Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Ukuran Omfalokel: Apakah Berhubungan dengan Anomali Kongenital ? Prajitno Sugianto
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v8i1.15015

Abstract

ABSTRACT                                                                     Background: Omphalocele (also known as exomphalus) is a condition that is seen in newborn infants, and is thought to result from failure of the intestines to return to the abdomen after the migration into the umbilical cord. Omphalocele is often associated with the presence of other congenital anomalies. One study says that a small of defect omphalocele is often accompanied by intestinal disorders and have a better prognosis. Purpose(s): Based on this study the researcher wants to review the relationship between the size of  omphalocele defect and the presence of associated congenital anomaly in Hasan Sadikin Hospital. Methods: This is a retrospective cross-sectional study. All patient with omphalocele between February 2007 – March 2012 were included in this study. Data collected were patient demographics, size of omphalocele defect and congenital anomalies identified. In this study, patients were  designated as those with large (greater than 4 cm) or small (4 cm and less) defect omphaloceles. This study analyzed correlation between size of defect with associated anomaly using Fisher exact test  and  p < 0.05 is considered to be significant. Results: There were 52 omphalocele cases (24 girls, 28 boys), median birth weight 2710gr (range 1300gr–4000gr). Twenty seven patients were classified as small defect, with 25 classified as large defect. Anomaly found in the small defect groups consists of facial anomaly (7%); cardiac anomaly (7%); intestinal disorder (22%,P=0,02) include patent omphalomesentericus duct, anorectal malformation and cloaca extrophi; limb anomaly (7%). Meanwhile, anomalies identified in the large defect group consist of facial anomaly (8%); cardac defect (32%) include dextrocardi and tetralogi Fallot; limb anomaly (16%).In this study, cardiac defects was significantly higher in the large defect group, meanwhile intestinal diorder is statistically significant in small defect groups. Conclusion: Small defect omphalocele correlates with an increased prevalence of associated gastrointestinal anomalies and a lower prevalence of cardiac anomalies.Keyword: Omphalocele; Exomphalus; Associated congenital anomalies; Defect size
Hubungan Kejadian Apendisitis Akut Dengan Peningkatan Mean Platelet Volume (Mpv) Di Rsud Kabupaten Klungkung Made Ngurah Jiyesta Wibawa; Sugianto Prajitno; Shinta Wulandhari; Made Agus Suanjaya
Journals of Ners Community Vol 13 No 2 (2023): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i2.2525

Abstract

Apendik vermiformis merupakan organ kecil tambahan yang terletak dibawah katup ileosekal serta melekat pada sekum. Apendik vermiformis mudah mengalami obstruksi hingga rentan terjadi infeksi akibat mekanisme pengosongan diri apendik vermiformis yang pada umumnya kurang efisien, ditambah ukuran lumen yang terbilang kecil. Infeksi inilah yang lebih dikenal sebagai apendisitis, radang pada apendik, atau penyakit usus buntu. Apendisitis dapat menyerang semua usia namun kasus tertinggi terdapat pada individu yang tergolong remaja hingga dewasa muda yaitu usia 18-40 tahun. Pemeriksaan darah lengkap merupakan salah satu tes laboratorium yang paling umum digunakan untuk diagnosis Apendisitis akut. Mean Platelet Volume (MPV) adalah tes yang terbilang murah dan sering digunakan untuk menunjukkan ukuran dan aktivitas platelet. Trombosit atau platelet memiliki efek membentuk bekuan darah (hemostasis) dan mengatur kejadian inflamasi. Jumlah trombosit dan MPV telah diteliti sebagai penanda inflamasi aktivitas penyakit. Mengetahui adanya hubungan antara kejadian apendisitis akut dengan peningkatan Mean Platelet Volume (MPV) pada dewasa muda di RSUD Kabupaten Klungkung. Penelitian ini bersifat kuantitatif analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional study. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan di RSUD Kabupaten Klungkung pada tahun 2017-2021. Sampel penelitian sebanyak 170 sampel. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Chi Square. Batas nilai signifikasi adalah (p ≤ 0.05). Didapatkan jumlah pasien dengan apendisitis akut tanpa perforasi berjumlah 108 pasien (63,50%) dan jumlah pasien dengan apendisitis akut dengan perforasi berjumlah 62 orang (36,50). Didapatkan pula nilai MPV normal berjumlah 129 orang (75,90%), nilai MPV menurun berjumlah 41 orang (24,10%), dan tidak terdapat pasien dengan MPV meningkat. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan Chi Square didapatkan nilai p-value 0,46 (p > 0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peningkatan MPV dengan kejadian Apendisitis Akut di Rumah Sakit Umum Klungkung
Hospital Responsibilities in Storing Electronic Medical Record Documents Sugianto Prajitno; Mokhamad Khoirul Huda; Asmuni
JILPR Journal Indonesia Law and Policy Review Vol 5 No 1 (2023): Journal Indonesia Law and Policy Review (JILPR), October 2023
Publisher : International Peneliti Ekonomi, Sosial dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56371/jirpl.v5i1.161

