Wulandhari, Shinta
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Kejadian Apendisitis Akut Dengan Peningkatan Mean Platelet Volume (Mpv) Di Rsud Kabupaten Klungkung Ngurah Jiyesta Wibawa, Made; Prajitno, Sugianto; Wulandhari, Shinta; Agus Suanjaya, Made
Journals of Ners Community Vol 14 No 2 (2023): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i2.2525

Abstract

Apendik vermiformis merupakan organ kecil tambahan yang terletak dibawah katup ileosekal serta melekat pada sekum. Apendik vermiformis mudah mengalami obstruksi hingga rentan terjadi infeksi akibat mekanisme pengosongan diri apendik vermiformis yang pada umumnya kurang efisien, ditambah ukuran lumen yang terbilang kecil. Infeksi inilah yang lebih dikenal sebagai apendisitis, radang pada apendik, atau penyakit usus buntu. Apendisitis dapat menyerang semua usia namun kasus tertinggi terdapat pada individu yang tergolong remaja hingga dewasa muda yaitu usia 18-40 tahun. Pemeriksaan darah lengkap merupakan salah satu tes laboratorium yang paling umum digunakan untuk diagnosis Apendisitis akut. Mean Platelet Volume (MPV) adalah tes yang terbilang murah dan sering digunakan untuk menunjukkan ukuran dan aktivitas platelet. Trombosit atau platelet memiliki efek membentuk bekuan darah (hemostasis) dan mengatur kejadian inflamasi. Jumlah trombosit dan MPV telah diteliti sebagai penanda inflamasi aktivitas penyakit. Mengetahui adanya hubungan antara kejadian apendisitis akut dengan peningkatan Mean Platelet Volume (MPV) pada dewasa muda di RSUD Kabupaten Klungkung. Penelitian ini bersifat kuantitatif analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional study. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan di RSUD Kabupaten Klungkung pada tahun 2017-2021. Sampel penelitian sebanyak 170 sampel. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Chi Square. Batas nilai signifikasi adalah (p ≤ 0.05). Didapatkan jumlah pasien dengan apendisitis akut tanpa perforasi berjumlah 108 pasien (63,50%) dan jumlah pasien dengan apendisitis akut dengan perforasi berjumlah 62 orang (36,50). Didapatkan pula nilai MPV normal berjumlah 129 orang (75,90%), nilai MPV menurun berjumlah 41 orang (24,10%), dan tidak terdapat pasien dengan MPV meningkat. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan Chi Square didapatkan nilai p-value 0,46 (p > 0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peningkatan MPV dengan kejadian Apendisitis Akut di Rumah Sakit Umum Klungkung
Hubungan Kejadian Apendisitis Akut Dengan Peningkatan Mean Platelet Volume (Mpv) Di Rsud Kabupaten Klungkung Ngurah Jiyesta Wibawa, Made; Prajitno, Sugianto; Wulandhari, Shinta; Agus Suanjaya, Made
Journals of Ners Community Vol 14 No 2 (2023): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i2.2525

Abstract

Apendik vermiformis merupakan organ kecil tambahan yang terletak dibawah katup ileosekal serta melekat pada sekum. Apendik vermiformis mudah mengalami obstruksi hingga rentan terjadi infeksi akibat mekanisme pengosongan diri apendik vermiformis yang pada umumnya kurang efisien, ditambah ukuran lumen yang terbilang kecil. Infeksi inilah yang lebih dikenal sebagai apendisitis, radang pada apendik, atau penyakit usus buntu. Apendisitis dapat menyerang semua usia namun kasus tertinggi terdapat pada individu yang tergolong remaja hingga dewasa muda yaitu usia 18-40 tahun. Pemeriksaan darah lengkap merupakan salah satu tes laboratorium yang paling umum digunakan untuk diagnosis Apendisitis akut. Mean Platelet Volume (MPV) adalah tes yang terbilang murah dan sering digunakan untuk menunjukkan ukuran dan aktivitas platelet. Trombosit atau platelet memiliki efek membentuk bekuan darah (hemostasis) dan mengatur kejadian inflamasi. Jumlah trombosit dan MPV telah diteliti sebagai penanda inflamasi aktivitas penyakit. Mengetahui adanya hubungan antara kejadian apendisitis akut dengan peningkatan Mean Platelet Volume (MPV) pada dewasa muda di RSUD Kabupaten Klungkung. Penelitian ini bersifat kuantitatif analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional study. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan di RSUD Kabupaten Klungkung pada tahun 2017-2021. Sampel penelitian sebanyak 170 sampel. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Chi Square. Batas nilai signifikasi adalah (p ≤ 0.05). Didapatkan jumlah pasien dengan apendisitis akut tanpa perforasi berjumlah 108 pasien (63,50%) dan jumlah pasien dengan apendisitis akut dengan perforasi berjumlah 62 orang (36,50). Didapatkan pula nilai MPV normal berjumlah 129 orang (75,90%), nilai MPV menurun berjumlah 41 orang (24,10%), dan tidak terdapat pasien dengan MPV meningkat. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan Chi Square didapatkan nilai p-value 0,46 (p > 0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peningkatan MPV dengan kejadian Apendisitis Akut di Rumah Sakit Umum Klungkung
Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita (Usia 0-59 Bulan) di Wilayah Kerja Puskesmas Klungkung I Bagus Arya Ramatantra, Ida; Utami, Sukandriani; Mardiah, Aena; Wulandhari, Shinta
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 4 No. 1 (2025): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/msjou.v4i1.69

