Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

IDENTIFIKASI LANDMARK ARSITEKTUR DAN LANSKAP SEBAGAI ATRAKSI WISATA Aidina, Faiza; Nafil, Akram; Hadinata, Teuku Eka Panny; Annisa, Astrid
Arsitekno Vol. 12 No. 1 (2025): Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v12i1.19154

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi landmark arsitektur dan lanskap yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar, dengan fokus pada peran elemen-elemen ini dalam mendukung sektor pariwisata. Melalui pendekatan kualitatif, dilakukan survei lapangan, observasi langsung, dan wawancara dengan pemangku kepentingan terkait untuk mengidentifikasi berbagai landmark yang menjadi daya tarik wisata. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat 27 atraksi wisata yang terdiri dari landmark arsitektur dan lanskap, yang masing-masing memiliki nilai sejarah, budaya, serta spiritual yang berkontribusi terhadap identitas daerah dan menarik minat wisatawan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi pariwisata yang lebih berkelanjutan, yang mempertimbangkan preservasi warisan arsitektur dan lanskap lokal.
ANALISIS PEMANFAATAN RUANG BANTARAN KANAL BANJIR SUNGAI ACEH Aidina, Faiza; Hadinata, Teuku Eka Panny; Muhibuddin, Muhibuddin
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Illegal use of floodplain is something that is often found in cities in Indonesia, including in Banda Aceh. The use of state-owned land has been carried out by the local community and it is feared that it will interrupt its function as a flood control. Based on this phenomenon, land clearing has been carried out by the government, BWSS I, and resulted a positive and negative reaction from local communities. BWSS I has also set a plan for land use plan along the floodplain of the Aceh River (Bakoi Village – Lamnyong Bridge) into 5 zones. A good process of planning and designing riverfront needs to involve the aspirations of the community. the alignment of goals and perceptions between the government and the community as users is important to be investigated. Based on observations of environmental settings and activities and local interviews, author found that villagers around riverside accept the program with terms and condition, yet there were several other activities that were in line with government programs but are not in the planned zone. The results of the study is proposal of an alternative space uses that can be considered for future studies.Keyword: land use, riverside, floodplain, aceh river.Abstrak: Pemanfaatan bantaran sungai ilegal merupakan hal yang sering ditemui di kota-kota di Indonesia, termasuk di Kota Banda Aceh. Pemanfaatan lahan milik negara tersebut telah dilakukan oleh masyarakat setempat dan dikhawatirkan menggangu fungsinya sebagai area tangkap air dan pengendali banjir. Berdasarkan fenomena tersebut maka telah dilakukan penertiban dan pembersihan lahan dari bangunan dan tanaman keras oleh instansi pengelola sumber daya air BWSS I yang diwarnai pro dan kontra oleh masyarakat setempat. BWSS I juga telah menetapkan rencana penataan lahan bantaran kanal banjir Sungai Aceh (Desa Bakoi – Jembatan Lamnyong) dalam 5 zona. Pemanfaatan ruang publik yang baik adalah turut melibatkan aspirasi masyarakat, penyamaan tujuan dan persepsi antara pemerintah dan masyarakat sebagai pengguna penting untuk diteliti guna menghasilkan program pemanfaatan ruang bantaran sungai yang maksimal. Berdasarkan pengamatan akan setting lingungan dan aktivitas serta hasil wawancara, penulis menemukan bahwa program pemerintah diterima dengan sukarela oleh warga dengan beberapa kondisi serta terdapat beberapa aktivitas lain yang sudah sejalan dengan program pemerintah namun tidak berada pada zona yang direncanakan. Hasil penelitian mengusulkan alternatif program pemanfaatan ruang yang dapat dipertimbangkan untuk bahan kajian ke depan.Kata Kunci: pemanfaatan ruang, bantaran sungai, bantaran kanal banjir, sungai aceh
Optimalisasi Tata Ruang, Sarana dan Prasarana di Glee Siron untuk Meningkatkan Daya Tarik Pariwisata Hadinata, Teuku Eka Panny; Aidina, Faiza; Ariyanto, Agus
Jurnal SOLMA Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v15i1.21103

Abstract

Background: Desa Siron Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar yang teletak di Provinsi Aceh memiliki potensi besar untuk pengembangan wisata alam dikarenakan lahannya yang merupakan kombinasi pengunungan, savana dan sungai. Keberadaan Lokasi tersebut mulai dikenal melalui aktivitas komunitas camping dan telah menjadi salah satu destinasi wisata namun juga menghadapi tantangan terkait perencanaan tata ruang kawasan, keterbatasan fasilitas pendukung, serta perlunya penguatan keterlibatan masyarakat. Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk mendukung pengembangan wisata melalui perencanaan desain kawasan, penyediaan fasilitas dan sarana pendukung serta peningkatan kapasitas sumber daya masyarakat lokal. Metode: Metode yang digunakan Adalah pendeketan partisipatif dengan berkolaborasi melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dengan jumlah anggota 12 orang dan komunitas Siron Camp. Tahapan kegiatan mencakup empat tahapan yaitu tahap persiapan, perancangan, pembangunan fisik dan peningkatan kapasitas masyarakat melalui seminar dan workshop. Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan SDM Pokdarwis dalam hal pengelolaan, manajemen dan promosi kawasan wisata, serta adanya usaha mikro masyarakat seperti kuliner dan craft dalam menunjang kegiatan pariwisata. Kesimpulan: Secara keseluruhan, program ini digarapkan dapat menjadi strategi efektif dalam penguatan potensi pariwisata desa, kontribusi peluang ekonomi serta mendorong praktik wisata berbasis masyarakat dengan sifat gotong royong yang berkelanjutan.