Abstract

Medical records in hospitals are data for compiling health information and every health service and every health service, whether providing outpatient or inpatient services, is required to make a medical record and sanctions are imposed for those who violate it in accordance with applicable laws and regulations. The aim of this research is to analyze the norms for storing and destroying manual medical record documents and to analyze the legal responsibility of hospitals for storing electronic medical records in hospitals. The type of research used in this research is legal research. This type of research is carried out by examining legal norms in applicable laws and regulations related to guidelines and codes of ethics for a profession, especially in this case, medical laboratory technology experts in providing health services. Specifically, the type of research is normative juridical or doctrinal research. The findings of this research are that the legal responsibility of hospitals for storing electronic medical records in hospitals has been regulated by Minister of Health Regulation No. 24 of 2022, while the responsibility of hospitals in implementing electronic medical records is also outlined in the Ministry of Health in the form of ministerial supervision through the director general. If deviations occur, administrative sanctions will be given in the form of a warning or revocation of accreditation status.
Hubungan Prematuritas, BBLR dan Asfiksia dengan Kejadian Ikterus Neonatorum Faisal, Siti Fadila Alviana; Benvenuto, Ananta Fittonia; Wanadiatri , Halia; Prajitno, Sugianto
Empiricism Journal Vol. 5 No. 1: June 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i1.1784