Abstract

Latar Belakang : Stunting adalah salah satu permasalahan gizi yang terus terjadi di Indonesia sehingga memerlukan perhatian khusus guna mengurangi angka kejadiannya. Laporan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat, pada tahun 2021 sebanyak 24,4% balita Indonesia mengalami stunting. World Health Organization (WHO) menjelaskan, bahwa stunting akan berdampak ke pertumbuhan dan perkembangan anak. Tujuan : Mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian Stunting pada Balita (Usia 0-59 Bulan) di wilayah kerja Puskesmas Klungkung I. Metode  : Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Klungkung I, Desa Kamasan, Kecamatan Gelgel, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali pada tanggal 30 Oktober – 2 November 2023. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Data penelitian dianalisis secara univariat dan bivariat dengan analisis Chi-square. Hasil : Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat 75 balita (75%) mengalami stunting dan sebanyak 25 balita (25%) tidak mengalami stunting. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara berat badan lahir (p-value = 0.477 ; CI = 0,360-8,684), panjang badan lahir (p-value = 0.907 ; CI = 0,380-2,359) dan tinggi badan ibu (p-value = 1,000 ; CI = 0,291-3,437) terhadap kejadian stunting. Sedangkan terdapat hubungan antara sosial ekonomi (p-value < 0,000 ; CI = 6,401-136,507), ASI-Eksklusif (p-value < 0,000 ; CI = 2,257-7,540), MP-ASI (p-value < 0,000 ; CI = 11,109-705,048), riwayat imunisasi (p-value = 0,020 ; CI = 1,231-1,614) dan riwayat infeksi (p-value = 0,001 ; CI = 0,008-0,515) terhadap kejadian stunting. Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara sosial ekonomi, ASI Eksklusif, MP-ASI, riwayat  imunisasi, dan riwayat infeksi terhadap kejadian stunting. Bagi instansi kesehatan dapat meningkatkan pemantauan secara rutin terhadap pemberian vaksinasi, ASI Eksklusif dan MP-ASI serta meningkatkan pelatihan terhadap kader desa untuk mencegah terjadinya stunting.   Abstract Background: Stunting is an ongoing nutritional issue in Indonesia that requires special attention to reduce its prevalence. The Indonesian Nutritional Status Study (SSGI) report notes that in 2021, 24.4% of Indonesian toddlers experienced stunting. The World Health Organization (WHO) explains that stunting affects the growth and development of children. Objective: To identify factors related to stunting incidence in toddlers (aged 0-59 months) in the working area of Klungkung I Health Center. Method: The research was conducted in the working area of Klungkung I Community Health Center, Kamasan Village, Gelgel Subdistrict, Klungkung Regency, Bali Province, from October 30 to November 2, 2023. Cluster random sampling was used as technique to gather the sample. Research data were analyzed through univariate and bivariate analysis and also using Chi-square analysis. Results: The study found that 75 toddlers (75%) experienced stunting, while 25 toddlers (25%) did not. Bivariate analysis results show no significant relationship between birth weight (p-value = 0.477; CI = 0.360-8.684), birth length (p-value = 0.907; CI = 0.380-2.359), and maternal height (p-value = 1.000; CI = 0.291-3.437) with stunting incidence. However, there is a significant relationship between socioeconomic status (p-value < 0.000; CI = 6.401-136.507), exclusive breastfeeding (p-value < 0.000; CI = 2.257-7.540), complementary feeding (p-value < 0.000; CI = 11.109-705.048), immunization history (p-value = 0.020; CI = 1.231-1.614), and infection history (p-value = 0.001; CI = 0.008-0.515) with stunting incidence. Conclusion: There is a significant association between socioeconomic status, exclusive breastfeeding, complementary feeding, immunization history, and infection history with stunting incidence. Health institutions can enhance regular monitoring of vaccination, exclusive breastfeeding, and complementary feeding, as well as provide training to village health cadres to prevent stunting.