Maria Elisa Tulangouw
Universitas Kristen Indonesia Tomohon

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Teologi Tubuh Sebagai Landasan Etis Teologis Dalam Kehidupan Pergaulan Generasi Alfa Pelita Roeroe; Maria Elisa Tulangouw
JURNAL SABDA HOLISTIK Vol. 1 No. 2 (2025): September
Publisher : STAK Sabda Holistik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63218/t517fk12

Abstract

Artikel ini membahas mengenai Penelitian yang mengkaji relevansi Teologi Tubuh sebagai landasan etis-teologis bagi kehidupan pergaulan Generasi Alfa yang dibentuk oleh budaya digital, perubahan nilai relasional, dan krisis pemahaman mengenai martabat tubuh. Melalui metode kualitatif-deskriptif dengan studi pustaka, penelitian ini menganalisis gagasan utama Teologi Tubuh khususnya pemikiran Yohanes Paulus II dan pengembangan kontemporer seperti Edward Sri serta menghubungkannya dengan tantangan sosial yang dihadapi Generasi Alfa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teologi Tubuh memberikan dasar etis mengenai martabat tubuh, panggilan kasih dalam seksualitas, serta integrasi kebebasan dan tanggung jawab dalam relasi sosial. Kesimpulannya, Teologi Tubuh dapat menjadi kerangka teologis yang relevan untuk membentuk pola pergaulan Generasi Alfa yang lebih bermartabat, holistik, dan selaras dengan iman Kristen.
Pendampingan Pastoral Terhadap Remaja Yang Terjerumus Seks Di Luar Nikah Elshaday Nikita Priscilla Sanger; Maria Elisa Tulangouw
PASOLO: Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 2 (2025): September || PASOLO: Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : PT. Giat Konseling Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70420/pasolo.v2i2.191

Abstract

Masa remaja merupakan fase pencarian jati diri yang rawan terhadap pengaruh negatif, termasuk seks di luar nikah, yang berdampak pada kehidupan spiritual, sosial, dan psikologis. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bentuk pendampingan pastoral yang efektif bagi remaja di Jemaat GMIM Sion Noongan yang terjerumus dalam perilaku tersebut. Menggunakan metode kualitatif melalui observasi dan wawancara, ditemukan bahwa minimnya peran gereja dan keluarga menjadi faktor utama. Berdasarkan pendekatan pastoral J.D. Engel, pendampingan yang efektif mencakup enam fungsi: membimbing, menopang, menyembuhkan, memperbaiki relasi, mengasuh, dan mengutuhkan. Pendekatan ini menekankan kasih, empati, dan penerimaan tanpa penghakiman. Gereja dipanggil bukan sekadar memberi teguran moral, melainkan menjadi ruang pemulihan yang menolong remaja menemukan kembali jati diri sejati mereka di dalam Kristus.
BEYOND TOLERANCE AND MODERATION: FRIENDSHIP AS RELATIONAL EPISTEMOLOGY FOR PUBLIC THEOLOGY IN PLURAL INDONESIA Lucky Paulus Tumbelaka; Ineke Marlien Tombeng; Linda Patricia Ratag; Mieke Nova Sendow; Maria Elisa Tulangouw
SOSIOEDUKASI Vol 15 No 2 (2026): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v15i2.8159

Abstract

This paper reinvents the idea of public theology within the Indonesian context by developing friendship as a relational, epistemic, and praxis-based category instead of defining public theology as institutional speech, commentary of policy, or moral intervention. The research begins at a threefold distance. To begin with, influential public theology scholarship has eloquently elucidated the public work of theology, but has favored discourse, civil society, and institutional ethics to thick descriptions of interpersonal relationality. Second, the recent discussions in Indonesia have fruitfully engaged friendship as a leading grammar of public theological engagement across religious difference but have failed to develop friendship as a leading grammar of nationalism, polarization, religious moderation, and contextual theology. Third, the readings of John 4 have frequently been focused on mission, gender or interfaith dialogue, but have seldom been incorporated into a constructive model of public theology in plural societies. The article has a qualitative, constructive theological design, which implies the combination of literature-based analysis of the key debates in the field of public theology and contextual theology with the contextual hermeneutical analysis of the text of John 4:5-26, with reference to John 4:42 where necessary. This article posits that friendship must be conceptualized in three interrelated ways, as relational epistemology, that friendship imparts humility, reciprocity and solidarity; and as public praxis, that friendship establishes joint spaces and collaborative working areas without obliterating theological difference. It is argued that an effective Indonesian public theology should transcend a thin politics of tolerance to a thicker form of friendship that is dialogical, cross-boundary and publicly accountable. By doing this, the article adds to the transferable framework of global public theology in plural societies but is still grounded in Indonesian realities.