Abstract

Ikterus neonatorum adalah kejadian biologis pada bayi yang muncul karena produksi sel darah merah yang tinggi dan ekskresi bilirubin rendah yang di tandai dengan gejala kulit berwarna kuning. Beberapa faktor risiko ikterus neonatorum yang sering terjadi di Asia yaitu jenis kelamin, usia kehamilan, berat badan lahir, jenis persalinan, kejadian asfiksia dan frekuensi pemberian Air Susu Ibu (ASI). Menurut Badan Pusat Statistik Tahun 2023, Kabupaten Lombok Barat merupakan kabupaten yang memiliki jumlah penduduk ke-tiga terbanyak di Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan jumlah penduduk sekitar 753?641. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Prematuritas, Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), Asfiksia dengan kejadian Ikterus Neonatorum di RSUD Patut Patuh Patju Lombok Barat yang merupakan rumah sakit tipe B dan menjadi rujukan bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan lanjutan. Penelitian ini dilakukan secara kuantitatif analitik dengan desain penelitian cross sectional dimana suatu penelitian yang dilakuakn untuk mempelajari kolerasi antara faktor-faktor resiko dengan cara pendekatan atau pengumpulan data sekaligus pada satu saat tertentu. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dimana sampel penelitian sebanyak 170 Responden. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji korelasi Chi-Square. Adapun nilai p-value Prematuritas dengan kejadian Ikterus 0,009 (p-value <0,05), BBLR dengan kejadian ikterus 0,003 (p-value <0,05), Asfiksia dengan kejadian ikterus 0,013 (p-value <0,05). Berdasarkan hasil yang diperoleh maka terdapat hubungan yang signifikan antara prematuritas, BBLR, Asfiksia dengan kejadian Ikterus Neonatorum di RSUD Patut Patuh Patju Lombok Barat. Relationship between Prematurity, BBLR and Asphyxia with the Occurrence of Neonatal Jaundice Abstract Neonatal jaundice is a biological occurrence in infants that arises due to high red blood cell production and low bilirubin excretion, marked by yellowish skin symptoms. Several risk factors for neonatal jaundice frequently observed in Asia include gender, gestational age, birth weight, type of delivery, incidence of asphyxia, and the frequency of breastfeeding. According to the Central Statistics Agency in 2023, West Lombok Regency has the third largest population in West Nusa Tenggara (NTB) with about 753,641. This study aims to analyze the relationship between prematurity, Low Birth Weight (LBW) Babies, asphyxia, and the occurrence of neonatal jaundice at the Patut Patuh Patju Hospital in West Lombok, which is a type B hospital and serves as a referral center for those in need of advanced healthcare services. This research was conducted analytically with a cross-sectional study design, where a study is performed to examine the correlation between risk factors by means of an approach or data collection at a specific point in time. The sampling technique used was purposive sampling, with a sample size of 170 respondents. The data obtained were analyzed using the Chi-Square correlation test. The p-values for prematurity with the occurrence of jaundice were 0.009 (p-value <0.05), LBW with the occurrence of jaundice was 0.003 (p-value <0.05), and asphyxia with the occurrence of jaundice was 0.013 (p-value <0.05). Based on the results obtained, there is a significant relationship between prematurity, LBW, asphyxia, and the occurrence of neonatal jaundice at the Patut Patuh Patju Hospital in West Lombok.
Hubungan Asupan Serat, Konsumsi Air Putih, Aktivitas Fisik, dan Jenis Kelamin dengan Kejadian Konstipasi Fungsional pada Siswa/ Siswi SMA Negeri 1 Praya Timur, Lombok Tengah Wahyu Rizal, Muhamad; Ruqayyah, Siti; Prajitno, Sugianto; Mahdaniyati, Aulia
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 22 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.14579732

Abstract

Background: Constipation is a condition in which a person has difficulty in defecating characterized by a solid consistency of feces and the defecation frequency is equal to or more than once every three days. Generally, constipation is classified into two types: constipation due to structural abnormalities and functional constipation. The later type basically caused by poor life styles such as low fiber intake, low fluid intake, low physical activity and high level of stress. Objective: Analyzing the relationship between fiber intake, water consumption, physical activity, and gender with the incidence of functional constipation. Method: The research used quantitative analytical observational methods along with a cross sectional research design. The data was collected in one day in which the respondents were gathered in one room and divided into three sessions. Meanwhile, the proportionate stratified random sampling was employed with 100 respondents. Additionally, Spearman rank correlation test was utilized with a significant value limit of (p-value) < 0.05. Results: The research shows that the majority of the respondents were aged 15 years (15%) and 61 % of the respondent had functional constipation. Furthermore, the research indicates that the participants also had low fiber intake, low water consumption, and low physical activity accounted for 61%, 62% and 42% respectively. The study also shows that the dominant gender was female outnumbered the male one for 68%. Meanwhile, Bivariate analysis illustrates that there is a relationship between functional constipation and all the variables (p=0.000) – fiber intake, water consumption, physical activity and gender. Conclusion: Fiber intake, water consumption, physical activity, and gender are closely related with functional constipation.
Hubungan Kejadian Apendisitis Akut Dengan Peningkatan Mean Platelet Volume (Mpv) Di Rsud Kabupaten Klungkung Ngurah Jiyesta Wibawa, Made; Prajitno, Sugianto; Wulandhari, Shinta; Agus Suanjaya, Made
Journals of Ners Community Vol 14 No 2 (2023): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i2.2525

