Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PEMODELAN UI GREENMETRIC DI UIN ALAUDDIN MAKASSAR Fadhil Surur
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 11 No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v11i1.29753

Abstract

UI GreenMetric dinilai sebagai perangkat yang mengukur prinsip keberlanjutan pada institusi pendidikan tinggi dengan metode yang ilmiah dan mampu menentukan kebijakan keberlanjutan di universitas. Prinsip ini dapat digunakan untuk mengukur kesiapan UIN Alauddin Makassar sebagai kampus berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi nilai pemodelan UI GreenMetric di UIN Alauddin Makassar dan menyusun kebijakan pengelolaan kampus berdasarkan nilai UI GreenMetric. Jenis data yang dibutuhkan berupa data primer dan data sekunder yang diperoleh dari arsip data UIN Alauddin Makassar. Teknik analisis mencakup analisis skoring dari pendekatan UI GreenMetric dan Analisis Hierarki Proses untuk menentukan strategi kebijakan. Berdasarkan penilaian UI GreenMetric dapat diidentifikasi beberapa indikator telah diimplementasikan tetapi belum menyeluruh. Kendala utama yang dihadapi UIN Alauddin Makassar adalah pada indikator air dengan skor 0. Hasil pemetaan seluruh indikator diperoleh hasil 1875 atau hanya 18,75% syarat yang terpenuhi dari 6 indikator tersebut.
Urgensi Pengembangan Wisata dalam Perencanaan Wilayah di Pulau Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Fadhil Surur; Zulhinas Nyilam Cahya; Malikuddin Surgani Wahid
Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.akuatikisle.3.2.41-47

Abstract

Percepatan pemanfaatan berbagai potensi setiap daerah sangat perlu dilakukan untuk mewujudkan kemandirian daerah. Terdapat tiga kabupaten di Pulau Muna, Sulawesi tenggara  yang memiliki potensi karena kekayaan pesisir dan keberadaan pulau-pulau kecilnya akan tetapi pengelolaannya masih dilakukan secara parsial. Akselerasi perlu dilakukan pada keterpaduan pengelolaan objek wisata di pulau Muna untuk mewujudkan kemadirian ketiga daerah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kesamaan kebijakan pengembangan wisata dan potensi wisata unggulan serta menyusun arah kebijakan pengembangan wisata melalui pendekatan kekhasan wilayah geografis Pulau Muna. Penelitian dilakukan melalui survey lapangan dan penelesuruan dokumen perencanaan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan pendekatan mix metodh.  Analisis yang digunakan meliputi analisis konten, skoring dan deksriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pengembangan wisata di Pulau Muna telah diarahkan pada RTRW Kabupaten Muna dan RTRW Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai pengembangan ekowisata, sehingga Kabupaten Muna Barat dan Buton Tengah dapat mensinergikan konsep ekowisata tersebut dalam rencana tata ruangnya. Potensi wisata dapat diklasifikasikan pada kategori rendah dan sedang. Kategori rendah berada pada objek wisata Pulau Gala Kecil, sedangkan tiga belas objek wisata lainnya termasuk dalam kategori potensi sedang. Urgensi pengembangan objek wisata di Pulau Muna perlu mengedepankan konsep pengembangan ekowisata berbasis pesisir dan pulau-pulau kecil melalui percepatan pengelolaan objek wisata kategori sedang.
KELEMBAGAAN LOKAL DALAM PENGELOLAAN HUTAN DI DESA TANAH TOA KABUPATEN BULUKUMBA Fadhil Surur
Prosiding Seminar Nasional USM Vol 2, No 1 (2019): Semnas Multidisiplin Ilmu
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2258.771 KB)

Abstract

Prinsip berkelanjutan seharusnya mengakomodir berbagai bentuk kelembagaan dan kapital sosial yang berkembang di masyarakat, untuk menciptakan konektivitas (jaringan) akibat dari interaksi sosial dari beberapa lapisan masyarakat dalam kelembagaan lokal, norma dan aturan, serta kearifan lokal. Terdapat hubungan kerangka konseptual kelembagaan lokal dan kapital sosial, hubungan antara kelembagaan lokal dan kapital sosial dalam kerangka perencanaan partisipatif, selanjutnya akan mampu membangun kerangka keterikatan antara berbagai peraturan pembangunan dalam konteks kelembagaan lokal. Keterkaitan konseptual tersebut dihubungkant kasus tentang kelembagaan lokal masyarakat adat Ammatoa Kajang dalam kebijakan pengelolaan hutan di Kabupaten Bulukumba. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Seluruh tahapan analisis dilakukan dengan pendekatan deksriptif kualitatif. Pengelolaan hutan oleh komunitas adat Ammatoa di Kabupaten Bulukumba adalah sebuah upaya menempatkan kelembagaan lokal sebagai basis dalam perencanaan partisipatif. Sejak dari awal perencanaan, pelaksanaan, pengedalian dan evaluasi dimulai aksi-aksi kolektif yang terus menerus berputar dalam siklus pengembangan kelembagaan. Pada akhirnya kapital sosial akan membantu menjaga kelembagaan lokal berkelanjutan dan pada akhirnya membawa pada terjadinya perubahan sesuai dengan tujuan bersama.
Urgensi pengembangan wisata dalam perencanaan wilayah di Pulau Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara Fadhil Surur; Zulhinas Nyilam Cahya; Malikuddin Surgani Wahid
Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.akuatikisle.3.2.41-47

