Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tinjauan Siyasah Dauliyah Terhadap Potensi Arah Politik Ekonomi Indonesia Pasca Bergabung Dengan Brics (Brazil, Rusia, India, China, South Africa) Muhammad Widi Azzaqi; Yana Sutiana; Budi Tresnayadi
Jurnal Sosial Teknologi Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Sosial dan Teknologi
Publisher : CV. Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsostech.v6i2.32683

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kecenderungan arah politik ekonomi Indonesia pasca keanggotaan BRICS, mengidentifikasi peluang serta risiko yang menyertainya, dan mengevaluasi kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip Siyasah Dauliyah, khususnya al-‘Adalah (keadilan) dan at-Ta’awun (kerja sama). Kerangka berpikir penelitian menggabungkan teori Ekonomi Politik Internasional (merkantilisme, liberalisme, dan strukturalisme), teori dependensi, prinsip-prinsip Siyasah Dauliyah, serta dasar hukum Indonesia (Pasal 33 ayat (4) UUD 1945, UU No. 37 Tahun 1999, dan UU No. 24 Tahun 2000). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, analisis dokumen, serta penelusuran data sekunder terkait dinamika BRICS dan kebijakan ekonomi Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arah politik ekonomi Indonesia pasca bergabung dengan BRICS cenderung menuju model semi-merkantilis yang menekankan kedaulatan ekonomi melalui hilirisasi dan diversifikasi kerja sama, namun secara struktural Indonesia masih berada pada posisi semi-periphery yang bergantung pada teknologi dan modal negara besar BRICS, terutama Tiongkok. Keanggotaan BRICS menghadirkan peluang strategis seperti perluasan pasar, peningkatan investasi, dan penguatan posisi geopolitik, tetapi juga menimbulkan risiko berupa potensi ketergantungan baru (neo-dependensi), asimetri posisi tawar, dan kemungkinan tekanan politik ekonomi antarnegara anggota. Dari perspektif Siyasah Dauliyah, keanggotaan Indonesia dapat bernilai maslahat apabila mampu memperkuat kemandirian nasional, memastikan distribusi manfaat yang adil, dan menjaga kemaslahatan publik, namun berpotensi tidak memenuhi prinsip keadilan dan kerja sama apabila menghasilkan ketergantungan struktural yang merugikan.
Islamic Archipelago Perspective in Symbolic Interpretation of Ngalaksa Customary Local Wisdom in Sumedang Regency, West Java Beni Ahmad Saebani; Yana Sutiana
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 23 No. 2 (2024): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v23i2.6064

Abstract

Each ethnic community has a leader who controls its social and cultural communication. The leadership is equipped with its own territory, social norms, and traditional arts. The arts as a product of this culture are integrated with the community's belief in something metaphysical and supernatural, which is deified and believed to be the creator and ruler of the universe universally. Such as the “Ngalaksa” custom carried out by the Rancakalong community in Sumedang Regency every year. This custom is a symbol of gratitude to God for all the blessings that have been bestowed in the form of agricultural products. This research will answer about the symbolic meaning contained in the Ngalaksa custom and its contribution to the embodiment of traditional culture of the people in the archipelago as well as a religious understanding of the divine values contained in the Sundanese Ngalaksa custom. This research uses descriptive analysis method and anthropological approach with qualitative data collected by observing, interviewing, and participating with the implementation of Ngalaksa custom in Rancakalong, Sumedang. This research reveals that the Ngalaksa custom in Rancakalong, Sumedang, has a deep meaning in the context of empowering thinking, acting, and creating based on the teachings of Islam Nusantara. The cultural symbols of this custom are interpreted through Islamic values that strengthen the character and spirituality of individuals and communities, strengthening faith in God with practices that reflect the harmony of religion and local culture.