Abstract

Apendik vermiformis merupakan organ kecil tambahan yang terletak dibawah katup ileosekal serta melekat pada sekum. Apendik vermiformis mudah mengalami obstruksi hingga rentan terjadi infeksi akibat mekanisme pengosongan diri apendik vermiformis yang pada umumnya kurang efisien, ditambah ukuran lumen yang terbilang kecil. Infeksi inilah yang lebih dikenal sebagai apendisitis, radang pada apendik, atau penyakit usus buntu. Apendisitis dapat menyerang semua usia namun kasus tertinggi terdapat pada individu yang tergolong remaja hingga dewasa muda yaitu usia 18-40 tahun. Pemeriksaan darah lengkap merupakan salah satu tes laboratorium yang paling umum digunakan untuk diagnosis Apendisitis akut. Mean Platelet Volume (MPV) adalah tes yang terbilang murah dan sering digunakan untuk menunjukkan ukuran dan aktivitas platelet. Trombosit atau platelet memiliki efek membentuk bekuan darah (hemostasis) dan mengatur kejadian inflamasi. Jumlah trombosit dan MPV telah diteliti sebagai penanda inflamasi aktivitas penyakit. Mengetahui adanya hubungan antara kejadian apendisitis akut dengan peningkatan Mean Platelet Volume (MPV) pada dewasa muda di RSUD Kabupaten Klungkung. Penelitian ini bersifat kuantitatif analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional study. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan di RSUD Kabupaten Klungkung pada tahun 2017-2021. Sampel penelitian sebanyak 170 sampel. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Chi Square. Batas nilai signifikasi adalah (p ≤ 0.05). Didapatkan jumlah pasien dengan apendisitis akut tanpa perforasi berjumlah 108 pasien (63,50%) dan jumlah pasien dengan apendisitis akut dengan perforasi berjumlah 62 orang (36,50). Didapatkan pula nilai MPV normal berjumlah 129 orang (75,90%), nilai MPV menurun berjumlah 41 orang (24,10%), dan tidak terdapat pasien dengan MPV meningkat. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan Chi Square didapatkan nilai p-value 0,46 (p > 0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peningkatan MPV dengan kejadian Apendisitis Akut di Rumah Sakit Umum Klungkung
Hubungan Kejadian Apendisitis Akut Dengan Peningkatan Mean Platelet Volume (Mpv) Di Rsud Kabupaten Klungkung Ngurah Jiyesta Wibawa, Made; Prajitno, Sugianto; Wulandhari, Shinta; Agus Suanjaya, Made
Journals of Ners Community Vol 14 No 2 (2023): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i2.2525