Abstract

Percepatan pemanfaatan berbagai potensi setiap daerah sangat perlu dilakukan untuk mewujudkan kemandirian daerah. Terdapat tiga kabupaten di Pulau Muna, Sulawesi tenggara  yang memiliki potensi karena kekayaan pesisir dan keberadaan pulau-pulau kecilnya akan tetapi pengelolaannya masih dilakukan secara parsial. Akselerasi perlu dilakukan pada keterpaduan pengelolaan objek wisata di pulau Muna untuk mewujudkan kemadirian ketiga daerah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kesamaan kebijakan pengembangan wisata dan potensi wisata unggulan serta menyusun arah kebijakan pengembangan wisata melalui pendekatan kekhasan wilayah geografis Pulau Muna. Penelitian dilakukan melalui survey lapangan dan penelesuruan dokumen perencanaan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan pendekatan mix metodh.  Analisis yang digunakan meliputi analisis konten, skoring dan deksriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pengembangan wisata di Pulau Muna telah diarahkan pada RTRW Kabupaten Muna dan RTRW Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai pengembangan ekowisata, sehingga Kabupaten Muna Barat dan Buton Tengah dapat mensinergikan konsep ekowisata tersebut dalam rencana tata ruangnya. Potensi wisata dapat diklasifikasikan pada kategori rendah dan sedang. Kategori rendah berada pada objek wisata Pulau Gala Kecil, sedangkan tiga belas objek wisata lainnya termasuk dalam kategori potensi sedang. Urgensi pengembangan objek wisata di Pulau Muna perlu mengedepankan konsep pengembangan ekowisata berbasis pesisir dan pulau-pulau kecil melalui percepatan pengelolaan objek wisata kategori sedang.
Urgensi pengembangan wisata dalam perencanaan wilayah di Pulau Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara Fadhil Surur; Zulhinas Nyilam Cahya; Malikuddin Surgani Wahid
Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.akuatikisle.3.2.41-47

Abstract

Percepatan pemanfaatan berbagai potensi setiap daerah sangat perlu dilakukan untuk mewujudkan kemandirian daerah. Terdapat tiga kabupaten di Pulau Muna, Sulawesi tenggara  yang memiliki potensi karena kekayaan pesisir dan keberadaan pulau-pulau kecilnya akan tetapi pengelolaannya masih dilakukan secara parsial. Akselerasi perlu dilakukan pada keterpaduan pengelolaan objek wisata di pulau Muna untuk mewujudkan kemadirian ketiga daerah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kesamaan kebijakan pengembangan wisata dan potensi wisata unggulan serta menyusun arah kebijakan pengembangan wisata melalui pendekatan kekhasan wilayah geografis Pulau Muna. Penelitian dilakukan melalui survey lapangan dan penelesuruan dokumen perencanaan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan pendekatan mix metodh.  Analisis yang digunakan meliputi analisis konten, skoring dan deksriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pengembangan wisata di Pulau Muna telah diarahkan pada RTRW Kabupaten Muna dan RTRW Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai pengembangan ekowisata, sehingga Kabupaten Muna Barat dan Buton Tengah dapat mensinergikan konsep ekowisata tersebut dalam rencana tata ruangnya. Potensi wisata dapat diklasifikasikan pada kategori rendah dan sedang. Kategori rendah berada pada objek wisata Pulau Gala Kecil, sedangkan tiga belas objek wisata lainnya termasuk dalam kategori potensi sedang. Urgensi pengembangan objek wisata di Pulau Muna perlu mengedepankan konsep pengembangan ekowisata berbasis pesisir dan pulau-pulau kecil melalui percepatan pengelolaan objek wisata kategori sedang.
TIPOLOGI DESA BERDASARKAN PENGGUNAAN LAHAN DI KECAMATAN BAJENG KABUPATEN GOWA Intan Nurlita; Khairul Sani Usman; Fadhil Surur; Muhammad Anshar
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 12 No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v12i1.40882

