ≤ 0,05). Paparan aromaterapi jasmine efektif menurunkan tingkat stres dan kecemasan pelanggan, dibuktikan dengan skor post-test yang secara statistik lebih rendah daripada skor pre-test saat pelanggan baru tiba. Kesimpulan penelitian membuktikan pemberian inhalasi aromaterapi melati efektif secara signifikan dalam Penurunan skor perlu ditafsirkan hati-hati karena intervensi diberikan bersamaan dengan layanan Massage & Reflexology.
Pengalaman Praktisi Anestesi Dalam Pengambilan Keputusan dan Keterampilan Dalam Manajemen Jalan Napas di Rumah Sakit Bhayangkara Brimob Studi Fenomenologi Maria Delviana Nurdiani; Yusdi Ghazaly; Hormat Janner Manurung; Vini Anjelia Pattinaja
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62102

Abstract

Failure in airway management is one of the main causes of morbidity and mortality in patients, especially in emergency situations. Anesthesia practitioners, particularly anesthesia nurses and anesthesia technicians, are required to have technical skills, quick decision-making, and clinical intuition formed through work experience. Objective this study aims to qualitatively explore the impact of work experience on the skills and decision-making of anesthesia practitioners in emergency airway management. Methods this study used a qualitative design with an interpretive phenomenological approach. Participants were selected using purposive sampling, consisting of four anesthesia practitioners with 2 to 25 years of work experience at Bhayangkara Brimob Hospital in Depok. Data were collected through semi-structured in-depth interviews that were recorded and transcribed, supplemented with field notes. Data analysis was performed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Results data analysis yielded three main themes, namely: (1) the strategic role of anesthesiologists in airway management, including preparedness for complications, collaboration with anesthesiologists, and vigilance throughout the perioperative period; (2) quick and accurate clinical decision-making, with reflex responses to emergency conditions, visual clinical evaluation, and effective communication with the team; (3) technical skills and clinical intuition, in the form of mastery of airway devices, accuracy of actions based on experience, and intuition in detecting risks. Conclusion this study shows that work experience greatly influences the technical skills, response speed, and clinical intuition of anesthesiologists. Continuous training and team collaboration are essential for improving patient safety.