Abstract

Apendik vermiformis merupakan organ kecil tambahan yang terletak dibawah katup ileosekal serta melekat pada sekum. Apendik vermiformis mudah mengalami obstruksi hingga rentan terjadi infeksi akibat mekanisme pengosongan diri apendik vermiformis yang pada umumnya kurang efisien, ditambah ukuran lumen yang terbilang kecil. Infeksi inilah yang lebih dikenal sebagai apendisitis, radang pada apendik, atau penyakit usus buntu. Apendisitis dapat menyerang semua usia namun kasus tertinggi terdapat pada individu yang tergolong remaja hingga dewasa muda yaitu usia 18-40 tahun. Pemeriksaan darah lengkap merupakan salah satu tes laboratorium yang paling umum digunakan untuk diagnosis Apendisitis akut. Mean Platelet Volume (MPV) adalah tes yang terbilang murah dan sering digunakan untuk menunjukkan ukuran dan aktivitas platelet. Trombosit atau platelet memiliki efek membentuk bekuan darah (hemostasis) dan mengatur kejadian inflamasi. Jumlah trombosit dan MPV telah diteliti sebagai penanda inflamasi aktivitas penyakit. Mengetahui adanya hubungan antara kejadian apendisitis akut dengan peningkatan Mean Platelet Volume (MPV) pada dewasa muda di RSUD Kabupaten Klungkung. Penelitian ini bersifat kuantitatif analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional study. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan di RSUD Kabupaten Klungkung pada tahun 2017-2021. Sampel penelitian sebanyak 170 sampel. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Chi Square. Batas nilai signifikasi adalah (p ≤ 0.05). Didapatkan jumlah pasien dengan apendisitis akut tanpa perforasi berjumlah 108 pasien (63,50%) dan jumlah pasien dengan apendisitis akut dengan perforasi berjumlah 62 orang (36,50). Didapatkan pula nilai MPV normal berjumlah 129 orang (75,90%), nilai MPV menurun berjumlah 41 orang (24,10%), dan tidak terdapat pasien dengan MPV meningkat. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan Chi Square didapatkan nilai p-value 0,46 (p > 0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peningkatan MPV dengan kejadian Apendisitis Akut di Rumah Sakit Umum Klungkung
Prevalensi Kematian Neonatal dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di RSUD Praya Lombok Tengah Utami, Sugiarti Rizki; Benvenuto, Ananta Fittonia; Wanadiatri, Halia; Prajitno, Sugianto
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 6 (2024): Volume 4 Nomor 6 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i6.14511

Abstract

ABSTRACT LBW is a baby born weighing  ≤ 2500 grams. Babies with LBW have a greater risk of experiencing morbidity and mortality. LBW is one of the main causes of neonatal death. Neonatal conditions are conditions that are most vulnerable to death because the baby's immune system is still low. Neonatal death is death that can occur in babies aged 0-28 days but is not caused by an accident, disaster, injury or suicide. To determine the prevalence of LBW with neonatal deaths at Praya Regional Hospital, Central Lombok in 2020. This research is an observational quantitative analytic study with a cross sectional research design. The sampling technique used is purposive sampling technique with a total sample of 219 respondents. The data studied were analyzed using the SPSS program. The results of the analysis show that the data obtained from 219 respondents showed that the number of males was 89 (40.6%) and 130 (59.4%) females. For the number of LBW classifications, there are 124 (56.6%) BBLR, 86 (39.3%) BBLSR and 9 (4.1%) BBLER. The number of neonates who died was 48 (21.9%) and 171 (78.1%) who did not die. The causes of LBW were asphyxia as many as 42 (19.18%), hypothermia 63 (28.77%), sepsis 79 (36.07%) and prematurity 35 (15.98). Conclusion: Data obtained from 219 respondents showed that the largest number of genders were women with 130 (59.4%) respondents, the highest number of respondents who gave birth to low birth weight babies were in the LBW category at 124 (56.6%), the number 48 respondents died (21.9%) and the most common cause of LBW was sepsis/infection, 79 (36.07%). Keywords: Neonatal Death, LBW  ABSTRAK BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat ≤ 2500 gram. Bayi dengan BBLR mempunyai risiko lebih besar untuk mengalami morbiditas dan mortalitas. BBLR menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kematian neonatal. Kondisi neonatal merupakan kondisi yang paling rentan terhadap kematian karena daya tahan tubuh bayi yang masih rendah. Kematian neonatal adalah kematian yang dapat terjadi pada bayi usia 0-28 hari namun bukan disebabkan oleh suatu kecelakaan, bencana, cedera ataupun bunuh diri. Untuk mengetahui prevalensi kematian neonatal dengan BBLR di RSUD Praya Lombok Tengah Tahun 2020. Penelitian ini merupakan penelitian jenis kuantitatif analitik observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak  219 responden. Data yang diteliti dianalisis menggunakan program SPSS. Hasil analisis menunjukan bahwa data yang diperoleh dari 219 responden didapatkan jumlah jenis kelamin laki-laki sebanyak 89 (40,6%) dan perempuan sebanyak 130 (59,4%). Untuk jumlah dari klasifikasi BBLR terdapat kategori BBLR 124 (56,6%), BBLSR 86 (39,3%) dan BBLER 9 (4,1%). Untuk jumlah neonatal yang meninggal sebanyak 48 (21,9%) dan tidak meninggal sebanyak 171 (78,1%). Untuk penyebab BBLR karena asfiksia sebanyak 42 (19,18%), hipotermi 63 (28,77%), sepsis 79 (36,07%) dan prematuritas 35 (15,98). Data yang diperoleh dari 219 responden didapatkan bahwa jumlah jenis kelamin yang terbanyak yaitu perempuan dengan jumlah 130 (59,4%) responden, jumlah responden yang melahirkan bayi berat lahir rendah paling banyak terdapat pada kategori BBLR sebanyak 124 (56,6%), jumlah responden yang meninggal sebanyak 48 (21,9%) dan penyebab BBLR paling banyak terjadi karena sepsis/infeksi sebanyak 79 (36,07%).  Kata Kunci: Kematian Neonatal, BBLR
Hubungan dan Prevalensi Tingkat Depresi, Tingkat Kecemasan, dan Tingkat Stres dengan Irritable Bowel Syndrome Pada Siswa/I SMAN 1 Lenek Kabupaten Lombok Timur Hamdi, Zainul; Prajitno, Sugianto; Azmi, Fahriana; Suanjaya, Made Agus
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 5 (2024): Volume 4 Nomor 5 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i5.14301