Abstract

ABSTRAK Kecamatan Bajeng adalah salah satu wilayah peri urban yang secara tata guna lahan terbagi atas lahan perkotaan di sektor perdagangan dan jasa dan lahan pertanian. Wilayah peri urban memberikan dampak negatif karena semakin berkurangnya lahan pertanian yang telah dikonversi menjadi lahan untuk permukiman atau aspek lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengatahui bagaimana tipologi wilayah Kecamatan Bajeng berdasarkan penggunaan lahan dan kepadatan bangunan serta bagaimana arah perkembangan wilayah berdasarkan tipologinya di Kecamatan Bajeng. Penelitian ini menggunakan analisis transformasi wilayah peri urban dan analisis kepadatan bangunan yang kemudian dilakukan overlay untuk mengabungkan bobot nilai dari setiap variabel sehingga kita dapat mengetahui tipologi wilayah peri urban di Kecamatan Bajeng. Hasil penelitian ini adalah Kecamatan Bajeng terdapat 2 Desa/Kelurahan klasifikasi Zobikodes yakni: Kelurahan Kalebajeng dan Desa Panciro, 9 Desa/Kelurahan klasifikasi Zobideskot yakni: Desa Bontosunggu, Desa Lempangang, Desa Bone, Kelurahan Mata Allo, Kelurahan Limbung, Kelurahan Tubajeng, Desa Tangkebajeng, Desa Panyangkalang dan Desa Paraikatte dan 3 Desa/Kelurahan klasifikasi Zobides yakni: Desa Maradekaya, Desa Maccinibaji dan Desa Pabentengan. Kata Kunci : Arahan Pengembangan, Kebutuhan, Sarana dan Prasarana
Kesesuaian Lahan Budidaya Rumput Laut Di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar Sri Wahyuni; Irsyadi Siradjuddin; Fadhil Surur
Juvenil Vol 6, No 4: November (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i4.28326

Abstract

ABSTRAKPemilihan desa Ujung Baji sebagai lokasi penelitian karena merupakan sentra pengembangan rumput laut di Takalar. Mayoritas masyarakat berkegiatan sebagai petani budidaya rumput laut. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Mengidentifikasi karakteristik kesesuaian lahan budidaya rumput laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar, serta 2) Memetakan kesesuaian lahan budidaya rumput laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar. Metode penentuan titik lokasi perairan dengan teknik random sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis skoring dan analisis overlay. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh Karakteristik kesesuaian lahan budidaya rumput laut di Desa Ujung Baji menunjukkan bahwa lahan yang berada pada perairan dalam merupakan lahan yang cukup sesuai untuk budidaya rumput laut, hal ini didukung oleh parameter suhu 27 oC – 28 oC, salinitas 28 ppt – 31 ppt dan substrat pasir dengan kisaran sangat sesuai, serta parameter kedalaman 2,9 – 3,3 m, kecerahan 2,5 – 3,1 m, dan pH 7,42 – 7,66 dengan kisaran cukup sesuai. Hasil pemetaan kesesuaian lahan budidaya rumput laut di Desa Ujung Baji menunjukkan bahwa luas lahan yang sesuai untuk pengembangan budidaya rumput laut yang ditinjau dari parameter-parameter pertumbuhan ekologis perairan menghasilkan dua kategori kesesuaian lahan rumput laut. Kategori lahan yang cukup sesuai untuk budidaya rumput laut ditandai dengan warna kuning yang memiliki luas 303,77 ha yang berada pada perairan dan kategori lahan tidak sesuai untuk budidaya rumput laut ditandai dengan warna merah yang memiliki luas 204,37 ha yang berada pada perairan dalam dari total luas lahan keseluruhan yaitu 508,14 ha. Kata Kunci: Kesesuaian lahan, budidaya, rumput laut, Desa Ujung BajiABSTRACTUjung Baji village was chosen as the research location because it is the center for seaweed development in Takalar. The majority of people work as seaweed farmers. The aims of this research are 1) Identifying the suitability characteristics of seaweed cultivation land in Ujung Baji Village, Sanrobone District, Takalar Regency, and 2) Map the suitability of seaweed cultivation land in Ujung Baji Village, Sanrobone District, Takalar Regency. Method for determining water location points using random sampling technique. The data analysis used is scoring analysis and overlay analysis. Based on the research results, it was found that the suitability characteristics of seaweed cultivation land in Ujung Baji Village show that land located in deep water is quite suitable land for seaweed cultivation, this is supported by temperature parameters of 27 oC - 28oC, salinity of 28 - 31 ppt and sand substrate. with a very suitable range, as well as depth parameters of 2.9 – 3.3 m, brightness 2.5 – 3.1 m, and pH 7.42 – 7.66 with a quite suitable range. The results of mapping the suitability of seaweed cultivation land in Ujung Baji Village show that the area of land suitable for developing seaweed cultivation in terms of aquatic ecological growth parameters produces two categories of seaweed land suitability. The land category that is quite suitable for seaweed cultivation is marked in yellow which has an area of 303.77 ha which is in waters and the land category which is not suitable for seaweed cultivation is marked in red which has an area of 204.37 ha which is in deep waters of the total area. The total land area is 508.14 ha. Keywords: Land suitability, cultivation, seaweed, Ujung Baji Village