Yoga Wisnu Abdilah
Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Fenomena Maraknya Kembali Menyanyikan Lagu Indonesia Raya 3 Stanza Yoga Wisnu Abdilah; Sahru Romadloni; Demas Brian Wicaksono
JURNAL PUSPAKA Vol 1 No 1 (2024): Jurnal Pusat Studi Pancasila dan Kebijakan
Publisher : Pusat Studi Pancasila dan Kebijakan Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/jurnalpuspaka.v1i1.303

Abstract

Penelitian ini menganalisis fenomena maraknya kembali menyanyikan lagu Indonesia Raya versi tiga stanza di masa kini, yang menggambarkan upaya revitalisasi nilai-nilai kebangsaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur untuk mengeksplorasi tiga aspek utama: sejarah dan makna lagu Indonesia Raya tiga stanza, proses transisi dari tiga stanza menjadi satu stanza, serta alasan di balik munculnya kembali fenomena tiga stanza. Data diperoleh melalui kajian dokumen sejarah, biografi Wage Rudolf Supratman, publikasi akademik, artikel berita, dan informasi media terkait respons masyarakat terhadap fenomena ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transisi ke satu stanza dipengaruhi oleh faktor kebijakan, efisiensi waktu, dan dinamika sosial-politik, sementara kebangkitan versi tiga stanza saat ini didorong oleh peran pemerintah, media sosial, dan kebutuhan memperkuat nasionalisme. Penelitian ini memberikan pandangan mendalam mengenai makna simbol kebangsaan dalam konteks historis dan modern.
Fenomena Maraknya Kembali Menyanyikan Lagu Indonesia Raya 3 Stanza Yoga Wisnu Abdilah; Sahru Romadloni; Demas Brian Wicaksono
JURNAL PUSPAKA Vol 1 No 1 (2025): Jurnal Pusat Studi Pancasila dan Kebijakan
Publisher : Pusat Studi Pancasila dan Kebijakan Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/jurnalpuspaka.v1i1.303

Abstract

Penelitian ini menganalisis fenomena maraknya kembali menyanyikan lagu Indonesia Raya versi tiga stanza di masa kini, yang menggambarkan upaya revitalisasi nilai-nilai kebangsaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur untuk mengeksplorasi tiga aspek utama: sejarah dan makna lagu Indonesia Raya tiga stanza, proses transisi dari tiga stanza menjadi satu stanza, serta alasan di balik munculnya kembali fenomena tiga stanza. Data diperoleh melalui kajian dokumen sejarah, biografi Wage Rudolf Supratman, publikasi akademik, artikel berita, dan informasi media terkait respons masyarakat terhadap fenomena ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transisi ke satu stanza dipengaruhi oleh faktor kebijakan, efisiensi waktu, dan dinamika sosial-politik, sementara kebangkitan versi tiga stanza saat ini didorong oleh peran pemerintah, media sosial, dan kebutuhan memperkuat nasionalisme. Penelitian ini memberikan pandangan mendalam mengenai makna simbol kebangsaan dalam konteks historis dan modern.
Analisis Pengaruh Warisan Kolonialisme Terhadap Pembentukan Sikap Akademik Formal Dan Kompetitif Di Kalangan Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi Yoga Wisnu Abdilah; Shofi Salsabila; Siti Zuhrotul Amelia
JURNAL SANGKALA Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v5i1.792

Abstract

Peninggalan kolonialisme sudah memberikan dampak besar pada susunan, nilai- nilai, serta arah pendidikan modern di Indonesia. Penelitian ini bertujuan guna menelaah pengaruh peninggalan tersebut dalam pembentukan sikap akademik yang formal serta bersaing di antara mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring, wawancara terstruktur serta semi- terstruktur, dan observasi lapangan, kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa menempati posisi netral namun cenderung menyetujui tiga indikator utama: orientasi akademik formal, budaya persaingan, serta respons dan penyesuaian terhadap dinamika tersebut. Orientasi formal tercermin dalam kecenderungan mahasiswa mendefinisikan kesuksesan berdasarkan nilai, ijazah, sertifikat, dan legitimasi administratif pola yang mereproduksi sistem pendidikan kolonial. Budaya persaingan juga tampak kuat, terutama melalui dorongan untuk pencapaian pribadi dan pengakuan sosial. Namun, temuan penting dari penelitian ini adalah adanya kecenderungan adaptasi yang maju, seperti peningkatan keterlibatan dalam kegiatan kolaboratif, riset bersama, dan kesadaran kritis terhadap sejarah kolonial. Hal ini menandakan bahwa proses dekolonisasi kesadaran akademik mulai terbentuk, meskipun masih dalam tahap awal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa warisan kolonial masih memengaruhi identitas akademik mahasiswa, tetapi proses negosiasi nilai sedang berjalan seiring dengan munculnya orientasi kolektif yang lebih manusiawi dan partisipatif.