Abstract

ABSTRACT Irritable bowel syndrome (IBS) is a chronic and recurrent functional intestinal disorder, in the form of abdominal pain or discomfort and defecation pattern disorders that occur 1 time per week for at least 3 months, without any underlying structural abnormalities. Irritable bowel syndrome is a multifactoral disease that has several pathogenesis. Psychological factors such as stress, anxiety and depression can strongly affect the work of the colon. The colon has many neurons associated with the cerebrum. Part of the colon is controlled by the CNS, which responds to stress. This study aims to determine the prevalence of stress, anxiety, depression and the incidence of irritable bowel syndrome, as well as determine the relationship between stress, anxiety, depression and the incidence of irritable bowel syndrome in students of SMA N 1 Lenek East Lombok Regency. Analytical quantitative research with cross sectional research design. The sampling technique uses stratified random sampling. The research was conducted at SMA N 1 Lenek, East Lombok Regency. The study sample was 96 people. The data obtained were analyzed by the Chi-Square correlation test. The prevalence of irritable bowel syndrome in respondents was 40 people (41.7%), the prevalence of normal stress levels in respondents amounted to 36 people (37.5%), the prevalence of normal anxiety levels in respondents amounted to 17 people (17.7%), the prevalence of normal depression levels in respondents amounted to 45 people (46.9%). There is a significant relationship between stress and the incidence of irritable bowel syndrome. The p-value is 0.005 (p-value < 0.05). There was no significant association between anxiety and the incidence of irritable bowel syndrome. The p-value is 0.153 (p-value > 0.05). There is a significant relationship between depression and the incidence of irritable bowel syndrome. The p-value is 0.014 (p-value < 0.05). Conclusion: There is a relationship between stress and depression with the incidence of irritable bowel syndrome, but there is no relationship between anxiety and the incidence of irritable bowel syndrome in students of SMA N 1 Lenek East Lombok Regency. Keywords: Irritable Bowel Syndrome, Stress, Anxiety, DepressionABSTRAK Irritable bowel syndrome (IBS) adalah gangguan intestinal fungsional kronis dan berulang, berupa nyeri atau rasa tidak nyaman pada abdomen serta gangguan pola defekasi yang terjadi 1 kali per minggu setidaknya 3 bulan, tanpa adanya kelainan struktural yang mendasarinya. Irritable bowel syndrome merupakan penyakit multifaktoral yang memiliki beberapa patogenesis. Faktor psikologis seperti stres, kecemasan dan depresi dapat secara kuat memengaruhi kerja kolon. Kolon memiliki banyak neuron yang berhubungan dengan cerebrum. Sebagian kolon dikontrol oleh SSP, yang berespon terhadap stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi stres, kecemasan, depresi dan kejadian irritable bowel syndrome, serta mengetahui hubungan stres, kecemasan, depresi dan kejadian irritable bowel syndrome pada siswa/i SMA N 1 Lenek Kabupaten Lombok Timur. Penelitian kuantitatif analitik dengan desain penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling. Penelitian dilakukan di SMA N 1 Lenek Kabupaten Lombok Timur. Sampel penelitian sebanyak 96 orang. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji korelasi Chi-Square. Prevalensi irritable bowel syndrome pada responden 40 orang (41,7%), prevalensi tingkat stres normal pada responden berjumlah 36 orang (37,5%), prevalensi tingkat kecemasan normal pada responden berjumlah 17 orang (17,7%), prevalensi tingkat depresi normal pada responden berjumlah 45 orang (46,9%). Terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan kejadian irritable bowel syndrome. Nilai p-value 0,005 (p-value < 0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan kejadian irritable bowel syndrome. Nilai p-value 0,153 (p-value > 0,05). Terdapat hubungan yang signifikan antara depresi dengan kejadian irritable bowel syndrome. Nilai p-value 0,014 (p-value < 0,05). Terdapat hubungan antara stres dan depresi dengan kejadian irritable bowel syndrome, Namun tidak terdapat hubungan kecemasan dengan kejadian irritable bowel syndrome pada siswa/i SMA N 1 Lenek Kabupaten Lombok Timur. Kata Kunci: Irritable Bowel Syndrome, Stres, Kecemasan, Depresi
HUBUNGAN PERNIKAHAN DINI, PENGETAHUAN IBU, DAN POLA PEMBERIAN MAKAN DENGAN KEJADIAN STUNTING DI DESA PRINGGABAYA KECAMATAN PRINGGABAYA KABUPATEN LOMBOK TIMUR Ugik Muliana; Sugianto Prajitno; Ali Sukmajaya; Nisia Putri Rinayu
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/6mf8bg27

