Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sita Marital dan Kesetaraan Gender Implikasi Hukum terhadap Hak Perempuan dalam Perceraian Andreas Bintang Raja Sihombing; Cecillya Rosa Yohanna Surbakti; Christo Sitorus; Darren William Hermanto; Joshua Sabam Jonathan Hutagalung; Justyn Valentino; Welly Gosal; Yoandhika Aliantoni; Yuni Priskila Ginting
Jurnal Hukum dan HAM Wara Sains Vol 4 No 01 (2025): Jurnal Hukum dan HAM Wara Sains
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jhhws.v4i01.1707

Abstract

Kesetaraan gender merupakan konsep modern yang sering kali berkontradiksi dengan dinamika masyarakat Indonesia yang cenderung masih bersifat patriarkis. Budaya-budaya di Indonesia kerap menempatkan pria sebagai sosok dominan, baik dalam rumah tangga, ekonomi, politik, maupun institusi publik. Meskipun demikian, secara hukum Indonesia telah mengupayakan legislasi untuk mendorong hak asasi manusia yang bertujuan menyetarakan status gender. Salah satu implementasinya secara praktis terdapat dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984, yang meratifikasi Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita. Undang-undang ini menjadi landasan bagi berbagai peraturan perundang-undangan di Indonesia dalam upaya menyetarakan posisi antara pria dan wanita. Dalam perkara perceraian, tantangan utama yang masih dihadapi adalah ekspektasi kultural yang cenderung memihak pria. Namun, seiring perkembangan zaman, kita dapat melihat beberapa perubahan dalam dinamika gender, di mana perempuan kini semakin dianggap setara dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang hukum. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan sita marital dan pengaruhnya terhadap perempuan serta implikasinya bagi hak asasi perempuan. Menggunakan metode penelitian hukum normatif, penelitian ini akan menganalisis undang-undang serta data-data relevan untuk mencapai konsensus dan memaparkan problematika ketimpangan gender, terutama dalam konteks perceraian yang berakar dalam masyarakat Indonesia.
The Responsibility of Local Governments and the Interfaith Harmony Forum in Regulating the Establishment of Houses of Worship in Indonesia Joshua Sabam Jonathan Hutagalung; Matthew Benedictus Manuputty; Shabiha Elena Putri; Welly Gosal
Edusoshum : Journal of Islamic Education and Social Humanities Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Ikatan Cendikiawan Ilmu Pendidikan Islam (ICIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52366/edusoshum.v6i1.348

Abstract

This study aims to analyze the role of local government in regulating the establishment of houses of worship in Indonesia through a case study of the Prayer House of the Indonesian Faithful Christian Church Congregation (GKSI) Padang in the City of Padang, West Sumatra. The regulation of the establishment of houses of worship under the Joint Regulation of the Minister of Religious Affairs and the Minister of Home Affairs No. 9 and No. 8 of 2006 grants significant authority to local governments in terms of administrative verification, facilitation of interreligious harmony, and conflict mediation. However, in practice, this authority often operates within a tension between maintaining public order and ensuring the protection of the constitutional right to freedom of religion. This research employs a qualitative method with a juridical-empirical approach and a case study design, utilizing the analysis of statutory regulations, official documents, media reports, and academic literature. The findings indicate that, in the case of GKSI Padang, the local government has functioned as both an administrative regulator and a conflict mediator. Nevertheless, its role as a guarantor of constitutional rights remains suboptimal, particularly in preventing vigilantism and ensuring the security of religious worship. This study recommends strengthening local government standard operating procedures based on principles of non-discrimination, accountability, and human rights protection in order to prevent similar conflicts in the future.