Abstract

Stunting merupakan suatu keadaan dimana seorang anak tidak mempunyai tinggi badan atau tinggi badan yang sesuai dengan usianya. Stunting merupakan indikator yang baik untuk mendeteksi malnutrisi jangka panjang pada anak, yang pada akhirnya dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan linear. Terjadinya stunting  dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: Pernikahan dini, pengetahuan ibu dan kebiasaan makan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kejadian stunting dengan pernikahan dini, pengetahuan ibu, dan pola  makan  di Desa Pringabaya, Kecamatan Pringabaya, Provinsi Lombok Timur. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan observasional dan desain cross-sectional. Sebanyak 96 sampel digunakan dalam penelitian ini, yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Survei dilakukan pada bulan September 2024 di Desa Pringabaya, Kecamatan Pringabaya, Kabupaten Lombok Timur. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji chi-square dengan nilai signifikansi p<0,05. Analisis univariat menunjukkan bahwa 54 (56,3%) anak menderita stunting, 69 (71,9%) responden menikah  dini, dan 64 (66,7%) responden menderita stunting tentang pola makan. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pernikahan dini dengan stunting dengan nilai p value 0.001 (PR: 4.891, 95% CI: 1.957-12.226). Terdapat pula hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan kejadian stunting dengan p-value 0.001 (PR: 6.250, CI 95%: 2.476-15.774). Terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku gizi dengan kejadian stunting dengan nilai p value 0,001 (PR 2,640; CI 95%: 1,526-4,568). Terdapat hubungan antara pernikahan dini, pengetahuan ibu, kebiasaan makan dengan kejadian stunting di Desa Pringgabaya Kecamatan Pringgabaya Provinsi Lombok Timur.